Saat Menginap dengan Fera, Prada DP Pakai Nama Samaran

PERISTIWA | 8 Agustus 2019 19:00 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Sidang pembunuhan Fera Oktaria (21) dengan terdakwa pacarnya sendiri, Prada DP (22) di Pengadilan Militer I-04 Palembang kembali berlanjut. Oditur menghadirkan beberapa orang saksi untuk memberikan keterangan di hadapan majelis hakim.

Para saksi merupakan pengelola penginapan Sahabat Mulya di Sungai Lilin, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mereka adalah Arafik (penjaga malam), Wiwin Safitri (kasir), dan Nurdin (petugas kebersihan).

Arafik mengatakan, dirinya sedang tertidur di depan penginapan saat terdakwa tiba. Dia terbangun karena terdakwa dan korban mengetuk kaca untuk menginap.

"Mereka datang pukul dua dini hari, bawa motor warna merah muda. Mereka saya antar ke kasir untuk administrasi menginap," ungkap Arafik di persidangan Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (8/8).

Sementara Wiwin menuturkan, tersangka menuliskan nama Doni saat memesan kamar. Saksi awalnya meminta kartu identitas namun keburu waktu sudah dini hari sehingga ditunda.

"Terdakwa pakai nama Doni, alamat Karang Agung P13 Banyuasin, saya tidak tahu apa asli atau tidak karena saya minta nama dan alamat saja. Terus saya kunci nomor 06," kata dia.

Sore harinya atau Rabu (8/5), saksi melihat terdakwa membawa koper. Lantaran kopernya sangat besar membuat ibu saksi Wiwin bertanya.

"Ibu saya nanya, besar sekali kopernya pak, beli berapa? Dia bilang mau bantu ibunya pindahan dari Lampung, beli dua ratus lima puluh," kata Wiwin menirukan percakapan ibunya dan terdakwa.

Saksi Nurdin mengaku sempat melihat terdakwa gelisah sebelum membeli koper di pasar. Lantas, terdakwa menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.

"Habis telepon itu, dia nanya sama saya soal harga sewa speedboat. Harga sewa speedboat Rp 1,5 juta mahal nggak untuk ke Karang Agung?. Saya bilang memang harganya segitu," kata Nurdin.

Dalam percakapannya, Nurdin menanyakan pekerjaan terdakwa. Ketika itu, terdakwa mengaku hanya sebagai kuli angkut batu koral. Begitu ditanya tempat bekerja, terdakwa langsung pergi bawa motor sendirian.

"Sorenya baru pulang sambil bawa koper besar," kata dia.

Keesokan harinya, Kamis (9/5), Nurdin mencium bau busuk menyengat dari kamar yang ditempati korban dan terdakwa. Dia pun membersihkan sampah di kamar itu, namun baunya tidak hilang.

"Tapi waktu itu belum begitu menyengat," kata dia.

Pada Jumat (10/5), Nurdin kembali mencium bau yang sama, namun kali ini sangat menyengat, bahkan sampai ke lantai bawah. Curiga, Nurdin menghubungi ketua RT dan RW setempat, lalu datanglah polisi membuka kamar dengan kunci cadangan.

"Saya tidak lihat jenazahnya, karena waktu itu polisi ramai sekali. Saya di luar kamar," kata dia.

Atas keterangan tiga saksi, terdakwa tidak menyangkal. Dia membenarkan seluruh keterangan ketika ditanya majelis hakim yang diketuai Letkol Chk Khazim itu.

Baca juga:
Orang yang Ajarkan Bakar Jenazah Fera Adalah Teman Paman Prada DP
Fakta-Fakta Mengejutkan Baru Terungkap Kasus Prada DP Sebelum Bunuh Pacar
Sebelum Bunuh Fera, Prada DP Menginap di Indekos dengan Mantan Pacar
Teman Prada DP yang Suruh Bakar Pacarnya Diketahui Telah Meninggal
Usai Kabur dari Pendidikan, Prada DP Temui Mantan Pacar Minta Diantar Rukyah
Saksi Pernah Lihat Prada DP Cekik Fera Oktaria saat Bertengkar

(mdk/did)