Soekarno dan Warisan Karya Arsitektur yang Tersisa

Soekarno dan Warisan Karya Arsitektur yang Tersisa
PERISTIWA | 3 Juni 2020 00:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Bulan Juni dikenal sebagai bulan Bung Karno. Di mana bulan kelahiran Presiden Pertama RI Sukarno selalu diperingati dengan berbagai acara, termasuk diskusi.

Selain sebagai pemimpin dan proklamator, Bung Karno rupanya juga seorang arsitek yang mewariskan banyak karya arsitektur nasional. Hal itu terungkap dalam diskusi virtual bertema 'Bung Karno Sang Arsitek' yang menghadirkan arsitek Yuke Ardhiati dipandu sejarawan Bonnie Triyana.

Yuke menjelaskan, Bung Karno adalah lulusan Teknik Sipil jurusan Pengairan (Waterbouwkunde) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, seorang profesor di ITB membaca bakat Bung Karno dalam menggambar, sehingga diminta menjadi asisten dengan tugas semacam draftman sejumlah proyek arsitektur.

Nama profesor itu adalah Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang dikenal juga sebagai arsitek sejumlah bangunan seperti Villa Isola dan Hotel Preanger di Bandung, Jawa Barat. Salah satu rumah yang terkenal menjadi karya mereka berdua adalah rumah Red Tulip.

"Jadi kesempatan baik itu menjadikan Bung Karno percaya diri mendirikan biro arsitek di tahun 1926," kata Yuke dalam diskusi, Selasa (2/6).

Belakangan, Sukarno bermitra dengan Ir Anwari, kemudian Roosseno Soerjohadikoesoemo yang dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia, sebagai biro konsultan arsitektur.

Yuke melanjutkan, bahwa pengalaman itulah yang berkontribusi pada kematangan Sukarno mewujudkan berbagai karya di era berikutnya.

“Dalam arsitektur, gagasan itu sudah dipandang sebagai karya. Sejak bekerja sama dengan zaman Pak Anwari dan Pak Roosseno, Bung Karno berperan sebagai penyumbang gagasan,” terang Yuke.

1 dari 1 halaman

Ketika menjadi presiden, kata Yuke, Sukarno banyak mempekerjakan arsitek dalam negeri untuk mewujudkan ide-idenya atas berbagai bangunan publik Indonesia. Salah satunya adalah Sudarsono, arsitek yang memvisualisasikan ide Bung Karno tentang Tugu Monas di Jakarta.

Sementara itu, sejarawan Bonnie Triyana mempertanyakan keabsahan keterlibatan Bung Karno dalam membangun berbagai bangunan publik. Sebab, ia menilai Sukarno pastilah sangat sibuk sebagai seorang presiden. Menjawab itu, Yuke menjelaskan bahwa dalam dunia arsitektur, ide awal saja sudah merupakan bagian dari arsitektur itu sendiri.

monas jadi lintasan formula e 2020

©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

Dari risetnya, Yuke menemukan bahwa berbagai bangunan publik yang dibangun di masa kepemimpinan Bung Karno, merupakan ide awal dari sang presiden, contohnya Monas.

Dari diskusi tersebut, Bonnie Triyana menyimpulkan selain sebagai proklamator bangsa dan presiden, Bung Karno ternyata juga seorang arsitek dan seniman yang karyanya masih bertahan hingga saat ini.

"Dan Bung Karno adalah seorang yang selalu berkolaborasi dalam menghasilkan karya seni dan karya arsitekturnya," kata Bonnie.

Reporter: Delvira Hutabarat

Sumber : Liputan6.com (mdk/ray)

Baca juga:
Wakil Ketua MPR: Bung Karno Santri Enam Dimensi
Sasar Milenial, PDIP Gelar Bulan Bung Karno Lewat Konten Kreatif di Medsos
Sambut 'Bulan Sukarno', Bupati Anas Bagi Paket Buku Bung Karno ke Pesantren
35 Kata-Kata Bijak Bung Hatta yang Penuh Makna dan Inspiratif
PDIP Peringati 'Bulan Bung Karno' Secara Online

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5