Saksi ahli KPK sebut pemberian handphone bos Sentul City langgar UU

PERISTIWA | 29 April 2015 19:00 Reporter : Juven Martua Sitompul

Merdeka.com - Ahli hukum pidana Universitas Brawijaya, Priya Jatmika menegaskan pemberian handphone kepada pegawai perusahaan milik bos Sentul City, Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng merupakan perbuatan melanggar hukum. Terlebih handphone itu diberikan untuk menghindari penyadapan dari penyidik KPK.

Hal ini disampaikan Priya dalam sidang lanjutan terdakwa Cahyadi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Priya merupakan saksi ahli yang dihadirkan oleh KPK untuk memperkuat dakwaannya.

"Dia memberi pengarahan keterangan palsu itu tindak pidana. Tapi dalam konteks Pasal 21 ini, bentuk merintangi penyidikan agar dia tidak menjadi tersangka. Merintangi, karena keterangan palsu akan membebaskan dia dari dakwaan atau sangkaan," kata Priya di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (29/4).

Priya menambahkan perbuatan seseorang dikategorikan merintangi penyidikan jika hasilnya bisa diketahui tanpa perlu melihat perbuatannya. Apalagi perbuatan itu dilakukan saat penyidikan berlangsung.

"Membeli handphone merupakan perbuatan tidak langsung untuk mencegah atau merintangi terjadinya penyidikan. Ini kan penyidikan sudah terjadi berarti dia merintangi penyidikan. Orang yang membeli handphone dan memberikan ke orang lain biar termonitor oleh penyidik, disadap, itu bentuk merintangi secara tidak langsung," jelas Priya.

Kesaksian itu dipaparkan Priya setelah Jaksa KPK Ronald F Worotikan menanyakan dakwaan Cahyadi kepada Priya. Diantaranya, membagikan handphone dengan maksud menghindari penyadapan serta mengarahkan saksi untuk memberikan keterangan bahwa uang yang diberikan kepada Rachmat Yasin disamarkan menjadi transaksi jual beli tanah.

Seperti diketahui, terdakwa Cahyadi didakwa telah menyuap mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin dengan uang sebesar Rp 5 miliar terkait kasus suap alih fungsi hutan dan menghalangi proses penyidikan dalam kasus tersebut.

Menurut Jaksa, bentuk perbuatan merintangi penyidikan yang dilakukan Cahyadi adalah memerintahkan sejumlah orang untuk memutus mata rantai keterlibatan dirinya. Cahyadi melakukan hal itu setelah FX Yohan Yap ditangkap KPK menyangkut kasus tersebut.

Jaksa mengatakan cara Cahyadi menghentikan keterlibatannya dengan memerintahkan sejumlah orang agar memindahkan dokumen-dokumen kepengurusan alih fungsi kawasan hutan atas nama PT BJA. Selain itu, perintah Cahyadi sampai kepada pembelian handphone untuk menghindari penyadapan KPK.

Lebih jauh, Jaksa menyebut Cahyadi mengarahkan anak buahnya yang akan bersaksi di KPK untuk memberikan kesaksian bahwa perbuatan pidana suap itu diketahui oleh Haryadi Kumala selaku pemilik PT Briliant Perdana Sakti (PT BPS). (mdk/efd)

Bos Sentul City jalani sidang lanjutan kasus alih fungsi hutan Bogor

Pengacara Sentul City bujuk istri Yohan Yap samarkan transaksi suap

Tak mau disadap KPK, bos Sentul City beri handphone ke anak buah

Bos Sentul City kembali jalani sidang terkait alih fungsi hutan

Bos Sentul City kembali jalani sidang lanjutan di Tipikor

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.