Rumah digusur, eks atlet senam nasional ini jadi 'gelandangan'

PERISTIWA | 7 Agustus 2015 16:30 Reporter : Andrian Salam Wiyono

Merdeka.com - Waktu menunjukkan tepat pukul 13.00 WIB. Terik matahari menghampar di puing-puing yang sudah dibumiratakan Pemerintah Kota Bandung, di kawasan Kelurahan Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Ketika merdeka.com menghampiri kawasan yang semula padat penduduk itu, terdapat sesosok pria bernama Amin Ikhsan (42). Ya, mantan atlet senam nasional itu hanya bisa meratapi nasib, melihat rumah yang sudah ditempati selama 42 tahun tak lagi tersisa, semua rata dengan tanah.

Sudah tiga hari ke belakang Amin menjadi 'gelandangan' di kawasan yang membesarkannya tersebut. Berdiri sebuah tenda reyot yang hanya ditutup terpal. Kasur tersedia kala malam tiba. Ya, Amin kini sementara waktu tinggal di tempat tersebut sampai nasibnya jelas.

Tak masalah matahari menyengat tubuhnya atau hujan yang membasahi. Yang diminta hanya kejelasan, ihwal ganti rugi yang harus dilakukan Pemkot Bandung.

Dia ingat betul, kejadian pada Rabu (5/8) siang tersebut. Alat berat menghantamkan setiap bangunan yang ada di kawasan tersebut. Tiga bangunan yang dimiliki di atas lahan 192 meter persegi kini rata dengan tanah.

"Tiga bangunan yang sudah 42 tahun ditempati oleh orangtua saya dihancurkan. Itu ada rumah saya, studio musik, dan dua kamar kos yang disewakan," ucap Amin membuka perbincangan dengan merdeka.com, Jumat (7/8) siang.

Tangan Amin saat itu tampak terus memegangi perutnya. Dia seperti mengeram kesakitan. Ternyata dia mengakui, penyakit gagal ginjal sudah dialami sejak 10 bulan ke belakang. Sejak sakit itulah Amin kini menggantungkan nasibnya pada usaha rumahan dengan menyewakan indekos dan studio musik.

"Saya sudah berhenti jadi atlet senam. Terakhir saya ikut Porda di Bekasi 2014. Saya paksakan untuk ikut ajang Porda. Tapi setelah itu saya jatuh pingsan, dan ternyata badan saya bengkak-bengkak kemudian dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.

Torehan prestasi mentereng di Asia pernah diraih pria kelahiran Bandung Januari 1973 silam. Dia pernah menempati posisi ke-7 atlet terbaik Asia dalam ajang Suzuki World Cup di Jepang pada tahun 2000. Belum lagi raihan emas dalam ajang setiap PON dan Porda.

"Saya pasti sumbang emas di ajang PON dan Porda, rata-rata dua. Terakhir kemarin di Bekasi saya tidak bisa, karena kondisi sakit," ungkapnya.

Apa daya, tubuh yang semula bisa beraktivitas berat, kini harus diurungkan. Dia hanya bisa tergolek lemas di rumah. Bekerja berat dikit, badan drop. Aktivitas cuci darah dilakukan sepekan tiga kali.

"Jika tidak badan saya bengkak-bengkak. Karena ginjal juga sudah tidak berfungsi," kisah pria berkaca mata ini.

"Sekarang cobaan datang lagi, rumah saya sudah rata dengan tanah. Istri dan dua anak saya diungsikan ke rumah neneknya di kawasan Cibiru," terangnya menambahkan. Dia akan terus bertahan di rumah sementaranya itu sampai ada kejelasan penggantian rugi lahan oleh Pemkot Bandung.

Informasi dihimpun, total ada sekitar 13,5 hektar yang diambil alih Pemkot Bandung. Di situ terdiri dari ratusan rumah, dan beberapa pabrik serta tempat usaha.

Kawasan tersebut memang akan direvitalisasi Pemerintah Kota Bandung untuk didirikan apartemen, rusunawa dan ruang terbuka hijau (RTH). Rencana revitalisasi itu sudah dilakukan sejak 1990 di bawah komando Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi.

Kesepakatan kontrak tersebut sudah ditandatangani Pemkot Bandung dengan PT Mega Candra Purabuana.

(mdk/cob)