Situs Langlang Diduga Reruntuhan Candi Masa Sebelum Singasari

Situs Langlang Diduga Reruntuhan Candi Masa Sebelum Singasari
PERISTIWA » MALANG | 8 November 2020 15:08 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Situs Langlang diduga sisa bangunan candi peninggalan masa sebelum Kerajaan Singasari berhasil ditemukan. Arkeolog menemukan lapangan berupa ukuran bata, orientasi arah bangunan menunjukkan kemungkinan bangunan candi tersebut pernah eksis di masa Mataram Kuno pada Abad 10.

"Pengamatan kasat mata dan pengalaman sebelumnya, bata ini cenderung lebih tua dari Majapahit. Bata ini dari cara pengerjaannya sangat mungkin lebih tua dari masa Singasari," kata Arkeolog BPCB Jawa Timur Ismail Lutfi di lokasi ekskavasi Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (8/11).

Ekskavasi awal dengan membuka tanah seluas 6 Meter X 6 Meter dari awal struktur bata kuno ditemukan sekitar 4 bulan lalu. Ekskavasi berlangsung 3 Hari dan kembali dilanjutkan setelah dilakukan kajian awal.

Ukuran bata kuno yang ditemukan panjang 40 cm, lebar 30 cm, dan tebal 8-9 cm. Bata tersusun rapi dalam beberapa lapisan yang belum keseluruhan terbuka akibat kedalaman tanah.

Lutfi yang juga dosen sejarah di Universitas Negeri Malang (UM) mengatakan, Malang Raya memiliki benda peninggalan bersejarah dengan materi bata merah dalam berbagai ukuran. Sebagai contoh bata kuno yang ditemukan di Dinoyo salah satunya yang menunjukkan periodesasi zaman abad 10. Selain itu juga ditemukan sejumlah prasasti peninggalan Raja Sendok abad 10.

"Daerah Langlang ini kalau kita kaitkan dengan masa Hindu-Buddhanya, tidak jauh dari sini ke arah Singosari, ditemukan beberapa prasasti abad 10 Masehi," ungkapnya.

Prasasti Linggasuntan berangka 929 Masehi ditemukan di Lawajati, Singosari yang mengisahkan sima atau tanah perdikan diberikan Raja Sendok untuk masyarakat. Kemudian ke arah timur juga pernah ditemukan Prasasti Jeru-Jeru berangka 930 Masehi yang juga masa Raja Sendok. Kekuasaan Raja Sendok di Malang Raya sampai Kabupaten Malang bagian selatan dengan bukti Prasasti Turyyan (929).

Data tekstual atau prasasti tersebut akan menjadi bahan kajian untuk melakukan tafsiran dalam bentuk kajian yang lebih konprehensif. Sehingga teka-teki tentang Situs Langlang akan lebih terang.

"Kita lakukan kajian lebih mendalam, karena kita juga belum menemukan temuan serta. Temuan serta dalam ekskavasi sangat berharga, dalam rangka menafsirkan bagaimana bangunan itu dan masa berdirinya," jelasnya.

Luthfi mencontohkan, temuan gerabah atau arca akan sangat membantu walaupun tanpa disertai data tertulis atau angka tahun, seperti prasasti sekalipun. Tetapi temuan semacam itu akan membantu memberi arah dan ruang untuk sebuah tafsir.

BPCB dapat memastikan bahwa tumpukan bata kuno tersebut dipastikan sebuah candi atau sisa dari bangunan candi. Semakin dapat dipastikan jika nantinya tim ekskavasi dapat membuka keseluruhan tanah yang menutupinya.

"Bangunan ini sudah mengarah pada satu pengertian yakni candi, hanya saja, candi itu ada satu kata kunci, biasanya mempunyai bagian yang namanya perigi atau sumuran pada tengah candi. Kita belum bisa menemukan itu, andaikata nanti ada kelanjutan ekskavasinya harapannya bagian tengah di situ sumurannya," katanya.

Sumuran biasanya menjadi tempat peripih atau benda-benda religi saat mendirikan bangunan suci, termasuk candi. Letak sumuran sudah dapat diperkirakan letaknya, tetapi memang belum dibuka tanah yang menutupinya.

"Kita sudah boleh menyebut bahwa ini bagian dari candi, tapi kita masih membutuhkan data pendukung lain minimal ada sumuran," jelasnya.

Pendukung lain yang menguatkan bangunan tersebut sebagai Candi adalah arah hadap ke Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Singkapan tanah menunjukkan dimensi dan sudut arah bangunan yakni utara dan selatan. Sehingga orientasi bangunan mengarah pada timur dan barat yang menjadi kunci penafsiran kegunaan bangunan.

"Ada penguat secara kosmologinya. Ini mengarah ke timur ke arah gunung suci, yaitu Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Di mana dalam keterangan prasasti Sindok abad 10 masehi, bahwa masyarakat di daerah Singasahari itu orientasinya ke Gunung Bromo, Sang Hyang Brahma di sana," jelasnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan masa Majapahit yang memiliki kecenderungan mengarah pada gunung suci Penangungan. Sehingga bangunan suci Majapahit mengarah antara Mojokerto dan Pasuruan.

Luthfi membuka tafsir kemungkinan bangunan tersebut memiliki fungsi lain kendati nantinya ditemukan sumuran. Tetapi syaratnya ditemukan bukti pendukung lain.

Kalau pun ada sumuran atau batur nanti juga bisa ada pendapat lain. Karena batur berbahan bata itu mungkin juga untuk bangunan tinggal, kalau kita melihat relief percandian itu banyak bangunan masa Hindu Buddha itu, bangunan bertiang itu di atas sebuah batur.

"Kalau begitu, konteks yang kita butuhkan adalah umpak, andaikata di situ ada sisa umpak satu atau dua, pikiran kita bisa mengarah ke sana, sebagai pemukiman. Sekali lagi butuh konteks lagi, apakah ada temuan gerabah untuk masak, wadah air. Itu sangat membantu," urainya.

Situs Langlang ditemukan Juli 2020, oleh Eko Maulana, petugas Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Saat mengukur luas tanah milik Roni ditemukan struktur bata kuno. (mdk/cob)

Baca juga:
PM Mesir Melihat Puluhan Sarkofagus yang Baru Ditemukan
Bertemu Sultan HB X, Menkominfo Siapkan Digitalisasi Aksara Jawa
Dulu Jadi Pos Seleksi Tamu Luar Kota, Ini Sejarah Masjid Jagabayan Cirebon yang Unik
Menengok Patok Kayu di Jatibarang, Tapak Tilas Soekarno di Indramayu yang Tak Terurus
Berusia Lebih dari 2 Abad, Bangunan Tua Ini Menyimpan Sejarah Gunung Kidul
Mengenal Jalan Cadas Pangeran, Saksi Bisu Perlawanan Sumedang Terhadap 'Mas Galak'

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami