Saat Pandemi Covid-19, Waspadai Juga Gigitan Nyamuk DBD Pagi dan Sore

Saat Pandemi Covid-19, Waspadai Juga Gigitan Nyamuk DBD Pagi dan Sore
PERISTIWA | 23 Juni 2020 05:05 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Ahli infeksi dan pediatri tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Mulya Rahma Karyanti mengatakan nyamuk Aedes Aegypti yang mengakibatkan demam berdarah dengue (DBD) memiliki perilaku menggigit pada pagi dan sore hari. Khusus pagi hari, nyamuk dengan ciri khas kaki berwarna hitam dan putih itu mencari sasaran mulai pukul 10.00 sampai 12.00.

"Sama sebelum magrib ya, jam 4 sampai jam 5 sore," ucap Mulya dalam Talk Show Ancaman Demam Berdarah di Masa Pandemi yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Senin (22/6).

Menurut Mulya, nyamuk DBD menyukai tempat lembap dan genangan air, seperti bak mandi atau pot bunga. Guna mencegah nyamuk tersebut berkembang biak, masyarakat dianjurkan untuk rajin menerapkan 3 M, yakni menutup, menguras dan mendaur ulang.

Dia menjelaskan, pada dasarnya gejala DBD berbeda dengan Covid-19, meskipun keduanya sama-sama disebabkan terinfeksi virus. Pada kasus Covid-19, gejala yang muncul cenderung terjadi pada bagian pernapasan.

Sedangkan gejala DBD, lebih kepada demam dan pendarahan kulit, seperti mimisan, gusi berdarah atau memar.

Selain itu, gejala penderita DBD biasanya mengalami panas mendadak, kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan bisa disertai pendarahan.

"Itu yang tidak ada pada covid, pendarahan spontan, mimisan, gusi berdarah, atau timbul bintik-bintik merah di kulit, itu bisa terjadi," terangnya.

Dia menjelaskan, pada kasus DBD, apabila demam tak kunjung membaik selama tiga hari, penderita diminta minum air putih yang banyak. Jika tidak dilakukan, maka penderita bisa mengalami dehidrasi sehingga kondisi kesehatannya memburuk.

"Nah, kalau demam 2 sampai 3 hari tidak membaik, segera ke rumah sakit," katanya.

Bahaya lain DBD yang dapat diamati melalui gejala berupa sakit perut, letargi atau lemas, pendarahan spontan, pembesaran perut, hati dan ada penumpukan cairan. Penderita yang mengalami kondisi tersebut bisa dengan mudah memasuki fase kritis. (mdk/bal)

Baca juga:
Kemenkes: Ada 346 Kasus Kematian Akibat DBD di Indonesia
Kemenkes: 460 Kabupaten dan Kota Melaporkan Ada Kasus DBD
Kasus DBD di Tasikmalaya Capai 343, 6 Orang Meninggal Dunia
Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Tembus 500, 11 Orang Meninggal
Kasus DBD di Sumsel Tembus 1.702, Melebihi Covid-19

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami