Sidang Kurir Narkoba, Hakim Pertanyakan Status Mantan Kanit Reskrim Hamparan Perak

Sidang Kurir Narkoba, Hakim Pertanyakan Status Mantan Kanit Reskrim Hamparan Perak
PERISTIWA | 1 Oktober 2020 19:14 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Kasus kepemilikan sabu-sabu yang melibatkan personel kepolisian di Hamparan Perak Deli Serdang, Sumut, mulai disidangkan di pengadilan. Namun, dari dua petugas yang diduga terlibat, hanya satu orang yang diadili.

Personel kepolisian yang diadili, yakni Jenry Heriono Panjaitan (43). Saat ditangkap, warga Asrama Polisi, Jalan HM Jhoni, Medan, ini menjabat Pembantu Kepala Unit (Panit) Reskrim Polsek Hamparan Perak.

Jenry diadili bersama Kiki Kusworo alias Kibo (33). Pria ini yang pertama ditangkap bersama 64 gram sabu-sabu.

Dakwaan terhadap keduanya dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fransiska Panggaben di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (30/9). Majelis hakim yang diketuai Syafril Batubara ini langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan dua saksi dari Polda Sumut yang melakukan penangkapan.

Kedua saksi menyatakan pengungkapan perkara narkotika itu berawal dari laporan masyarakat.

"Awalnya kami menangkap Kiki, dan dilakukan pengembangan dia mengaku barang yang dipegangnya milik Jenry. Punya Panit ini," ujar saksi.

Terkait pengakuan Kiki soal pemilik narkotika itu, petugas Polda Sumut menemui Jenry di sebuah warung kopi.

"Jenry mengaku barang itu didapat dari Kanit (Reskrim) Polsek Hamparan Perak, Bonar Pohan. Dari pengakuannya uang Rp 40 juta itu dikasih ke kanit seluruhnya," ucap saksi.

Pengakuan saksi ini membuat hakim menanyakan keberadaan personel kepolisian yang disebutkan.

"Lalu kenapa itu nggak ditangkap?” tanya hakim.

Saksi menjawab, “Sudah Pak, sudah sempat ditahan, tapi untuk tidak tersangkanya kami tidak tahu," kata saksi.

Hakim kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fransiska Panggabean.

"Bu jaksa, kenapa ini tidak dijadikan tersangka? Kan kalau dijadikan tersangka, ini bisa dilakukan pengembangan," kata Syafril Batubara.

Fransiska berkilah Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang bersangkutan belum mereka terima.

"Maaf Pak Hakim, SPDP-nya belum kami terima," kata Fransiska.

Majelis hakim mempertanyakan kebijakan JPU dalam perkara ini. "Kalau begini kan terhenti perkaranya, coba kalian teruskan, ini kan bisa tahu siapa bandarnya," kata hakim.

Kedua saksi pun mengaku tidak tahu dari mana asal narkotika itu. "Kan, kalau dikembangkan bisa tahu ini bang dari mana, apakah ini barang tangkapan yang dijual lagi atau bagaimana. Enggak jelas kalian," kata hakim.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menunda persidangan. Sidang akan dilanjutkan pekan depan.

Nama mantan Kanit Reskrim Polsek Hamparan Perak, Bonar Pohan, tidak ada dalam dakwaan JPU. Dakwaan itu menyebut perkara ini bermula pada hari Jumat (28/2) pagi, informan menghubungi saksi Kiki Kusworo Alias Kibo hendak memesan narkotika jenis sabu-sabu.

Kiki kemudian menemui polisi yang melakukan penyamaran di Jalan Hamparan Perak, Desa Pao, Kecamatan Hamparan Perak. Dia menyerahkan satu paket sabu-sabu dengan berat 64 gram dengan harga Rp 42 juta.

Kiki ditangkap saat menyerahkan narkotika itu. Dia kemudian diinterogasi dan mengatakan bahwa barang yang dibawanya tersebut adalah milik Panit Reskrim Polsek Hamparan Perak Jenry Heriono Panjaitan. Jenry kemudian ditangkap di warung kopi di Jalan Hamparan Perak, Desa Pao, Kecamatan Hamparan Perak, dan dibawa ke Mapolda Sumut.

Jenry dan Kiki didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Pasal 131 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami