Ribuan Warga Mengungsi Akibat Banjir Besar Samarinda

PERISTIWA | 15 Januari 2020 12:36 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Banjir hingga 1 meter masih merendam sebagian besar kawasan Samarinda, di 3 kecamatan, di hari ketiga ini. Bahkan, kian meluas. Warga terus mengungsi sejak Rabu (15/1).

Kawasan Bengkuring di Sempaja Timur kecamatan Samarinda Utara, kelurahan Gunung Lingai dan kelurahan Temindung Permai, di kecamatan Sungai Pinang, jadi kawasan terparah banjir.

Satu per satu, warga baik itu lansia hingga balita terpaksa harus mengungsi menggunakan perahu karet. Sebab, ketinggian air terus merangkak naik usai hujan deras Selasa (14/1) siang kemarin, sampai pagi ini.

Banyak alasan warga mengungsi. Selain air banjir semakin tinggi, mereka juga diliputi kekhawatiran kehabisan logistik. Di samping itu, permukiman yang terendam sudah gelap gulita lantaran PLN harus memadamkan listrik.

"Benar. Kami juga sudah anjurkan warga mengungsi, kalau kondisi seperti itu. Sementara ini, sudah didirikan dapur umum di 2 lokasi. Di kantor Kelurahan Temindung Permai, dan di Bengkuring, dan juga petugas medis sudah membantu tangani warga," kata petugas Pusdalops BPBD Kaltim, Muriono kepada merdeka.com, Rabu (15/1).

Hari ini, melalui BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Balikpapan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat disertai petir yang terjadi di Samarinda.

"Karena selain rumah, fasilitas umum seperti sekolah, juga terendam. Kami terus koordinasikan dengan BPBD Kota Samarinda, untuk menginventarisir semua fasilitas umum yang terendam banjir," kata Muriono.

1 dari 3 halaman

Sementara, dari data dihimpun relawan gabungan se-Samarinda, sementara hingga pukul 08.15 WITA pagi tadi, korban banjir bertambah menjadi 7.483 jiwa, dari 2.731 kepala keluarga. Angka itu bertambah dari 5 ribuan jiwa, Selasa (14/1) kemarin.

Korban banjir tersebar di kecamatan Sungai Pinang, kecamatan Samarinda Utara, kecamatan Palaran, hingga kecamatan Samarinda Ulu. "Benar. Sekarang ini, tim relawan, juga BPBD menyebar ke semua lokasi banjir, utamanya menyiapkan perahu karet. Memang benar, selain banjir, juga ada kejadian longsor di beberapa lokasi di Samarinda," kata salah satu koordinator relawan Info Taruna Samarinda (ITS) Joko Iswanto.

Untuk diketahui, banjir kali ini, disebabkan hujan deras merata yang nyaris terjadi sepanjang hari, di hari Sabtu (11/1) lalu. Imbasnya, debit Bendungan Benanga berada di level waspada, dan mengakibatkan DAS Karang Mumus meluap.

2 dari 3 halaman

Catatan merdeka.com, banjir di 3 kecamatan Samarinda Utara, Sungai Pinang dan Samarinda Ulu, merendam ribuan rumah warga di bulan Juni 2019 lalu. Tercatat, korban terdampak banjir 56 ribu jiwa, dan memaksa Pemkot menetapkan masa tanggap darurat 2 pekan. Banjir hingga 1,5 meter saat itu, melumpuhkan sebagian besar aktivitas ekonomi Samarinda.

Banjir kembali terulang di bulan Desember 2019. Tidak kurang 500 rumah terendam hingga 1 meter. Kedua banjir di tahun 2019 itu, disebabkan luapan DAS Karang Mumus, menyusul peningkatan debit Bendungan Benanga yang berada di atas normal.

3 dari 3 halaman

Korban Banjir Kelaparan

Warga yang bertahan meski rumah terendam, mulai kelaparan. Secara swadaya terpaksa harus memasak, memanfaatkan bahan makanan tersisa yang bisa disajikan, dan dimakan bersama-sama warga korban banjir, di kawasan yang lebih tinggi.

"Kita bertahan tinggal, karena jaga lingkungan. Soalnya kalau malam gelap, dan warga sudah banyak mengungsi. Jadi rumah kosong," kata Yusuf, warga RT 07 Gunung Lingai, ditemui merdeka.com.

Tiga hari ini, menurut Yusuf, belum ada bantuan logistik sajian makanan dari pemerintah, meski melalui pemerintah kelurahan Gunung Lingai.

"Baru hari ini, ada bantuan makanan dari ormas, berupa nasi bungkus," ujarnya.

"Bantuan air mineral pun, tidak ada kami terima. Kondisi sekarang kan sudah susah masak air. Belum lagi, kehabisan bensin buat hidupin mesin genset," tambah Yusuf.

Warga RT 07 lainnya, Fahri menerangkan, air banjir hari ini, cukup mengherankan. Sebab, kemarin air banjir berwarna bening kecokelatan, murni dari air sungai dari Bendungan Benanga.

"Kalau sekarang ini, air kecokelatan lumpur. Ini air darimana masuk ke banjir?" kata Fahri heran.

(mdk/fik)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.