Sindir Larangan MUI, Mendes Ucapkan Salam Lintas Agama saat Rakornas di Sentul

PERISTIWA | 13 November 2019 16:20 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyindir imbauan MUI Jawa Timur soal larangan salam semua agama. Dia pun tetap mengucapkan salam itu saat menyapa peserta di Rakornas Indonesia Maju di Hall SICC, Bogor, Jawa Barat

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore dan salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu namo budaya salam kebajikan," kata Abdul Halim, Rabu (13/11).

Dia tak khawatir bila ada yang menegurnya soal larangan tersebut. Sebab, di Nahdatul Ulama (NU) salam semua agama tidak dipersoalkan.

"Saya ngomong gini ada yang negur Pak Halim sampeyan orang Jatim kok salamnya lintas agama? Kan MUI Jatim mengimbau agar pejabat tidak gunakan salam lintas agama," ucapnya.

"Saya jawab betul saya orang Jatim tetapi saya enggak punya kartu anggota MUI. Yang saya punya kartu anggota NU. Dan NU membolehkan itu enaknya jadi NU," ucapnya disambut tepuk tangan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan imbauan agar para pejabat atau siapapun, tidak mengucapkan salam atau kalimat pembuka dari semua agama saat acara resmi. Sebab, kalimat atau salam dari agama dianggap berkaitan dengan masalah keyakinan atau akidah agama tertentu.

Imbauan tersebut disampaikan MUI Jatim dalam surat edaran yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori, dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin. Dalam surat itu, MUI Jatim mengeluarkan 8 poin tausiah atau rekomendasi yang merujuk pada hasil rapat kerja nasional (Rakernas) MUI 2019 di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Oktober lalu.

Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori membenarkan bahwa surat itu memang resmi dikeluarkan oleh pihaknya. "Ini (hasil) pertemuan MUI di NTB ada rakernas rekomendasinya, itu tidak boleh salam sederet itu semua agama yang dibacakan oleh pejabat," kata Abdusshomad, Senin (11/11) saat dihubungi merdeka.com.

Ia menjelaskan dalam Islam, salam merupakan doa, sehingga hal itu tidak terpisahkan dari ibadah. Selain itu, salam pembuka dalam agama Islam dianggapnya bukanlah bagian dari sekadar basa-basi.

"Salam, Assalamualaikum itu doa, salam itu termasuk doa dan doa itu ibadah. Sehingga kalau saya menyebut Assalamualaikum itu doa semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian dan itu salam umat Islam," tambahnya.

Hal itu, tambahnya, berarti kurang lebih sama soal penyebutan salam dari agama lain, yang tentunya memiliki arti tersendiri dan merupakan doa kepada Tuhannya masing-masing.

Ia kembali menegaskan, jika si pengucap salam ini beragama Islam maka dimintanya untuk mengucapkan salam Assalaamu’alaikum. Begitu juga jika si pengucap salam ini beragama lain, maka ucapkanlah salam dengan cara agama lain pula.

"Misalnya pejabat, seorang gubernur, seorang presiden, wakil presiden, para menteri, kalau dia agamanya Muslim ya Assalamualaikum. Tapi mungkin kalau gubernur Bali ya dia pakai salam Hindu," katanya.

1 dari 2 halaman

MUI Jatim Keluarkan Larangan Pejabat Ucapkan Salam Lintas Agama

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan imbauan agar para pejabat atau siapapun, tidak mengucapkan salam atau kalimat pembuka dari semua agama saat acara resmi. Sebab, kalimat atau salam dari agama dianggap berkaitan dengan masalah keyakinan atau akidah agama tertentu.

Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori membenarkan bahwa surat itu memang resmi dikeluarkan oleh pihaknya. "Ini (hasil) pertemuan MUI di NTB ada rakernas rekomendasinya, itu tidak boleh salam sederet itu semua agama yang dibacakan oleh pejabat," kata Abdusshomad, Senin (11/11) saat dihubungi merdeka.com.

2 dari 2 halaman

Bagaimana dengan persoalan toleransi?

Abdusshomad juga tak setuju jika pengucapan salam seluruh agama sekaligus itu disebut sebagai bentuk toleransi dan upaya menghargai perbedaan. Menurutnya salam tak semestinya dicampuradukkan, jika dilakukan hal itu justru merusak ajaran agama tertentu.

"Enggak lah, prinsipnya kita setuju soal perbedaan, saling menghormati, maupun menghargai. Tapi bukan berarti, menyebutkan salam semua, itu malah merusak ajaran agama tertentu," katanya. (mdk/rhm)

Baca juga:
MUI Jatim Imbau Pejabat Tak Pakai Salam Semua Agama, Ini Respons Menag
Demi Jaga Persatuan Bangsa, PWNU Jatim Perbolehkan Salam Lintas Agama
Wamenag Ajak Umat Kedepankan Dialog Atasi Polemik Salam Lintas Agama
MUI Jatim Larang Pejabat Ucapkan Salam Agama Lain saat Buka Pidato
Buya Syafii Soal Edaran MUI Jatim Terkait Pengucapan Salam: Kitakan Bangsa Plural
MUI Tak Permasalahkan Menag Anjurkan Khotib Doa Pakai Bahasa Indonesia