Soal Mendikbud dan Menag, Din Syamsuddin Sebut Jokowi Ahistoris

PERISTIWA | 25 Oktober 2019 08:51 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin mengatakan terdapat persoalan historis yang terabaikan dalam penunjukan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim oleh Presiden Jokowi.

"Ada persoalan historis dan psikologis yang diabaikan yakni penempatan menteri pada kementerian yang memiliki dimensi historis kuat seperti bidang agama dan pendidikan," kata Din mengutip sari Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI Ke-44 sebagaimana siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (25/10) seperti dikutip Antara.

Dia menambahkan sejarah posisi Menag erat terkait dengan kompromi politik di awal kemerdekaan untuk akomodasi aspirasi golongan Islam. Kemenag, ujar Din, berperan sentral untuk memfungsikan agama sebagai faktor pendorong pembangunan bangsa.

Sedangkan Kemendikbud, lanjut dia terikat erat dengan amanat konstitusi 'mencerdaskan kehidupan bangsa' yang berhubungan dengan pembentukan watak bangsa.

"Agaknya, keputusan yang ada bersifat ahistoris dan asosiologis," kata Din.

Sementara itu, Din mengemukakan secara khusus arahan Presiden Joko Widodo kepada Menteri Agama untuk mengatasi radikalisme adalah sangat tendensius.

"Radikalisme yang memang harus kita tolak terutama pada bentuk tindakan nyata ingin memotong akar 'radix' dari NKRI yang berdasarkan Pancasila. Di sini, presiden dan pemerintah tidak bersikap adil dan bijaksana," jelas dia.

Radikalisme yang ingin mengubah akar kehidupan kebangsaan Pancasila, lanjutnya, tidak hanya bermotif keagamaan tapi juga bersifat politik dan ekonomi.

"Sistem dan praktik politik yang ada nyata bertentangan dengan sila keempat Pancasila, begitu pula sistem dan praktik ekonomi nasional dewasa ini jelas menyimpang dari sila kelima Pancasila. Mengapa itu tidak dipandang sebagai bentuk radikalisme nyata terhadap Pancasila," terang dia.

Bahkan, lanjut Din, ada sikap dan tindakan radikal terhadap negara Pancasila seperti komunisme atau separatisme yang ingin memisahkan diri dari NKRI tapi tidak dipandang sebagai musuh negara Pancasila.

"Jika presiden dan pemerintah hanya mengarahkan tuduhan dan tindakan antiradikalisme terhadap kalangan Islam, maka itu tidak akan berhasil dan hanya akan mengembangkan radikalisme yang bermotif keagamaan," tutup mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. (mdk/bal)

Baca juga:
Presiden Jokowi: Susunan Wamen Selesai, Dari Partai dan Profesional
Cuma di Era Jokowi dan Soeharto Menteri Agama Berasal dari Militer
Busyro Muqoddas Harap Kabinet Indonesia Maju Disusun Atas Konsep Meritokrasi
4 Parpol Ini Dukung Jokowi di Pilpres Tapi Tak Dapat Jatah Menteri, Kenapa?
Sindiran dan Doa Iringi Langkah Prabowo Menjadi Menteri Jokowi
Erick Thohir: Wakil Menteri BUMN Kemungkinan Diangkat Besok

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.