Hot Issue

Rela Berdesakan di Jalan Tiap Akhir Pekan, Apa yang Dicari di Puncak

Rela Berdesakan di Jalan Tiap Akhir Pekan, Apa yang Dicari di Puncak
Kepadatan Kendaraan Arah Puncak di Tol Jagorawi. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
NEWS | 11 Oktober 2021 08:16 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Gerombolan sepeda roda dua beringinan. Para penunggang lengkap mengenakan pelindung diri. Mulai dari helm, jaket rompi hingga sarung tangan.

Laju kendaraan mereka beriringan. Menyusui keramaian lalu lintas Kota Bogor. Dengan tujuan kawasan Puncak.

Bagi komunitas sepeda motor di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, kawasan Puncak menjadi salah satu tempat bersantai paling asyik. Mudah dijangkau dan udaranya sejuk. Meski sering kali terjebak dalam kemacetan. Tetapi kelelahan terbayar ketika menikmati indahnya pemandangan dari atas kawasan Puncak.

"Alhamdulillah sih gak bosan walaupun kadang kena macet. Malah sepekan bisa dua sampai tiga kali," cerita Eko, salah anggota klub motor.

Macet di Puncak buatnya hal biasa. Apalagi hanya mengendarai motor, masalah itu tidak terlalu berarti. Banyak jalur alternatif bisa dipilih.

Di Puncak, kata Eko, biasanya anggota klub motor hanya sekadar bersilaturahmi. Apalagi semasa pandemi, mereka sudah jarang berkumpul. Dalam obrolannya, mereka lebih banyak berdiskusi tentang motor. Walaupun kadang kala berujung jual beli sparepart.

"Sunmori ke Puncak intinya cuma sekedar have fun," kelakar karyawan swasta di bilangan Jakarta Selatan ini.

Kawasan Puncak menjadi salah satu destinasi wisata pegunungan warga Jabodetabek. Letaknya kira-kira 70 kilometer di Selatan Jakarta. Puncak menempati dua wilayah. Sebagian kawasannya berada di Kabupaten Bogor. Sebagian lagi milik Kabupaten Cianjur.

Sejuknya hawa di Puncak menjadi salah satu alasan orang-orang tak pernah bosan mendatanginya.

"Walaupun kadang macet, tapi seru aja apalagi kalau sore ke malam hawanya sejuk," cerita Hanin, warga Jakarta.

Hanin bercerita. Dalam satu bulan, minimal dua kali dia menjajal kawasan Puncak. Biasanya, dia mengendarai sepeda motor agar lebih cepat sampai ke tujuan. Biasanya, Hanin dan teman-temannya hanya sekadar nongkrong di warung perbatasan atau dikenal dengan istilah Warpat. Lokasinya ada di perbatasan Kabupaten Bogor-Kabupaten Cianjur.

"Lebih dapet vibesnya bareng teman-teman," katanya.

kepadatan kendaraan arah puncak di tol jagorawi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Hanin mengaku tidak bosan berulang kali menjajal Puncak. Sebab di Jakarta, selain tempat berkumpul hanya kafe dan mal, udaranya juga kurang mendukung.

"Jakarta gak ada tempat liburan sih, panas juga cuacanya. Mending jauhan sedikit ke Puncak."

Sejuknya udara Puncak memang membuat sebagian orang ketagihan berkunjung ke sana. Ikhsan Maulana mengaku bisa dua hingga tiga kali datang ke Puncak dalam sebulan.

Alasannya, hanya untuk menikmati kesejukan dan pemandangan pegunungan. Dia kerap datang bersama rekan-rekannya dengan berkonvoi sepeda motor. Untuk menghindari kemacetan, dia memilih berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.

Mau ngadem aja sama teman-teman, ngopi makan jagung bakar," katanya.

Liburan di Jakarta Membosankan

Kemacetan saban akhir pekan nyatanya tidak membuat kawasan Puncak sepi wisatawan. Bahkan selama pandemi, selama pandemi, masih banyak warga memilih Puncak untuk bersantai dengan keluarga.

Meski tidak memiliki banyak tempat wisata, hanya bersantai di penginapan sudah membuat para pelancong bahagia di Puncak. Mereka hanya ingin sekadar menikmati pagi dan sore yang sejuk. Yang tidak mungkin didapat di Jakarta dan sekitarnya.

"Inilah yang sebenarnya dirindukan warga Jakarta," kata pengamat tata kota, Nirwono Yoga, kepada merdeka.com.

Kondisi Jakarta yang panas, polusi tinggi, air tercemar hingga minimnya ruang terbuka hijau. Adalah alasan banyak warga meninggalkan ibu kota di akhir pekan. Mereka mencari udara sejuk dan segar untuk mendapatkan ketenangan setelah sepekan sibuk dengan rutinitas dan kemacetan.

"Di Puncak udara sejuk, segar, bebas polusi, di kelilingi hutan pepohonan dengan kicauan burung," katanya.

Ketua Forum Warga Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan, sepakat tempat wisata di Jakarta membosankan. Hanya mal, hotel, kawasan main Ancol. Sementara, udaranya tidak mendukung.

"Sehingga orang lari ke puncak," kata Tigor.

kepadatan kendaraan arah puncak di tol jagorawi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Namun diakuinya, seiring berkembangnya kawasan wisata di Puncak, alamnya sekitarnya turut menjadi korban karena alamnya diekploitasi demi kepentingan bisnis.

"Kalau Puncak dikelola dan diawasi betul, pasti bagus. Sebaliknya jika tidak dikendalikan akan menjadi parah," katanya.

Tigor berharap Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat bisa duduk bersama membahas konsep wisata di ibu kota. Aman, nyaman dan adil untuk semua kalangan.

Sudah selesai masa Jakarta membangun mal dan hotel. Saatnya Jakarta membangun karakter yang menjadi ciri khas, tidak sekadar wilayah konsumtif walaupun menjadi pusat perekonomian negara.

"Bangun karakternya, karakter kota yang beragam. Bukan kota yang hanya berpihak pada warga yang berduit," tegas Tigor.

Mengatasi Macet Puncak

Pemkab Bogor tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kemacetan di Jalur Puncak. Pasalnya, kewenangan atas jalan sepanjang 22 kilometer dari Simpang Gadog hingga Puncak Pass di bawah kendali Pemerintah Pusat.

Sejauh ini, rekayasa lalu lintas untuk mengurai kemacetan Jalur Puncak, hanya mengandalkan diskresi Polres Bogor dengan menerapkan sistem satu arah dan sudah berlangsung lebih dari 30 tahun.

Beberapa opsi rekayasa lalu lintas pernah dicoba. Seperti kanalisasi 2-1 dengan membagi jalan menjadi tiga lajur, dua untuk kendaraan mengarah ke atas dan satu ke bawah atau sebaliknya, sesuai kondisi.

Namun, uji coba itu menguap begitu saja karena tidak memberi dampak lebih buru. Karena menimbulkan banyak penyempitan jalan hingga kendaraan semakin tersendat.

kepadatan kendaraan arah puncak di tol jagorawi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Saat ini, sistem ganjil genap sedang diujicobakan sebulan terakhir dan akan terus dilakukan hingga Kementerian Perhubungan menerbitkan payung hukum terkait penerapan ganjil genap di Jalur Puncak.

Kapolres Bogor, AKBP Harun menilai, penerapan ganjil genap di Jalur Puncak berjalan cukup efektif meski tidak signifikan menurunkan jumlah kendaraan yang memasuki Puncak.

Harun mengungkapkan, selama penerapan ganjil genap di Jalur Puncak, kendaraan yang berhasil direduksi sekitar 10-15 persen setiap pekannya. Dia mencontohkan, rata-rata kendaran yang keluar dari gerbang Tol Ciawi sebanyak 40 ribu kendaraan. Kemudian, setiap pekannya sekitar 3.500 kendaraan diputar balik karena tidak sesuai dengan aturan ganjil genap.

"Semakin hari, semakin menurun yang direduksi dan berbanding lurus dengan jumlah kendaraan yang masuk. Karena mungkin sudah tersosialisasi kepada masyarakat," kata Harun.

Meski ganjil genap diberlakukan, kepadatan kendaraan kadang masih terjadi hingga kepolian harus melakukan diskresi dengan menerapkan sisten satu arah.

Bupati Bogor, Ade Yasin, menyebut salah satu penyebab kemacetan di Jalur Puncak tidak lain karena banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL), serta persimpangan di jalur tersebut.

Dia berdalih telah melakukan banyak penataan, seperti pembangunan rest area di kawasan Agro Wisata Gunung Mas, yang rencananya dapat menampung lebih dari 350 PKL.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada 2016 pelebaran pada beberapa titik di Jalan Raya Puncak juga telah dilakukan. Namun hal ini belum mampu membuat lancar lalu lintas di Puncak.

"Kadang-kadang ya yang bikin macet itu wisatawan yang mengendarai motor, lalu hanya sekedar menikmati pemandangan pegunungan di pinggir jalan tidak masuk ke area-area wisata. Sehingga terjadi penumpukan di badan jalan," kata Ade.

Di sisi lain, Ade Yasin sangat meyakini pembangunan Jalan Poros Tengah Timur atau Puncak II, yang akan mampu menurunkan volume kendaraan di Jalan Raya Puncak eksisting.

"Karena banyak juga pengguna jalan yang ingin ke Bandung atau Cianju menggunakan jalur ini. Dengan Puncak II, yang mau ke Bandung atau Cianjur bisa lewat Puncak II, masuknyanya lewat Sentul nanti," kata Ade.

Bahkan, Ade menyebut jika Puncak II terbangun dapat menurunkan volume kendaraan di Jalan Raya Puncak hingga 50 persen. Namun, untuk membangunnya, Pemkab Bogor tidak memiliki biaya.

"Kebutuhan anggarannya sekitar Rp2 triliun untuk jalannya saja. APBD kita tidak mampu, maka saya dorong terus ke pemerintah pusat agar Puncak II jadi program strategis nasional," katanya. (mdk/fik)

Baca juga:
Minggu Siang Jalur Puncak Kembali Padat, Polisi Berlakukan Satu Arah
Tabrakan Beruntun di Cisarua Gara-Gara Sopir BMW Hilang Konsentrasi
Polisi Uji Coba Sistem Satu Arah di Jalur Puncak Bogor
Ramai-Ramai Ingin Puncak II Segera Dibangun
Mengintip Keelokan Nanggung, Tempat Wisata Baru di Bogor dengan Kebun Teh Luas
Di Tengah Penerapan Ganjil Genap, Ade Yasin Singgung Jalur Puncak II

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami