Rasino, Guru Difabel Lestarikan Gamelan Dalam Kegelapan

PERISTIWA | 23 November 2019 05:05 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kedua tangannya memegang tabuh. Begitu lihai memainkan salah satu instrumen gamelan, gender. Pria ini hafal betul nada dan ketukan nada pentatonis. Lantunan nada gamelan menjadi warna dalam kegelapan hidupnya.

Dia adalah Rasino. Saat itu, Rasino sedang mengiringi siswa kelas 1 Jurusan Perdalangan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 8 Surakarta melaksanakan ujian pentas wayang kulit.

Saban hari Rasino menjadi pendidik untuk kelas Jurusan Perdalangan SMKN 8 Surakarta. Meski statusnya masih Guru Tidak tetap (GTT), dia tetap bergembira menjalani hari-harinya sebagai pendidik. Keterbatasannya sebagai penyandang difabel tunanetra tidak menyurutkan semangatnya menjalani peran sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Perjuangan Rasino menjadi guru tak kenal lelah. Sebelum dia menjadi guru SMKN 8 Surakarta, ia pernah menjadi guru di Sasana Rehabilitasi Penyandang Cacat Netra (SCPRN) Purworejo selama delapan tahun sejak 2003 hingga 2011. Dia melakoni tugas itu karena semata-mata karena keikhlasan hati yang begitu mulia. Padahal, jarak yang harus ditempuh Rasino lumayan jauh dari rumahnya di Ngringo, Palur, Karanganyar.

Rasino tak mengajar di Purworejo setiap hari. Hanya dua kali dalam sebulan harus bolak-balik Solo-Purworejo yang berjarak sekitar 110 kilometer. Sekali mengajar di Purworejo bisa tiga hari.

Dia sengaja mengambil pekerjaan itu untuk membiayai kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Walaupun awalnya hanya digaji Rp150.000 per bulan, tetapi Rasino tetap bersyukur dan tidak mengeluh dengan gaji kecil itu.

"Besar kecil honor yang kita terima itu relatif. Mensyukuri semua yang diberikan Allah. Yang terpenting niatnya ikhlas," ujar Rasino.

Selama mengajar di Purworejo, Rasino harus berjibaku untuk lulus dari kuliahnya di Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Belum lagi masalah keuangan yang menderanya. Menuntaskan kuliah adalah salah satu cita-citanya. Tak masalah meski dia menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 11 tahun.

"Sekolah tinggi, membantu saya menempa emosi. Difabel yang bersekolah tinggi bisa memiliki kepercayaan diri. Jadi difabel itu bukan menjadi beban orang lain," kata dia.

"Saya berangkat dari rumah di Palur (Karanganyar) jalan kaki ke terminal (sekitar 2 km). Lalu dari terminal ke Stasiun Balapan naik angkutan umum. Kemudian dari Balapan ke Purworejo naik kereta Prameks, " kata dia mengenang perjuangannya untuk tetap melestarikan gamelan tradisional.

1 dari 3 halaman

Hidup Rasino

Rasino lahir dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Ia tunanetra sejak lahir. Oleh keluarga, ia dimasukkan di SD-LB Purworejo. Tahun 1990-1992, dia menimba ilmu di SRPCN Purworejo. Mulai dari sini lah dia menggemari musik.

"Awalnya suka musik barat, ngeband gitu. Saya bisa main gitar, keyboard, bass, hingga piano. Lama senang musik modern, hati kecil berbisik, kok kalau saya senang musik ini, nanti lama-lama musik tradisional bisa hilang," kata Rasino yang lihai memainkan 15 instrumen gamelan ini.

Selepas dari SCRPN, dia melanjutkan sekolah di SMA Kretek 1 Bantul. Namun, karena kurang cocok, Rasino memilih pindah ke SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar. Setelah lulus, Rasino pun memutuskan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan memilih kuliah di Jurusan Karawitan ISI Surakarta.

Dia tidak ingin pilihan jalan hidupnya itu membebani orangtua. Sehingga untuk mencukupi biaya kuliahnya, dia kerja serabutan seperti menjadi tukang pijat dan lainnya.

"Saya ingin menunjukkan bahwa keterbatasan tak menghalangi saya untuk bisa mandiri," ujar lelaki kelahiran 17 Juli 1975.

Usai lulus dari ISI, dia harus berjibaku mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain. Dia menjadi guru honorer di SD Jagalan dan SLB A YKAB.

Sebelumnya, dia juga pernah menjadi pengajar di SD Kentingan dan SD Tugu Solo. Ia menjalani dengan keikhlasan. Bahkan, ia tetap jalan kaki dan naik bus untuk melaksanakan tugasnya menjadi guru.

"Gaji honorer waktu itu, Rp150 ribu per bulan untuk masing-masing sekolah. Biasanya saya mengajar sekali dalam sepekan," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Guru Tidak Tetap

Rasino mulai menemukan titik terang ketika istri pengelola sanggar dalang cilik Sarotama menawarinya untuk masuk menjadi pengiring gamelan di SMKN 8 Surakarta. Setelah itu, status karier pun naik menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) di sekolah yang dulunya bernama Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta.

"Alhamdulilah kemudian status saya meningkat menjadi GTT pada November 2015," ujar dia.

Dengan status pekerjaan sebagai pengajar tidak tetap di sekolah tersebut, kini Rasino lebih bersyukur, pasalnya gaji yang diterimanya juga tidak sekecil pada waktu masih mengajar di sekolah-sekolah sebelumnya. Bahkan, berkat honor sebagai guru gamelan itu di SMKN 8 Surakarta, kini Rasino sudah berhasil membeli rumah meskipun dengan cara kredit.

"Alhamdulillah dengan pekerjaan sebagai guru ini sekarang saya sudah punya rumah yang belum lunas alias perumnas. Lumayan lah gaji guru yang setara dengan UMR Provinsi ini sudah bisa untuk mencukupi kebutuhan dan membayar kredit rumah," ucapnya bangga.

Meskipun sudah mengajar di SMKN 8 Surakarta, Rasino juga masih mengajar gamelan di SLB YKAB Surakarta yang terletak di Jagalan, Jebres, Solo. Sebenarnya dia ingin melepas pekerjaan di sekolah tersebut, tetapi pihak pengurus SLB YKAB sangat berharap dia masih bergabung dengan tim pengajar di sekolah itu.

3 dari 3 halaman

Inspirasi Bagi Siswa

Walaupun memiliki keterbatasan tidak bisa melihat, tetapi Rasino mengaku selama menjadi guru di jurusan perdalangan ini belum pernah mengalami pelecehan dari para muridnya. Malahan mereka memberikan rasa hormat yang tinggi kepadanya. Alhasil, hubungan yang tercipta antara guru dan murid seperti halnya cinta kasih dan kasih sayang antara orangtua dengan anak.

"Sama sekali tidak (dilecehkan). Justru saya mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari para siswa SMK ini. Mereka itu benar-benar tidak menganggap remeh kepada saya. Justru menurut pengakuan mereka maupun civitas malah menganggap saya itu sebagai sumber inspirasi," ujar dia.

Dia bersyukur memiliki kemampuan menguasai permainan instrumen gamelan. Ini menjadi nilai tambah. Dengan kelebihan yang dimilikinya itu, Rasino tidak menjadi sombong tetapi malah kian menunduk dengan penuh kerendahan hati. Dia berharap dengan kemampuannya ini membuatnya bisa memberi manfaat untuk orang lain.

"Saya cuma ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain begitu saja. Jadi saya ingin setiap orang yang kenal dengan saya itu ada manfaat yang bisa diambil dari diri saya," harapnya.

Reporter: Fajar Abrori
Sumber: Liputan6.com (mdk/noe)

Baca juga:
Derita Penyakit Langka, Guru Balet Difabel Ini Mengajar Berkursi Roda
Semangat Anak-Anak Berkaki Satu di Gaza Latihan Sepak Bola
Bantu Jaga Taman Nasional Meru Betiri, Perempuan Difabel Dihadiahi Berangkat Umrah
Meniti Asa di Atas Kaki Palsu
Penyandang Disabilitas Gelar Pawai Berbaju Adat
Cerita Puji Lestari, Penyandang Disabilitas akibat Tabrak Lari