Selama Pandemi Covid-19, Layanan Terhadap Pasien HIV/AIDS Terganggu

Selama Pandemi Covid-19, Layanan Terhadap Pasien HIV/AIDS Terganggu
ilustrasi rumah sakit. Shutterstock/sfam_photo
PERISTIWA | 9 Juli 2020 14:43 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Wiendra Waworuntu mengatakan selama pandemi Covid-19, pelayanan terhadap pasien HIV/AIDS terganggu. Akibatnya, banyak pasien HIV/AIDS tidak mengunjungi fasilitas kesehatan untuk menjalani perawatan.

"Dari data kita, terjadi penurunan, tetapi tidak semua. Ya terganggu pelayanannya," ujarnya dalam Talk Show Pelayanan Kesehatan Bagi ODHA di Masa Pandemi Covid-19 di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (9/7).

Meski terjadi penurunan pelayanan, pasien HIV/AIDS tetap mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Jangka waktu konsumsi obat ARV sendiri kini diperpanjang menjadi paling lama tiga bulan, dari sebelumnya hanya satu bulan.

Wiendra menjelaskan, kasus HIV/AIDS yang sudah ditemukan di Indonesia sejak tahun 2000 sebanyak 388.784. Angka ini masih jauh di bawah perkiraan pemerintah yakni 643.443 kasus.

Dari total kasus yang ditemukan, 283.358 di antaranya sudah menjalani pengobatan, yakni mengonsumsi obat ARV. Sementara 133.158 lainnya masih menjalani pengobatan hingga saat ini.

"Kalau kita lihat angka ini dibandingkan dengan estimasi kita, kita masih sekitar 20 sekian persen yang minum obat ARV," ucapnya.

Baca Selanjutnya: Alkes untuk HIV/AIDS Masih Rendah...

Halaman

(mdk/eko)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami