Setahun Gaji Tak Dibayar, 15 ABK Terlantar di Garut Utang ke Warung buat Makan

Setahun Gaji Tak Dibayar, 15 ABK Terlantar di Garut Utang ke Warung buat Makan
PERISTIWA | 20 Agustus 2020 13:08 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Belasan ABK (anak buah kapal) yang ditelantarkan majikannya, diketahui banyak berutang ke salah satu warung di sekitar rumah mewah tempat mereka tinggal dan bertahan demi mendapatkan haknya. Tidak tanggung-tanggung, utang para ABK ke warung tersebut mencapai Rp 17 juta.

Hj Yulia (53), pemilik warung menjelaskan bahwa awalnya para ABK memang sering jajan di tempatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, rupanya para ABK itu kerap berutang dari tempatnya. Setidaknya, ia mencatat bahwa mereka sudah berutang selama satu tahun atau sejak 2019 lalu.

"Awalnya tidak curiga, biasa saja. Tapi saya kagetnya pas tahu utang mereka ini sampai Rp 17 juta. Itu ngutangnya setahun. Sempat kesal juga dan jadinya saya nanya-nanya juga ke mereka kenapa bisa gitu. Tahunya ternyata mereka ini tidak digaji sama bosnya. Ada gajinya yang sampai ratusan juta tapi belum dibayar. Saya jadinya kasihan," jelasnya, Kamis (20/8).

Yulia sendiri mengaku bahwa dirinya mengenal sosok bos para ABK yang berinisial SH. Ia pun kemudian mendatangi SH ke kantor yang tidak begitu jauh dari warungnya itu dan menagih utang para ABK.

Si bos, diungkapkan Yulia, awalnya sempat tidak mau bertanggungjawab atas utang para ABK itu. "Tapi saya bilang saja, katanya uang gaji anak-anak belum bapak bayar. Jadinya dia malu kemudian bayar utang anak-anak ke saya. Sisanya Rp 6 juta belum dibayar lagi," ungkapnya.

Meski menyisakan utang Rp 6 juta, Yulia mengaku kasihan kepada para ABK sehingga ia mengikhlaskan hal tersebut. Bahkan, Yulia pun mengaku sesekali mempersilakan para ABK agar makan di rumahnya. Hal itu ia lakukan karena ia sangat paham dengan kondisi para ABK yang kelaparan dan tidak memiliki uang lantaran gajinya belum dibayar oleh bosnya.

"Saya mah kasihan. Mereka bukan orang sini. Jadi ya saya niatkan ibadah saja, saya tolong semampu saya bisa bantu," ucapnya.

Sisa utang para ABK sendiri, disebut Yulia, akhirnya dilunasi oleh Badan Perlindungan Pegawai Migrasi Indonesia (BP2MI). Kini, para ABK sudah tidak ada di rumah mewah dekat warung Yulia karena dibawa ke kantor UPT BP2MI di Bandung dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Sebelum berangkat, Yulia menyebut bahwa para ABK sempat berpamitan kepadanya. Ia pun sempat tidak kuasa menahan air mata. "Saya sedih. Mereka sudah saya anggap anak sendiri. Apalagi mereka ada yang sudah satu tahunan tinggal di sini karena menuntut haknya," tutupnya.

Baca Selanjutnya: Sebelumnya Badan Perlindungan Pekerja Migran...

Halaman

(mdk/rhm)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami