Seni Taufiq Mengolah Sampah Hingga Bikin Museum Daur Ulang Limbah Plastik

Seni Taufiq Mengolah Sampah Hingga Bikin Museum Daur Ulang Limbah Plastik
PERISTIWA » MALANG | 9 Juli 2020 14:22 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Aksi Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto (41) mengolah sampah plastik membuat kagum orang. Hasil karyanya dia pajang dalam Museum and Education Hot Bottles. Idenya membuat museum karya seni berbahan botol plastik bekas sungguh benar-benar di luar nalar orang kebanyakan.

Taufiq membangun museum berisi koleksi karya seninya berbahan aneka botol plastik bekas. Tangan terampilnya menyulap sampah menjadi produk seni, bahkan bernilai ekonomis.

"Awak iki kan gak isoan nek nontok barang bekas (Saya ini kan enggak bisa kalau melihat barang bekas). Pokoknya jiwa saya jiwa pemulung lah," kata Taufiq berkelakar dengan tertawa lepas di rumahnya, Selasa (7/7).

Sosok Taufiq cukup nyentrik dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos khas orang Malang. Semangatnya penuh kebebasan dan gemar bereksperimen, apalagi didukung hobinya berkumpul dengan berbagai komunitas yang membuatnya banyak teman.

Bersama keluarganya, Taufiq tinggal di Perumahan Alam Dieng Risidence Kota Malang. Posisi rumahnya berada di sudut pintu masuk perumahan yang sebagian digunakan sebagai museum.

Setiap tamu yang datang akan disambut sebuah robot Gundam berukuran raksasa dan sepeda motor terparkir di atap museumnya. Semula Saya mengira patung robot 10 meter itu terbuat dari aluminium dengan melihat teksturnya yang kokoh dan keras.

Tetapi setelah memperhatikan lebih jeli, ternyata robot perkasa itu berbahan aneka limbah plastik. Kaleng cat berfungsi sebagai baut lutut, jiriken untuk potongan lengan, dasboard sepeda motor jadi tameng dan lain sebagainya menempel kuat.

Begitu pun sepeda motor tua yang diparkir di atas museum, orang mengira berbahan dari besi aluminium atau sejenisnya. Tetapi ternyata terbuat dari aneka plastik bekas dan potongan sisa resplang.

Saat memasuki museum, Taufiq menyuguhi kekaguman lain, yakni sebuah mesin motor gede (Moge) dalam kaca. Mesin motor Harley Davidson itu sesunguhnya terbuat dari sisa bahan sejenis asbes yang mendapat sentuhan seni tangganya.

1 dari 3 halaman

Ragam Koleksi

Koleksi Taufiq sangat beragam, dari miniatur sepeda motor super cup tahun 1976, vespa, mobil balap, kapal phinisi, hingga motor legendaris yang biasa dipakai Dilan. Semua karyanya berasal dari botol bekas yang dirangkai sedemikian rupa.

"Kalau yang kecil-kecil gini tidak lepas dari sedotan dan sendok plastik," katanya.

Taufiq mengisahkan, bahwa karya-karya itu bermula dari sebuah proses pencarian formula bisnis. Ia mencari bisnis dari sesuatu yang tidak berguna bisa bernilai ekonomis.

"Saya akhirnya menemukan tools bisnis, jadi menemukan sesuatu dari sampah, kemudian itu bisa dijadikan produk dan bisa laku. Akhirnya orang percaya ternyata membuat start up itu enggak harus dengan modal besar, tapi dengan fokus meng-create sebuah produk yang siap jual. Paling keren, adalah ketika ini bahan bakunya didapatkan gratis," kisahnya.

museum and education hot bottles di malang

©2020 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Tapi ide tidak sekadar ide. Aplikasi gagasan dari sampah menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomi ternyata tidak gampang. Kegagalan demi kegagalan kerap dialami dalam sebuah desain karya.

"Kita bukan berarti punya ide keren, sampah bisa menjadi start up bisnis, terus produk tersebut langsung bim salabim langsung ready bisa dijual. Tetapi ternyata butuh proses, riset dan terus dikembangkan, hingga akhirnya diterima pasar. Tapi yang tidak hilang adalah, modalnya yang gratis, dari sampah," urainya.

