RSJ Grogol Minta Perusahaan Penyalur Tindak Tegas Sekuriti Marahi Pasien

PERISTIWA | 12 Desember 2019 18:44 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dokter Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat, telah melaporkan penganiayaan dilakukan seorang petugas keamanan terhadap salah satu pasien bernama Fiki (27), kepada perusahaan penyalur jasa keamanan. Sekuriti itu menganiaya Fiki saat hendak mengamankannya usai kabur dari rumah sakit.

"Kita sudah menyampaikan ke perusahaan (yang pekerjakan sekuriti) secara lisan kemarin itu untuk sementara tidak usah petugas itu ada di rumah sakit. Karena kita menilai tindakan itu tidak sesuai dengan SOP bahwa yang dihadapi itu pasien bukan seseorang yang karena kemauan bebasnya untuk melakukan itu," kata Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Dokter Soeharto Heerdjan, Laurentius Panggabean saat ditemui merdeka.com di RSJ Dokter Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat, Kamis (12/12).

"Tapi memang itu proses dari atau bagian dari pihak kita. Jadi kita tidak bisa menyamaratakan atau tidak membuat dia itu seperti orang yang lain tidak memiliki gangguan," sambungnya.

Pihak RS pun berharap perusahaan penyedia jasa keamanan itu menindak tegas sekuriti tersebut. Tindakan tegas terhadap sekuriti tersebut guna mencegah kejadian serupa terulang.

"Ya kita enggak langsung kepada individu (masih dipakai RSJ kalau mengubah perilaku), apakah individu itu akan dipakai. Tapi kalau dia hasilnya dipakai kan berarti seolah-olah tidak ada perhatian, perubahan. Kalau misalkan ini menjamin bahwa tidak akan terjadi lagi, walaupun dengan orang yang sama ya itu terserah perusahaan. Kalau seandainya terjadi, itu pun jadi mencederai kerjasama kita," kata dia

Pihak RS juga tak akan menolerir siapa pun pegawai melakukan kekerasan terhadap para pasien RSJ yang sedang melakukan pengobatan atau pemulihan.

"Kita tidak mentolerir kekerasan kepada pasien. Pasien itu tidak akan berubah kalau dia dikerasi, justru dengan perhatian dan kasih sayang itu membuat dia lebih nyaman dan lebih mudah dimengerti daripada kita melakukan kekerasan kepada dia," tegasnya.

Atas kejadian tersebut, pihaknya akan melakukan introspeksi. Apakah kurangnya informasi terhadap para pekerja yang bekerja di RSJ untuk tidak melakukan kekerasan terhadap pasien.

"Kami juga menginstropeksi, apakah ada kekurangan kita di dalam menyampaikan informasi tentang tidak bolehnya kekerasan itu, kita introspeksi apakah memang itu sudah kita sampaikan cukup baik atau memang kondisinya begitu bahwa petugas tersebut memakai cara-cara seperti itu untuk mengatasi permasalahannya. Tetapi, bagi kita itu tidak dibenarkan," ungkapnya.

1 dari 1 halaman

Psikotes Bagi Sekuriti di RSJ

Agar kasus tersebut tak terulang kembali, ia ingin adanya test secara psikologis terhadap para pekerja terutama security yang bekerja di RSJ. Karena, pihaknya tidak ingin ada yang bekerja di RSJ yang memiliki kecenderungan kekerasan terutama terhadap pasien.

"Sebenarnya kita bisa melakukan test secara psikologis, tapi itu tadi. Kita tidak bisa, itu kan perusahaan bukan kita. Tapi seandainya pun itu harus kita lakukan, kita akan bisa lakukan dan bekerjasama dengan perusahaan agar bisa yang akan diterima dia mempunyai kemampuan seperti itu. Mungkin saya tidak tahu di tempat-tempat lain, hal-hal seperti itu mungkin dibutuhkan. Misalnya hal apa yang membutuhkan orang yang lebih tegas," tandasnya. (mdk/gil)

Baca juga:
Dirut RSJ Sebut Pasien yang Dianiaya Sekuriti Menderita secara Psikis
Kasus Penganiayaan Pasien RSJ Grogol oleh Petugas Sekuriti Berakhir Damai
Fakta di Balik Video Viral Pasien RSJ Grogol yang Dianiaya Petugas Sekuriti
Masalah Pribadi, Anggota TNI Tikam Personel Polres Pamekasan
Syamsul Dikeroyok Teman Hingga Tewas Gara-gara Tabung Gas Hilang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.