Rocky Gerung Nilai Polri Harus Kerja Sama Institusi Lain untuk Ungkap Kasus Novel

PERISTIWA | 23 Juli 2019 15:44 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) Rocky Gerung sebut pengungkapan kasus teror air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sengaja dibuat rumit.

Apalagi Polri sudah membentuk tim untuk mengusut kasus tersebut namun hasilnya nihil. Kemudian dibentuk lagi tim pencari fakta (TPF) untuk mengusut kasus tersebut.

"Kelihatan dari awal dibikin rumit prosedurnya. Jadi itu soalnya rakyat dibuat jengkel. Jadi tim buat tim, nanti timnya buat tim lagi," ujar Rocky di Gedung Penunjang KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019).

Dia mengatakan, untuk mengungkap pelaku maupun dalang penyerangan air keras terhadap Novel dibutuhkan kerja sama dengan intitusi lain selain Polri.

"Kalau biasanya kan polisi yang tangani kan. Jadi tim pencari fakta dibentuk karena variabel standart, tidak mungkin dipakai ‎untuk membongkar kasus. Makanya dibikin tim pencari fakta, mesti ada unsur lain selain polisi (untuk mengungkap)," kata dia.

Sebelumnya, Polri optimistis dapat memenuhi keinginan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk mengungkap kasus penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dalam waktu tiga bulan. Terlebih, Polri telah memiliki bekal hasil investigasi tim pencari fakta kasus Novel.

"Kita tetap optimistis. Sejak awal kejadian 11 April itu kita melakukan penyelidikan sehingga ada masukan dari pemerintah dan Komnas, kita membuat TPF. TPF sudah melakukan hal terbaik sesuai kapasitasnya," tutur Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019).

Menurut dia, tim teknis pemburu tiga terduga pelaku penyerang Novel Baswedan yang memiliki masa kerja selama enam bulan itu akan bekerja sesuai evaluasi dan rekomendasi Tim Pencari Fakta (TPF).

"Sebagai arahan Pak Presiden mudah-mudahan tim teknis bekerja secara maksimal," jelas dia.

Sejauh ini, lanjut Asep, kasus Novel Baswedan menjadi salah satu perkara yang cukup sulit diungkap. Penyidik mesti terus menggali dan mendalami berbagai barang bukti, keterangan saksi, hingga mencari data baru yang notabene sukar didapat.

"Pak Presiden juga sudah mengungkapkan bahwa beliau mendapatkan informasi kasus ini cukup rumit. Ada beberapa kendala, kesulitan kita terkait saksi di TKP dan sekitarnya. CCTV sampai ke AFP belum juga maksimal, bukti elektronik, karena terkendala kualitas CCTV," Asep menandaskan.

Baca juga:
WP KPK Minta Jokowi Pantau Perkembangan Kasus Novel Baswedan Sampai Tuntas
Diultimatum Jokowi, Polri Optimis 3 Bulan Ungkap Kasus Penyerangan Novel Baswedan
Polri Kantongi Bukti Awal, JK Yakin 3 Terduga Penyerang Novel Baswedan Tertangkap
Tuntaskan Kasus Novel Baswedan, Jokowi Beri Waktu Tim Kapolri 3 Bulan
Busyro Desak Jokowi Bentuk TGPF untuk Tuntaskan Kasus Novel
Bantah TGPF, Ketua KPK Tegaskan Kewenangan Novel Sebagai Penyidik Selalu Dikontrol

(mdk/ded)