2 dari 3 halaman

Berawal dari Karya Sederhana

Awal karyanya serba sederhana dan ala kadarnya. Bahkan pernah berniat membuat replika sepeda motor, tetapi saat ditanyakan pada anaknya, ternyata lebih mirip gagang telepon.

Karya Taufiq termurah terbuat dari dua botol, dua sendok plastik dan dua sedotan yang terjual Rp20 Ribu. Pernah juga, karyanya terjual Rp 2 juta di sebuah acara seminar.

Saat itu di sebuah seminar wirausaha, Taufiq menanyakan kepada peserta yang mempunyai botol plastik. Saat itu juga diminta dan dibuat sebuah miniatur di depan peserta seminar.

museum and education hot bottles di malang

©2020 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

"Saya proses sekitar 5-10 menit, langsung lelang dan cuma laku Rp 30 Ribu, tapi tertinggi pernah laku Rp2 Juta. Dari situ membuat orang, oh ya ternyata sampah botol plastik, asal kita fokus membuat produk bisa luar biasa, bermodal sampah bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit," katanya.

Karya Taufiq awalnya hanya laku terjual sekadar di market place online. Tetapi sekarang ini ini juga menjadi koleksi sejumlah cafe dan sebagian terjual di mancanegara dengan harga jutaan rupiah.

"Lama-lama alhamdulillah bisa jual ke luar negeri. Paling jauh Canada, Jepang dan market terbesar sekarang Jepang. Kalau Afrika di RDC, Republik Demokratic Kongo," kata ayah tiga anak ini.

"Selama ini yang diminati replika sepeda motor hampir 90 persen. Motor cooper, custom paling diminati. Peminatnya yang bikin bangga itu orang Jepang yang sampai pesan. Itu laku dari mulai harga 8 ribu yen sampai 20 ribu yen," katanya.

"Kebanyakan orang berpikir, mengumpulkan sampah kan berapa puluh kilo baru jadi uang. Tapi ternyata tidak, dengan sedikit riset yang berulang dan disempurnakan dari sebuah botol pun bisa laku jutaan," sambungnya.

Jumlah karya sudah lebih dari 600 buah hingga membuat ruangan penuh sesak. Karena itu sebagian dipajang di ruang tamu sebagai sebuah kebanggaan. Taufiq juga memajang aneka karya seni berbahan parabola bekas yang dipajang apik di dinding rumahnya.

"Kalau dari foto yang saya kumpulkan itu 600 desain replika yang saya buat, dan itu saya dokumentasikan dalam museum. Itu yang menjadi alasan kenapa saya membuat museum. Sebagai tempat untuk mendokumentasikan, sementara belum sempat membuat buku atau video dan cara pembuatannya," katanya.

3 dari 3 halaman

Berharap Banyak Orang Manfaatkan Sampah

Setelah pandemi berakhir, Taufiq berkeinginan kembali fokus pada pelatihan massal. Ia sudah memiliki jadwal pelatihan di 50 titik di seluruh Indonesia.

"Sebanyak mungkin orang bisa mengerti, minimal bisa mengubah mindset mereka tentang sampah. Bahwa sampah itu jika dijadikan sebuah produk memiliki daya jual dan tidak kalah dengan pengusaha yang bermodal besar," tegasnya.

museum and education hot bottles di malang

©2020 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Taufiq juga bangga merasa punya banyak keluarga baru di banyak tempat di Indonesia yang diikat lewat sampah botol bekas. Ikatan saudara itu dalam bentuk tempat-tempat yang menjadi binaan.

"Paling berkesan itu di Makassar. Saya punya binaan, semacam kelurahan binaan, kelurahan tersebut ada di tengah-tengah TPA Tamangapa di Makassar. Jadi mereka benar-benar belajar dari awal dan dasar sekali. Sekarang orang yng memiliki kemampuan justru di sana," katanya.

Bagi Saya, Taufiq sebagai sosok istimewa. Tidak banyak orang yang bisa menggali ilmu dari onggokan sampah. Dan Ia menemukan jalan itu! (mdk/cob)

Baca juga:
Jogja Garuk Sampah, Gerakan Rawat Bumi Tiap Rabu
Ikhtiar Cak Oyong Mengolah Sampah Minyak Jelantah
Mengolah Sampah Jadi Berkah
Merawat Lingkungan ala Anak Milenial
Inspirasi dari Bekas Bungkus Kopi
Si Sarjana Pengubah Wajah Bantaran Kali Cisadane

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami