Ricuh Eksekusi Lahan di Enrekang, Wakapolres Terluka Kena Lemparan Batu

Ricuh Eksekusi Lahan di Enrekang, Wakapolres Terluka Kena Lemparan Batu
ilustrasi garis polisi. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 7 Maret 2022 20:06 Reporter : Ihwan Fajar

Merdeka.com - Proses eksekusi lahan sengketa di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang berakhir ricuh. Wakapolres Enrekang, Komisaris Polisi Ismail H Purwanto sampai terluka akibat terkena lemparan massa yang menolak eksekusi lahan.

Kapolres Enrekang, Ajun Komisaris Besar Polisi Arief Doddy Suryawan membenarkan jika Wakapolres Enrekang terluka saat ricuh pengamanan eksekusi lahan di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja. Arief mengungkapkan, Ismail mengalami luka bagian telinga karena terkena lemparan batu.

"Iya, di bagian daun telinganya tadi. Saya sempat tanya dan sempat terkena (lemparan batu) beliau," ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (7/3).

Arief menjelaskan, kronologi terjadinya ricuh saat pengamanan eksekusi lahan berawal saat massa yang menentang melakukan orasi. Arief mengatakan, kelompok yang menentang eksekusi lahan tersebut melempari personel kepolisian yang bertugas melakukan pengamanan.

"Kronologi massa yang menentang itu melakukan orasi. Mereka menentang dan juga melempari batu," ungkapnya.

Tak hanya melempar batu, massa juga membakar satu unit motor. Padahal, kata dia, pihaknya masih melakukan negosiasi dengan perwakilan warga yang menolak eksekusi lahan tersebut.

"Jadi pada saat melakukan negosiasi, mereka membakar motor dan melempari kami. Sehingga kami melakukan tindakan tegas kepolisian dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa," bebernya.

2 dari 3 halaman

Arief mengaku belum mengetahui siapa yang membakar motor tersebut. Tidak hanya itu, polisi juga belum mengetahui plat kendaraan yang dibakar tersebut.

"Itu yang kami belum tahu, karena saat kami bernegosiasi tiba-tiba ada didorong motor yang dalam kobaran api. Kami belum tau siapa dan plat motornya apa," tegasnya.

Arief menambahkan atas kejadian tersebut, pihaknya mengamankan dua orang yang diduga sebagai provokator. Polisi masih melakukan pendalaman terkait masalah tersebut.

"Sementara ini masih dua orang diamankan dan kita kembangkan," tuturnya.

Arief mengaku saat ini kondisi di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja sudah kondusif. Ia menyampaikan agar warga tidak perlu takut untuk melintas di tempat tersebut.

"Sudah aman sejak tadi sore. Lalu lintas juga sudah kita buka, mungkin ada masyarakat yang takut masih massa yang berkumpul sehingga tidak berani melintas," ucapnya.

Sementara itu, Penasihat hukum warga pemilik lahan, Ida Hamida mengaku curiga ada pihak yang memprovokasi warga sehingga melempar polisi saat pengamanan eksekusi lahan. Padahal, dirinya sudah mengingatkan kepada kliennya untuk tidak anarkis karena masih menempuh proses hukum lainnya.

"Kami curiga ada yang memprovokasi sehingga mereka melempar. Kami sudah sampaikan agar tidak terpancing," ujarnya kepada wartawan.

3 dari 3 halaman

Duduk Perkara

Ida mengaku sudah mendapatkan informasi terkait adanya dua orang warga yang ditangkap polisi. Kini keduanya, kata Ida, sudah berada di Polres Enrekang.

"Iya, ada dua orang yang diamankan. Ini kami sementara menuju ke Polres," bebernya.

Ida mengungkapkan, penolakan warga atas eksekusi lahan terjadi setelah adanya putusan Pengadilan Negeri Enrekang tentang perkara lahan seluas 4 ribu meter persegi di Desa Bubun Lamba.

Ia mengungkapkan tanah seluas 4 ribu meter persegi tersebut merupakan milik tujuh kliennya yakni Taro Tajang, Ansyar, Mamu, Dedi, Jamal, Hasanuddin, Darmince, dan Nasruddin.

"Kami menolak eksekusi lahan ini karena mereka ini memiliki sertifikat (hak milik) sejak tahun 2004. Ada banyak kejanggalan dalam putusannya sehingga kami meminta PN Enrekang untuk menunda (eksekusi lahan) sampai upaya hukum yang kami lakukan selesai," tegasnya.

Ida mengungkapkan, lahan 4 ribu meter persegi tersebut digugat oleh tiga orang yakni Hj Saddia, Satiah, dan Sadaria. Mereka bertiga, kata dia, merupakan anak dari Bangun yang mengaku sebagai ahli waris lahan tersebut.

"Yang gugat ini mengaku tanah itu milik mereka karena ada hibah dari Baddu Sabang, tapi tidak ada alas haknya. Dasar mereka itu Surat Keterangan Penyerahan Bidang Tanah ter tanggal 8 September 1978, diberikan secara hibah oleh Baddu Sabang," ucapnya.

(mdk/rnd)

Baca juga:
Penjelasan Kapolda Lampung Soal Bentrok Warga dan PT H di Tulang Bawang
Sidang Lanjutan: Ahli Tegaskan Sertifikat Bukti Kepemilikan Tanah yang Sah
Danpuspomad: Brigjen Junior Tumilaar Diduga Sengaja Tidak Taati Perintah Dinas
Fakta di Balik Penyegelan PAUD-TK Probolinggo, Anak-anak Terpaksa Belajar di Teras
Polisi: Tidak Ada Warga Desa Wadas Jadi Tersangka
Polisi Kembali ke Desa Wadas: Dampingi Tim BPN Lakukan Pengukuran Lahan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami