Saksi ahli: Penyerang LP Cebongan mengalami stress disorder

Saksi ahli: Penyerang LP Cebongan mengalami stress disorder
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 19 Juli 2013 14:59 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Sidang militer kasus penyerbuan dan penembakan di Lapas Cebongan kembali digelar di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta. Dalam sidang hari ini, kuasa hukum terdakwa menghadirkan saksi ahli psikologi forensik Reza Indragiri.

Dalam kesaksiannya, Reza menyatakan terdakwa melakukan penyerangan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan Sleman karena diduga mengalami stress disorder dan tidak memenuhi unsur melakukan tindakan berencana.

"Stress disorder terjadi karena seseorang mengalami trauma berupa kehilangan sesuatu yang cukup berarti," kata Reza Indragiri di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat (19/7).

Keterangan tersebut disampaikan saksi ahli psikologi dari Universitas Pancasila Jakarta oleh Tim Penasehat Hukum tiga terdakwa yakni Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik dalam sidang lanjutan berkas satu kasus penyerangan Lapas IIB Cebongan Sleman.

Menurut dia, stress disorder secara signifikan jelas menurunkan kinerja kognitif seseorang dan tidak menutup kemungkinan melakukan tindakan yang membahayakan orang di sekitarnya.

"Pernah ada kasus Veteran perang Vietnam menembaki penghuni rumah karena dalam pikirannya dirinya tidak berada di rumah namun masih berada di medan perang," katanya.

Ia mengatakan, berdasar yurisprudensi di Amerika Serikat, pelaku tindakan kekerasan atau terdakwa dalam persidangan yang mengalami stress disorder memang belum ada satu definisi tunggal.

"Namun hanya ada dua respon dari majelis hakim, yakni meringankan hukuman atau membebaskan terdakwa yang mengalami stress disorder," katanya..

Ketika ditanya Ketua Majelis Hakim Letkol Chk Djoko Sasmito tentang tindakan berencana, Reza Indragiri menjelaskan bahwa tindakan berencana secara psikologis harus meliputi empat unsur yakni sasaran, sumberdaya, efisiensi, risiko dan semua harus terpenuhi.

"Pada kasus penyerangan Lapas Cebongan, dari empat unsur hanya terpenuhi satu unsur yaitu sasaran. Berdasar ilmu psikologi dan sampai saat ini saya belum pernah melakukan interaksi atau membaca catatan psikologi terdakwa," katanya. (mdk/hhw)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami