Siyono tewas, Tomi Giri sang penyimpan senjata tak terlacak

Siyono tewas, Tomi Giri sang penyimpan senjata tak terlacak
Penggerebekan terduga teroris di Cirebon. ©AFP PHOTO/STRINGER
NEWS | 20 April 2016 16:59 Reporter : Dieqy Hasbi Widhana

Merdeka.com - Proses pelacakan jejaring teroris oleh Densus 88 Antiteror Polri memakai pola menyisir alur pewarisan senjata. Bermula 12 hingga 23 Mei 2014 silam, dari 9 orang terduga teroris yang di‎tangkap.

Mereka mengaku selalu mewariskan senjata dan bahan peledak ke rekannya sesama jaringan Al Jamaah Islamiyah (JI) setelah jadi DPO.

"Kita mulai lakukan operasi, ada operasi penindakan Mei 2014. Dari operasi ini kita bisa bongkar organisasi JI. Waktu itu kita tangkap 9 orang dan periksa. Dalam operasi pertama itu ada barang bukti secara visual. Barang bukti berupa bunker, bahan peledak, senjata api, tempat-tempat pembuatan senpi yang kita temukan. Dari situ kita kembangkan," kata Badrodin di Kompleks Parlemen Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/4).

Badrodin menjelaskan, bahwa pada Senin (7/3/2016) silam sekitar pukul 19.30 WIB di Jalan Desa Greges, Tembara, Temanggung, Jawa Tengah berhasil diamankan terduga teroris lain atas nama Tatang Lusiyantoro alias Awang alias Cenlung. Berd‎asarkan hasil pemeriksaan terhadap Awang, diperoleh beberapa keterangan.

Awang merupakan anggota organisasi Al Jamaah Islamiyah (JI) dengan jabatan sebagai kepala divisi investigasi Kodimah Wilayah Barat. Tujuan organisasi itu untuk menegakkan khilafah ala min hajjul nubuah.

Awang mengaku menerima dan menyimpan persenjataan milik organisasi JI dari tersangka yang sudah tertangkap atas nama Joko alias Lulu. Senjata tersebut berupa dua pucuk senjata api laras panjang jenis M-16. Sedangkan dua pucuk senpi pendek beserta magasin dan lima butir peluru diserahkan kepada Siyono.

"Tatang (Awang) atas perintah Siyono, senjata api dipindahkan ke Siyono. Proses pindah tangan Agustus 2014 di Muntilan, Jateng dengan pertimbangan Tatang masuk ke DPO, senpi diserahkan ke Siyono," tuturnya.

Setelah ditangkap pada (8/3/2016) di Dusun Pogung, Desa Brengkungan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Siyono mengaku senjata yang dia simpan sudah diberikan kepada Tomi alias Giri alias Pak Pendek. Tomi diketahui tinggal di sekitar Terminal Krisak, Selo Giri, Wono Giri, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi tersebut, Densus 88 Antiteror Polri melakukan pengembangan. Siyono dibawa untuk mencari Tomi.

"Pengakuan Siyono disembunyikan di bawah tanah," ungkapnya.

Lalu pada Kamis (10/03/16) silam, sekitar pukul 08.30 WIB tim melakukan pengembangan. Siyono dibawa ke daerah Terminal ‎Besa, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Saat itu, Siyono dalam keadaan tidak terborgol untuk mencari Tomi Giri.

Sekitar pukul 12.30 WIB, pada saat melintas di jalan antara Kota Klaten dan Prambanan, Siyono melakukan penyerangan terhadap petugas. Perkelahian tidak dapat dihindari, Siyono dilumpuhkan.

Siyono akhirnya hanya bisa tertunduk lemas. Lalu dia dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter IGD, Dokter Dewi, Siyono dinyatakan meninggal dunia. ‎Saat itu juga peta jaringan untuk memburu Tomi Giri menjadi gelap.

"Mengingat yang bersangkutan (Siyono) menyimpan banyak informasi yang dibutuhkan termasuk juga pengungkapan Senpi yang disimpan oleh yang diberikan seseorang," pungkasnya. (mdk/rnd)

Baca juga:

Ayah Siyono bungkam di sidang Propam, Polri sebut 'yang rugi dia'

Ini kronologi tewasnya Siyono versi Kapolri

Kapolri beberkan kronologi penangkapan yang menewaskan Siyono

2 Anggota Densus 88 yang tewaskan Siyono terancam dipecat

Nasib 2 anggota Densus soal kematian Siyono diputuskan pekan depan

Anggota Densus penganiaya Siyono dicecar soal kronologi perkelahian

Badrodin sebut Polri tak inginkan kematian Siyono

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami