RKUHP Disepakati, Anak Bisa Laporkan Orang Tuanya yang Berzina

PERISTIWA | 16 September 2019 12:16 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Anggota DPR Komisi III Arsul Sani menjelaskan beberapa pasal yang diperjelas dalam pembahasan terkahir Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP). Tujuannya supaya tidak lagi menjadi pasal karet. Beberapa pasal tersebut adalah delik terkait kesusilaan yaitu perzinaan, kumpul kebo, perbuatan cabul dan hubungan sesama jenis.

"Contoh harus diperjelas, tadi malam misalnya pasal-pasal yang terakhir kami bahas itu adalah pasal-pasal yang terkait dengan delik kesusilaan. Perzinaan, kumpul kebo, begitu ya, dan kemudian perbuatan cabul. Termasuk yang melibatkan sesama jenis," kata Arsul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (16/9).

Arsul menjelaskan, pembatasan dalam perzinaan dan kumpul kebo menjadi delik aduan. Pihak yang mengadu dalam KUHP baru diperluas dari hanya suami atau istri, di tambah orangtua dan anak untuk perzinaan. Sementara, untuk kumpul kebo pihak kepala desa atau lurah setempat bisa melaporkan dengan alasan pihak yang dirugikan adalah masyarakat sekitar.

"Hanya yang mengadu diperluas dari KUHP yang ada sekarang. KUHP yang ada sekarang kan kalau perzinaan (yang bisa mengadukan) hanya suami atau istri. Ini kita perluas menjadi orang tua dan anaknya," kata dia.

Arsul mengklaim pasal tersebut diperjelas supaya tidak terjadi penghakiman sosial.

"Coba kalau enggak ada pasal itu, diselesaikan sendiri, dipersekusi. Kalau ini mau dipersekusi kan polisinya bisa nindak 'eh lu enggak boleh main hakim sendiri, ada aturannya ini, pasal itu'," ujar kata dia.

Baca juga:
DPR dan Pemerintah Tuntaskan Pembahasan RUU KUHP
Aksi Massa Tolak RUU KUHP di CFD
Pidana Korporasi di RKUHP Dinilai Kontraproduktif dengan Visi Jokowi
PSI Tolak Pengesahan RKUHP: Membunuh Kebhinekaan
AJI Hingga LBH Pers Tolak Pasal di RKUHP yang Ancam Kebebasan Pers

(mdk/bal)