Soal Pengamanan Trans Papua, Ini Kata Kapendam XVII

PERISTIWA | 5 Desember 2018 20:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pemerintah tetap akan melanjutkan pembangunan jalur Trans Papua, meski ada serangan. Pemerintah pun meminta TNI-Polri untuk mengamankan jalur tersebut.

Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf. Muhammad Aidi, mengatakan untuk pengamanan sebelum kejadian pembunuhan belasan pembangunan jembatan di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, beberapa hari lalu, mengatakan dirinya tak tahu apakah PT Istaka Karya telah berkoordinasi dengan pihak keamanan.

"Saya belum mengerti juga pola kerja yang dilakukan oleh PT Istaka Karya. Karena pembangunan Trans Papua itu melibatkan banyak kontraktor. Istaka Karya ini saya tak memonitor apakah sudah ada koordinasi dengan aparat keamanan, dan aparat keamanan siapa mereka berkoordinasi. Karena saat kejadian ini, tidak ada aparat keamanan disitu," ucap Aidi saat dikonfirmasi, Rabu (5/12/2018).

Dia menuturkan, di tahun-tahun sebelumnya, dimana dirinya terlihat langsung untuk pengamanan, ada beberapa kontraktor yang langsung meminta pengamanan.

"Misalnya PT Nirwana, kita sama-sama dengan pekerja itu, sebelum kita masuk ke lokasi pekerjaan, pengamanan dulu yang mengamankan. Nanti saat pekerjaan berjalan, pengamanan tidak ikut bekerja. Kan tidak menonton orang bekerja. Nah yang PT Istaka ini saya tidak tahu, apakah sudah berkoodinasi dengan kemana," jelas Aidi.

Dia membenarkan, biasanya ada permintaan dulu, baru dilakukan. Karena sulitnya memantau keseluruhan.

"Iya. Kita kan enggak memonitor semua kegiatan yang dilakukan semua orang di Papua, kalau dia tak melapor atau meminta pengamanan, kita tak memonitor," kata Aidi.

Dia juga mengamini bahwa daerah yang dilakukan pengerjaan Istana Karya memang zona merah. Namun, dirinya meminta ditanyakan kepada pihak Kontraktor

"Iya (itu zona merah). Tapi itu ditanyakan ke Pihak Istaka. Tapi memang ada beberapa kejadian, pernah ada tim survei oleh PU dari Bandung itu melaksanakan survei tanpa minta pengamanan. Tapi menggunakan warga Papua," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com

(mdk/ded)

TOPIK TERKAIT