Semangat Andreas Oktaviandi, Berjuang Lanjutkan Hidup Meski Terpisah dari Orang Tua

PERISTIWA » MALANG | 8 September 2019 08:45 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Nama lengkapnya, Andreas Oktaviandi Tampubolon (16). Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Widyagama Kota Malang itu belakangan menjadi pembicaraan dan viral di media sosial. Remaja yang duduk di kelas 10 itu memiliki semangat pantang menyerah, kendati harus menghadapi persoalan demi persoalan dalam hidupnya.

Andreas (sebelumnya diinisial B) mengalami kesulitan tempat tinggal dan terkatung-katung, namun tetap semangat bersekolah. Selama sekitar 2,5 bulan terakhir tinggal berpindah-pindah dari satu karib ke karib lainnya. Saat ini, Andreas tinggal di ruangan OSIS sekolahnya, demi mempertahankan agar tetap bisa bersekolah.

merdeka.com berkesempatan bertandang ke sekolahnya di Jalan Borobudur Kota Malang. Saat itu, Andreas tengah asyik membenahi komputer laboratorium sekolah, sebelum kemudian mengizinkan memasuki kamar tidurnya.

Andreas menempati sebuah kasur di pojok dalam ruangan sekitar 5 meter x 4 meter. Tepat di tengah-tengah, terdapat meja sekolah yang di kelilingi beberapa kursi.

Sebuah lemari arsip dari besi dimanfaatkan sebagai tempat buku pelajaran dan beberapa potong pakaian sekolah. Tas hitam bertumpuk di sela antara lemari dan tempat tidur.

Beberapa sisi ruangan digunakan untuk menyimpan piala dan sebuah sepeda angin. Ruangan tersebut juga dipenuhi buku dan Novel yang beberapa dipinjami teman-temannya.

"Kalau pagi ya mandi, sarapan, nyuci baju, main game, main sama temen-temen, ke teman pulang jam 5-an, terus mandi. Gitu-gitu lah," kata Andreas yang mengaku penyuka baca komik itu penuh senyum.

Gaya Andreas penuh keceriaan, beberapa kali semringah tersenyum saat mendapat pertanyaan yang dianggapnya lucu. Ia seolah tanpa beban menceritakan perjalanan yang memang harus dilaluinya.

Teman-teman sekolahnya yang kompak, berusaha mencarikan alternatif tempat tinggal bagi Andreas. Hingga kemudian menyarankan untuk tinggal di ruang OSIS sekolahnya.

Tidak hanya itu, teman sekelasnya pun hampir setiap hari mengunjunginya dengan membawakan makanan secara bergiliran. Selain belajar bersama dan sekedar menemaninya untuk bermain dan bercanda.

"Awalnya kan minta tolong cari-cari tempat tinggal ke teman, mungkin untuk satu bulan, tapi sekolahan mengajak tinggal di sini," katanya.

Jauh sebelumnya, Andreas sempat terusir dari rumah kontrakan yang pernah ditinggali bersama kedua orang tuanya. Sejak itu hidupnya harus nebeng dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Andreas sendiri sejak pertengahan kelas 3 SMP ditinggalkan sendirian oleh kedua orangtuanya yang tengah menghadapi persoalan keuangan. Seorang diri, harus tinggal di kontrakan menyelesaikan persoalan hidupnya.

"Saya kan SMP-nya Kartika, tinggalnya di Wendit, Tirtomoyo, kemudian lulus ditinggalkan orang tua. Kontrakan habis dikeluarin sama yang punya kontrakan," kisahnya.

Andreas sempat ikut temannya yang mengajaknya bantu-bantu dengan bayaran ala kadarnya. Tugasnya membuatkan kopi dan membersihkan komputer, yang sekaligus memberikan bekal ilmu untuk melayani servis komputer.

"Saya minta izin ke teman, rumahnya bisa ditinggali atau tidak. Terus kakaknya (temannya) ngajakin bekerja, ngasih makan dan tidur sambil ngajak bekerja bikin kopi, bersihkan laptop, nganterin laptop," kisahnya.

Seorang Andreas tetap tegar dan semangat menjalani hidup walau dengan ala kadarnya. Baju dan buku selalu ada di dalam tas hitamnya.

Teman Andreas, Adinda Restika Putri mengatakan, teman-teman sekelasnya kompak memberi dukungan. Semua berusaha membantu saat mengetahui Andreas tidak memiliki tempat tinggal.

"Semua support, sekelas, satu sekolah kompak, sering main ke sini juga, bawa makanan atau apalah, ngajak main," kata Adinda.

Kepala SMK Widya Gama Malang, Mawan Sulyadi, mengatakan siswa-siswinya memang memiliki kepedulian pada Andreas. Mereka berusaha mencarikan tempat tinggal dan mengantarkan ke sekolah. Hingga akhirnya Andreas bisa tetap mengenyam pendidikan.

"Kondisi mental anak ini kuat, meskipun saya sendiri menyampaikan ini terharu. Anak seusai itu tetapi sudah mampu mengatasi permasalahan hidupnya yang terkadang kita bayangkan selaku orang tua atau guru, ini mustahil. Akan tetapi selama perjalanan tidak terpancar wajah susah, menyimpan ribuan masalah. Dia enjoy dalam proses pembelajaran dan sosialisasi dengan teman-temannya," ungkapnya.

Sementara waktu, Andreas tinggal di ruangan OSIS sampai mendapatkan asrama atau tempat tinggal yang tepat. Beberapa orang sudah menawarkan untuk membantunya.

"Mungkin tidak sampai satu minggu akan kita pindah, tapi sampai hari ini masih di ruang OSIS," tegasnya.

Andreas juga mengaku masih berhubungan dengan kedua orang tuanya, namun karena masih sibuk belum dapat membantunya. Pada saat nanti, Andreas yakin bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Sembari menunggu masa itu datang, dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk belajar dengan baik.

"Pingin mengejar cita-cita, pengennya sih bisa banggakan orang tua," pungkasnya.

Baca juga:
Kisah Inspiratif Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Rp10 Ribu yang Layak Dicontoh
Kesahajaan Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Rp10.000 yang Meninggalkan Banyak Kesan
Pengabdian dr Mangku Sitepoe, 24 Tahun Mengobati Pasien Tanpa Pungutan Biaya
Berusia 113 Tahun, Mbah Tukin Ikut Gerak Jalan Sejauh 30 KM di Jember
Aksi Heroik Anggota TNI Selamatkan Lumba-lumba Terdampar di Pantai Tulungagung
Jadi Wisudawati Terbaik, Anak Buruh di Jember Sempat Ingin Putus Sekolah
Kisah Pilu David Steward, Anak Pemulung Kini Punya Kekayaan Rp48,4 Triliun

(mdk/lia)