Saksi Dipersekusi di Depok, PSI Tempuh Jalur Hukum

PERISTIWA | 2 Mei 2019 22:57 Reporter : Fikri Faqih

Merdeka.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengecam tindakan persekusi dan penganiayaan terhadap saksi yang mengikuti jalannya perhitungan suara dan penutupan pleno penghitungan suara di Kecamatan Cinere, Depok. Di mana tindakan itu terjadi pada Rabu (1/5) oleh oknum Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

Humas PSI Kota Depok, Leo Fran Pinem mengatakan, persekusi terjadi pukul 13.20 WIB di tempat penghitungan suara PPK Kecamatan Cinere, yang berlangsung di GOR Perumahan BPK, Gandul, Cinere, Kota Depok.

"Sedianya kejadian itu tidak boleh terjadi pada saksi partai politik peserta Pemilu, termasuk PSI yang sedang mengikuti jalannya perhitungan suara di tingkat kecamatan, meskipun tidak mengikutkan saksi dari awal," katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/5).

Kronologis kejadian bermula saat saksi dari PSI, bernama Andi Rudini Lumban Gaol mengikuti pleno perhitungan suara. Setelah waktu yang sudah ditentukan sesuai informasi bahwa acara akan dimulai pukul 13.30, lalu saksi memasuki ruangan pleno.

"Saat itu pula bagian dari anggota PPK Kecamatan Cinere melihat saksi PSI langsung memanggil dengan pengeras suara 'kamu dari PSI ya' lalu saksi menjawab ya. Lalu anggota PPK tersebut berucap lagi 'sini kamu'. Saksi PSI itu menghadap ke depan, lalu anggota PPK tersebut menanyankan 'Kemana aja selama 10 hari ini kok baru nongol'," ujarnya.

Saksi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PSI Kota Depok itu menceritakan alasan memunculkan saksi di akhir perhitungan. Alasannya karena adanya keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Namun ternyata pihak PPK masih tidak terima dengan jawaban tersebut, dan melakukan aksi persekusi hingga menyebabkan luka pada saksi PSI.

"Atas kejadian tersebut, saksi minta bantuan tenaga kepada teman partai untuk mendampingi mengikuti sidang pleno lanjutan. Dan informasi penganiayaan dan persekusi itu telah sampai ke KPU Kota Depok dan Bawaslu Kota Depok. Melalui lobi, akhirnya saksi dari PSI diperkenankan mengikuti jalannya sidang pleno," ungkap Leo.

Atas kejadian itu, dia menegaskan, PSI Kota Depok tidak ingin merusak suasana rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara di PPK Kecamatan Cinere. Karena sebenarnya partai yang dipimpin Grace Natalie itu justru ingin mendapatkan hasil salinan rekapitulasi perolehan suara.

"Atas terjadinya persekusi dan penganiayaan dilakukan di tempat rekapitulasi perhitungan suara di Kecamatan Cinere, DPD PSI Kota Depok memilih menempuh jalur hukum dan langsung melaporkan kejadian pukul 17.35 WIB ke Polresta Kota Depok hingga pukul 00.00 WIB tadi malam di Polresta Kota Depok," ungkapnya.

Leo menegaskan, PSI ingin menegakkan hukum dengan clear terhadap kasus penganiayaan ini. Sebab jika dibiarkan bisa menjadi preseden buruk terhadap perjalanan PSI, khususnya di Kota Depok.

"DPD PSI Kota Depok ingin memastikan bahwa setiap orang yang melakukan tindakan kekerasan terhadap saksi PSI mendapat perlakuan hukum, sesuai tindakan yang dilakukan. Mengingat kejadian ini menyangkut nama baik partai, PSI tidak ingin dijadikan kambing hitam atas kejadian ini," tutupnya.

Baca juga:
Laporan Dana Kampanye PSI ke KPU Capai Rp 84 Milliar
TKN Jokowi Nilai Kurang Pas Masa Presiden Hanya 1 Periode
Mengintip Biaya Iklan Kampanye Perindo, PSI dan Hanura di TV, Habis Berapa?
PSI Kutuk Aksi Pemboman Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Kalah di Tahun 2019, PSI Bisa Jadi Kejutan di 2024
Cak Imin Tawari Politisi PSI Tsamara Amany Jadi Waketum PKB

(mdk/fik)