Ribuan Warga di 18 Desa Pulau Taliabu Terdampak Banjir

Ribuan Warga di 18 Desa Pulau Taliabu Terdampak Banjir
PERISTIWA | 30 Juli 2020 17:23 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Banjir melanda Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara pada Kamis, (30/7). Ada 18 desa yang tergenang air dan lebih dari seribu warga yang terdampak akibat banjir tersebut.

"Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB mendapatkan laporan kejadian tersebut telah berdampak pada lebih dari seribu warga. Sedikitnya 18 desa terdampak genangan air yang dipicu intensitas hujan lebat," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, Kamis (30/7).

Dia menuturkan, berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu, hujan mengakibatkan debit air sejumlah sungai meluap.

Luapan air sungai terpantau di sejumlah sungai yang melewati beberapa titik desa, antara lain Sungai Samada, Sungai Wakau, Sungai Balohang, Sungai Gela, Sungai Wayomiha, Sungai Pencado, Sungai Ratahaya, Sungai Suliname dan Sungai Air Minggu.

Lebih dari seribu rumah yang tersebar di lima kecamatan, yakni Taliabu Barat, Taliabu Barat Laut, Lede, Taliabu Utara dan Taliabu Selatan, tergenang air akibat banjir.

"Desa dengan jumlah rumah paling banyak terendam air adalah Desa Bobong 406 rumah," ujar Raditya.

Selain itu, desa-desa lain terdampak banjir di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu adalah Desa Ratahaya 138 rumah, Kilong 87, Wayo 84, Nggele 84, Tikong 80, Salati 66, Nggaki 60, Onemai 53, Bahu 36, Beringin 35, Padang 15, Lede, Natang Kuning, Langganu, dan Gela masing-masing 10, Pencado 4 dan Balohang 2.

Raditya mengatakan, data kaji cepat BPBD setempat mencatat satu unit rumah terbawa banjir di Desa Pencado, Kecamatan Taliabu Selatan. Tak hanya rumah, bangunan pasar rakyat di desa yang sama hanyut karena derasnya banjir. Sedangkan infrastruktur lain, 4 jembatan rusak di Kecamatan Taliabu Barat.

Pascabanjir, BPBD telah melakukan upaya darurat seperti kaji cepat dan perbaikan jembatan rusak dengan jembatan darurat yang terbuat dari kayu. Jembatan rusak tersebut berfungsi untuk mendukung aktivitas warga ke ibu kota kabupaten.

"BPBD Kabupaten Pulau Taliabu membutuhkan dukungan logistik bantuan terhadap warga terdampak," kata dia.

Raditya menambahkan, melihat prakiraan hujan dasarian III Juli 2020, wilayah kabupaten ini berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Masyarakat tetap diimbau waspada dan siap siaga terhadap potensi hujan dengan intensitas lebat hingga awal Agustus 2020.

"Hujan lebat dengan durasi lama dapat menjadi salah satu indikator pemicu banjir," pungkasnya. (mdk/fik)

Baca juga:
Pemkab Bogor Tak Punya Uang Tertibkan Bangunan Liar di Puncak
1.119 Kepala Keluarga di Aceh jaya Terdampak Banjir
DPRD DKI Nilai Program Penanggulangan Banjir Bagian Pemulihan Ekonomi
Usai Dapat Pinjaman Rp 12,5 T, Pemprov DKI akan Lanjutkan Program Penanganan Banjir
BMKG Imbau Warga Sigi dan Morowali Utara Waspada Bencana Banjir dan Longsor

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami