Sebelum Maulana Meninggal: Ditangkap dan Ditumpuk di Dalam Truk Polisi

PERISTIWA | 4 Oktober 2019 18:49 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Rasa sakit di kepala dan badan bocah berinisial A belum juga hilang sampai sekarang. Sakit itu akibat tindak kekerasan yang dialaminya usai tertangkap aparat karena ikut dalam kerumunan massa demo berujung rusuh di Jakarta pada Rabu (25/9).

Dia dan rekannya, Maulana Suryadi alias Yadi ditangkap aparat keamanan saat melihat aksi unjuk rasa di Depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui, Maulana meninggal. Penyebab kematiannya pun menimbulkan tanda tanya besar.

Kepada merdeka.com, A berbagi cerita mengenai kejadian mencekam malam ini. Saat itu dia diajak Maulana ke kawasan Slipi, Jakarta Barat. Dia sempat menolak. Tapi Maulana berhasil meyakinkan A untuk ikut menonton aksi unjuk rasa. Akhirnya mereka berdua pergi menggunakan sepeda motor. Menuju pusat kerusuhan.

"Saya sama almarhum itu lagi di motor, di atas flyover (Slipi) lihat orang demo," katanya saat ditemui di Jakarta, Jumat (4/10).

Sebuah motor trail menghampiri mereka. Dikendarai pria berbaju serba hitam. Dia menduga itu adalah anggota kepolisian. Keduanya pasrah karena sudah tak bisa melarikan diri.

"Orang-orang lari ke bawah, ternyata di bawah juga sudah di kepung sama Brimob, di situ ditangkap, dimasukin ke mobil, motor juga dibawa ke Polres Jakarta Barat. Motor saya sekarang juga masih di sana," ujarnya.

A dan Yadi dimasukan ke dalam mobil Polisi. Nada bicara bocah tersebut tiba-tiba turun saat menceritakan kondisi di dalam mobil tersebut. Sangat tak manusiawi. Massa yang ditangkap dan dimasukkan dalam mobil, disuruh tiarap dan ditumpuk.

"Waktu dimasukkan ke mobil itu dipukul pakai tangan kosong sekali di perut. Waktu dibawa ke dalam mobil disuruh tiarap, ditumpuk di dalam itu. Almarhum itu di bawah saya, dia sudah tidak bergerak, pingsan dan saya juga lama-lama pingsan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Maulana Suryadi alias Yadi, pemuda 23 tahun ini meregang nyawa di tengah demonstrasi berujung rusuh di Gedung DPR, Rabu (25/9). Menurut keterangan kepolisian yang diterima sang ibu, Maspupah, Maulana meninggal dunia karena sesak napas yang mengakibatkan asmanya kambuh.

Namun, kerabatnya menemukan kejanggalan, lantaran tubuh Maulana penuh luka lebam serta adanya pendarahan dari bagian hidung dan telinga yang terus terjadi, bahkan hingga merembes ke kain kafan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono membantah Maulana dianiaya polisi. Dia meyakini, tubuh Maulana bersih tidak ada luka-luka.

"Ibu kandung almarhum, Maspupah, datang ke rumah sakit polri melihat jenazah anaknya untuk dibawa pulang. Ia lihat sendiri tidak ada tanda-tanda kekerasan pada jenazah anaknya," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (4/10).

Ia berdalih polisi sudah menawarkan keluarga Maulana untuk melakukan autopsi. Namun ditolak.

"Ibu kandungnya tidak mau (Maulana) diautopsi, karena memang anaknya punya riwayat sesak napas. Ada pernyataan ditandatangani di atas materai Rp6.000," dalih Argo.

Baca juga:
VIDEO: Tanda Tanya Kematian Maulana Korban Demo Rusuh Jakarta
Keluarga Minta Polisi Jujur Ungkap Penyebab Kematian Maulana
Janggal Kematian Maulana di Tengah Rusuh Jakarta
Jejak Terakhir Maulana saat Demo Rusuh di Jakarta
Korban Demo Rusuh, Maulana Tewas Karena Asma atau Tindak Kekerasan?

(mdk/noe)