Semarang Jadi Medan Pertempuran Selamet Usir Penjajah di Usia 16 Tahun

Semarang Jadi Medan Pertempuran Selamet Usir Penjajah di Usia 16 Tahun
PERISTIWA | 13 Agustus 2020 04:32 Reporter : Danny Adriadhi Utama

Merdeka.com - Selamet merupakan pejuang kemerdekaan tentara pelajar yang turut bertempur dalam agresi militer Belanda. Di usianya kini menginjak 90 tahun, dia menceritakan pernah terlibat pertempuran di Jatingaleh, Semarang saat perang gerilya Agresi Militer I Belanda.

Di mana saat itu Belanda berhasil menduduki Jawa Tengah. Dia tergerak menjadi relawan Tentara Pelajar pada tahun 1946 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Waktu itu masih umur 16 tahun. Saya tergerak membela negara daftar Tentara Pelajar yang diinisiasi oleh TNI AD. Rata-rata anggotanya pelajar dan mahasiswa," kata Selamet saat ditemui di rumahnya, Jalan Mahesa Utara II, Pedurungan Tengah, Semarang, Rabu (12/8).

Ketika sudah daftar Tentara Pelajar, Selamet masuk Korps TP Barikade 17 di Detasemen III Yogyakarta. Kemudian, ia memutuskan pulang ke rumah orang tua di Purworejo. Tiba-tiba mendapatkan mandat dari komandan wilayah Letkol Suharto untuk ikut serta berperang di Yogyakarta hingga Gunung Kidul.

"Pas Serangan Umum 1 Maret 1949, saya berperang di beberapa titik. Awalnya saya jalan kaki dari Parakan sampai Yogyakarta," ujarnya.

Saat agresi militer I, ia bercerita sempat terlibat pertempuran di sekitar Jatingaleh. Peristiwa itu terjadi ketika tentara Belanda berhasil dipukul mundur sampai ke Semarang.

"Saya juga ikut gerilya sampai Semarang lawan Belanda. Sampai pasukan kami berhasil usir Belanda mundur," jelasnya.

Selamet kelahiran tahun 1930 merupakan mantan anggota tentara pelajar Detasemen III yang masih hidup. Selamet pun bergabung dengan 1.200 prajurit TP lainnya, untuk ikut bertempur melawan tentara kolonial Belanda.

Rekan-rekannya yang berasal dari pelajar berusia 16 tahun kemudian diperbantukan untuk melawan tentara kolonial. "Dulu ada 1.200 TP, yang meninggal waktu perang revolusi ada 120 orang," ujarnya.

Usai perang kemerdekaan, tahun 1951 Tentara Pelajar secara resmi dibubarkan. Masing-masing anggota mendapat penghargaan dari pemerintah dan beasiswa untuk melanjutkan studi yang selama ini sudah terbengkalai menjadi pejuang.

Selamet kembali bekerja di ladang perkebunan milik pemerintah. Setelah 24 tahun bekerja, ia pensiun pada 1986, dan memutuskan menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI).

"Karena saya tahu darah sangat dibutuhkan masyarakat, makanya saya pilih jadi sukarelawan PMI. Saya rutin ajak warga Pedurungan untuk berdonor darah. Saya jadi relawan PMI sudah 32 tahun sudah mampu mengumpulkan 4.500 kantong darah untuk diserahkan PMI," jelasnya.

Atas jasanya sebagai anggota Tentara Pelajar dalam pejuang kemerdekaan melawan Belanda, dia mendapat penghargaan sebagai pahlawan gerilya dengan pangkat terakhirnya yaitu prajurit satu.

"Saya bangga bisa berbuat sesuatu bagi nusa dan bangsa. Termasuk saat saya rutin menggalang donor darah. Sekarang saya dapat tunjangan veteran dari pemerintah," ungkapnya.

Ia berpesan kepada generasi muda diharapkan belajar dengan tekun mesti kondisi sedang pandemi Covid-19. Dengan belajar, bisa menumbuh kembangkan dan meningkatkan minat bakat dan kecintaan pelajar dalam mengisi kemerdekaan.

"Ide-ide kreatif yang bisa melanjutkan jiwa semangat nasional," katanya.

Ketua Legiun Veteran Kota Semarang Herman Josep Soedjani mengaku saat ini tengah meneruskan semangat perjuangan kepada generasi penerus bangsa di tengah pandemi Covid-19.

"Modalnya hanya dengan semangat moril yang kuat. Gotong royong cinta Tanah Air dan rela berkorban ini bagian dari nilai kejuangan. Semua harus diwarisi kepada anak muda," kata Herman Josep Soedjani.

Mengingat dampak Covid-19 tidak hanya pada sektor kesehatan saja, tapi keutuhan gotong royong ekonomi. Generasi muda nantinya bisa ciptakan ide dan lapangan kerja yang dapat dilakukan mandiri.

"Seperti beternak, bertani sehingga membuat banyak orang muda menjadi kreatif. Kita jangan sampai larut pada masalah pandemi ini. Tapi tetap semangat tinggi kita tetap kreatif dengan tetap memperhatikan prtotokol kesehatan," ungkapnya.

Di Semarang saat ini ada 282 legiun veteran yang masih hidup. Meski begitu, mereka rata-rata hidup dengan taraf ekonomi menengah ke bawah. "Anggota kita 282 orang. Usianya sudah 70 sampai 90 tahun," jelasnya.

Ia menuturkan, para legiun veteran hidup dengan kondisi yang beragam. Menurutnya ada seorang legiun yang masih bisa tinggal di rumah sendiri dan membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah.

"Sebagian besar rumahnya ada yang direhab. Ada juga legiun veteran yang ikut anaknya. Ada yang ngontrak rumah. Beberapa masih ada yang menumpang di rumah saudara," ujarnya.

Pemerintah pusat, setiap tahunnya sudah mengucurkan uang tunjangan bagi para veteran pejuang kemerdekaan. Ia menyebut tiap veteran pejuang mendapat tunjangan sebesar 50-100 persen.

"Tunjangan veteran ada. Nominalnya antara Rp1,8 juta-Rp2,6 juta setiap orang," tutupnya. (mdk/cob)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami