Sepi Peminat, SMK BNN di Kabupaten Bandung Barat Cuma Dilirik Satu Murid

PERISTIWA | 18 Juli 2019 21:44 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) baru mendapatkan satu orang peserta didik. Dengan kondisi itu, pengurus sekolah memutuskan untuk membuka pendaftaran hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sekolah bernama SMK Bhakti Nusantara Nasional (BNN) Cisarua itu berlokasi di Kampung Cibadak, RT 4 RW 1, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Suasana sekolah makin tidak menentu setelah satu-satunya murid yang sudah mendaftar tidak masuk sekolah sejak hari pertama tahun ajaran baru dimulai.

"Tahun ini ada satu orang siswa yang mendaftar, tapi tidak masuk. Sedangkan tahun lalu ada 7 orang siswa," kata Wakil Yayasan Bakti Nusantara Nasional, Sutasah, Kamis (18/7).

Jumlah peserta didik terus berkurang setiap tahun sejak sekolah tersebut didirikan sembilan tahun lalu. Total peserta didik yang belajar di SMK BNN ada 11 orang. Itu terdiri dari kelas XI dan XII.

Demi menjaga suasana belajar mengajar ramai, pihak sekolah menggabungkan semua murid dalam satu ruangan kelas. Namun, dengan kebijakan itu banyak ruangan kelas tidak terpakai.

"Sampai saat ini kami terus mengalami penyusutan siswa yang mendaftar di tahun ajaran baru. Kemarin katanya ada empat orang lagi yang akan nyusul mendaftar. Kami terus berjuang agar jumlah siswa bisa bertambah," terangnya.

Ada beberapa faktor yang dinilai membuat sekolah sepi pendaftar. Pertama, akses dan lokasinya kurang strategis karena jauh dari jalan. Selain itu, pihak sekolah kesulitan bersaing dengan SMK Negeri yang berada tak jauh dari SMK BNN. Di luar itu, psikologis orang tua dan murid pun terpengaruh dengan informasi lulusan SMK sulit mengakses dunia kerja.

Meski begitu, dia optimistis kondisi ini tidak akan berlangsung selamanya. Terlebih, para pengajar memiliki komitmen yang tinggi untuk tetap mengajar meski dengan beragam kekurangan.

"Di sini kami menyediakan tiga jurusan, yaitu farmasi, otomotif dan administrasi perkantoran. Promosi untuk mencari siswa baru terus kami lakukan. Para guru juga sudah berkomitmen tetap mengajar walaupun siswanya sangat sedikit," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa SMK dinyatakan menjadi penyumbang tertinggi pengangguran terbuka. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku akan melakukan evaluasi dan membuka opsi membubarkan SMK yang tak produktif mencetak lulusan siap kerja.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, lulusan SMK menjadi penyumbang tertinggi pengangguran terbuka di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari 7 juta pengangguran terbuka per Agustus 2018, 11,24 persennya merupakan lulusan SMK.

Persentase itu lebih tinggi dari pengangguran terbuka lulusan SMA 7,95 persen, lulusan SD 2,43 persen, sedangkan untuk lulusan SMP yang menganggur ada sebanyak 4,8 persen. Ekonom Raden Pardede mengingatkan, pemerintah harus mengontrol dan membangun pendidikan vokasi yang berkualitas.

Menurut Ridwan Kamil, ada yang harus dibenahi dari sistem pendidikan SMK yang sedang berjalan. Diperlukan adaptasi yang bisa sesuai dengan arah ekonomi nasional. Hanya saja, ia belum mau mengungkap lebih detil permasalahan yang ada dan lebih dahulu menunggu evaluasi dari dewan pendidikan Jawa Barat yang baru ia lantik.

"Saya minta untuk mengevaluasi SMK karena secara statistik masih penyumbang pengangguran terbesar di 2019. Kita terapkan 2020 apa ada sebagian yang dibubarkan atau direposisi," tutur dia.

Baca juga:
Kekurangan Siswa, Sekolah Swasta di Bekasi Protes Penambahan Sekolah Negeri
Kekurangan Murid, Sejumlah Guru di Tasikmalaya Terancam Tak Dapat Tunjangan Profesi
Mendikbud Muhadjir Effendy akan Evaluasi Sistem PPDB Online
Siswa di Palembang Tewas Saat Ikuti MOS, Diduga Korban Penganiayaan
2 Pendaftar PPDB di Jateng Ketahuan Palsukan Surat Domisili
Muncul Petisi Dukungan untuk Guru Honorer Rumini yang Dipecat Karena Bongkar Pungli

(mdk/noe)