Seorang Guru PPKN di Malang Suruh 18 Siswanya Onani

PERISTIWA » MALANG | 7 Desember 2019 15:59 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Chusnul Huda (28) seorang guru bimbingan konseling (BK) sekaligus guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di Kabupaten Malang melakukan pelecehan seksual kepada 18 orang murid SMP yang diajarnya. Korban yang keseluruhan laki-laki diminta bertelanjang dan mengeluarkan sperma atau beronani di hadapan pelaku.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan, pelaku melakukan aksi cabul kepada korbannya sebanyak 18 anak. Aksi cabul dilakukan dalam rentang Agustus 2017 sampai Oktober 2019 atau sekitar 2 tahun dengan korban siswa kelas 1 sampai 3.

"Hasil pemeriksaan setidaknya ada 18 siswa yang menjadi korban, dan sudah dilakukan pemeriksaan ke beberapa anak, serta memenuhi usur sebagai perbuatan cabul," kata Yade Setiawan Ujung di Mapolres Malang, Sabtu (7/12).

1 dari 6 halaman

Terungkap Setelah Korban Bercerita

Aksi pelaku terungkap, saat salah satu korban berani bercerita kepada orang tuanya kalau mengalami perlakuan tidak senonoh oleh gurunya. Selanjutnya, orang tua tersebut mendatangi sekolah untuk melaporkan kejadian tersebut.

Kepala sekolah selanjutnya berkoordinasi dengan mengumpulkan para murid guna menanyai satu-per satu anak, sebelum kemudian membuat laporan ke Polres Malang.

2 dari 6 halaman

Pelaku Sempat Menghilang

Pelaku sempat menghilang atau tidak pulang ke rumah sejak muncul laporan ke polisi pada Selasa (3/12). Petugas menangkap pelaku di sebuah SPBU Kabupaten Malang, Jumat (6/12) malam.

3 dari 6 halaman

Pelaku Suruh Siswa Telanjang untuk Ukur Kemaluan

Pelaku meminta siswanya bertelanjang dan mengukur alat vital dan kemudian diminta mengeluarkan sperma atau beronani di hadapan Chusnul Huda. Aksi cabul pelaku dilakukan di ruang tamu ruangan Bimbingan Konseling (BK) sekolah tersebut.

4 dari 6 halaman

Modus Disuruh Menghadap ke Ruang BK

"Modusnya saat jam istirahat membujuk korban, dikatakan kamu menghadap saya di ruang BK karena ada yang akan saya katakan. Setelah pulang sekolah, mereka janjian. Saat sekolah sepi melakukan perbuatan tersebut," jelasnya.

5 dari 6 halaman

Aksi Pelaku juga di Luar Sekolah

Aksi pelaku juga dilakukan di luar sekolah, dengan janjin bertemu dengan korban. Sehingga memang tidak ada guru atau siswa lain yang melihatnya.

"Kejadiannya di atas pukul 14.00 WIB dengan posisi korden ditutup. Hasil pemeriksaan korban tidak disodomi," jelasnya.

6 dari 6 halaman

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.