Said Aqil Tegaskan Multaqo Ulama Bukan Kegiatan Politik

PERISTIWA | 4 Mei 2019 07:21 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menegaskan, acara Multaqo Ulama bukan sebuah kegiatan politik. Acara ini digelar di Hotel Kartika Chandra, Jumat (3/5) malam.

Dia menjelaskan, kegiatan itu merupakan perkumpulan para ulama, habaib dan cendekiawan dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Sehingga, masyarakat bisa menjalani ibadah wajib umat Islam itu secara tenang dan damai.

"Dalam rangka menyongsong Ramadan agar memasuki Ramadan, kita damai, bersaudaraan dan tenang," kata Said.

Dalam acara ini, lanjut Said, seluruh habaib dan tokoh agama ikut mendoakan negara Indonesia agar selalu damai dan aman pasca Pemilu 2019. Tak hanya itu, mereka pun juga memanjatkan doa kepada Allah supaya Bumi Pertiwi bisa dibanggakan di dunia Internasional.

"Selalu didoakan para kiai agar Indonesia ini menjadi negara yang bisa dibanggakan dan dihormati oleh dunia Internasional," ujarnya.

Multaqo ini dihadiri oleh ulama sepuh Kiyai Maimun Zubair (Mbah Moen), Habib Lutfi bin Yahya, Said Aqil Siraj, TGB Turmudi Badarudin, Kiyai Anwar Iskandar, Nasaruddin Umar, Maskuri Abdulillah, Kiyai Masdar F Mas'udi, Habib Salim Jindan dan lainnya.

Imbauan Imam Masjid Istiqlal

Imam Besar masjid Istiqlal Nazaruddin Umar berharap bulan suci Ramadhan menjadi rahmat bagi semua pihak. Menurutnya, seluruh umat untuk bersatu dalam merayakan Ramadhan.

"Kami berharap Ramadhan menjadi rahmat bagi kita semua. Kami mengajak umat untuk menghadapi Ramadhan dengan penuh solidaritas, ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian," kata Nazaruddin.

"Tidak ada perbedaan antara warga Indonesia. Definisi warga Indonesia adalah sahabat hingga keluarga," sambungnya.

Lebih lanjut, Nazaruddin ingin masyarakat harus bisa bersyukur dengan sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia. Sebab, menurutnya banyak negara yang tidak memberi ruang bagi warganya untuk menyampaikan aspirasi.

"Kita bersyukur Indonesia tampil menjadi negara demokrasi. Banyak negara sekarang ini ingin seperti Indonesia. Tidak bisa. (karena) nasib mereka ditentukan oleh segelintir darah biru," ujarnya.

Di sisi lain, Nazaruddin juga memohon semua pihak tidak saling mencela saat Ramadhan. Ia juga meminta semua pihak tidak menganggap enteng pihak lain.

"Kalau kita membiarkan suara kita menghujat orang sementara kita sedang puasa, kita tahu kan dosanya. Jadi berhentilah. Mari kita kedepankan bulan suci Ramadhan," pungkasnya.

Baca juga:
Said Aqil: Sambut Ramadan Tak Pantas Masih Saling Caci dan Benci
Said Aqil: Ulama Wajib Mengayomi Masyarakat & Menunjukkan Jalan yang Benar
Pesan-Pesan Sejuk Tokoh Berpengaruh Indonesia Pasca Pemilu 2019
Ketum PBNU Imbau Warga NU Pilih Capres Sesuai Hati Nurani
Ketum PBNU Imbau Nahdliyin Tidak Melakukan Gerakan Inkonstitusional usai Pemilu
PBNU Bersyukur Pemilu Berjalan Damai, Minta Semua Pihak Tunggu Hasil Resmi KPU
Ma'ruf Amin Hadiri Silaturahmi dan Penyampaian Gagasan Kebangsaan PBNU

(mdk/gil)

TOPIK TERKAIT