Sofyan Basir Divonis Bebas, Maruf Amin Minta Hormati Keputusan Pengadilan

PERISTIWA | 5 November 2019 15:01 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Mantan Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir, dinyatakan tidak terbukti bersalah dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1. Wakil Presiden Maruf Amin meminta semua menerima putusan pengadilan.

Ia menyarankan, pihak yang tidak puas dengan keputusan itu mengajukan banding sesuai aturan dan koridor hukum yang berlaku.

"Saya kira itu hak pengadilan ya, oleh karena itu kita harus menerima apa yang jadi putusan pengadilan. Putusan pengadilan kan yang menentukan salah atau tidak bersalah, itu kita harus mau bisa menerima, kita harus menghormati proses hukum," kata dia di Bandung, Selasa (5/11/2019).

Disinggung mengenai kemungkinan Sofyan kembali menjadi dirut PLN, Maruf akan meninjaunya terlebih dahulu, sekaligus berkoordinasi dengan Menteri BUMN.

"Itu kita lihat nanti, yang penting beliau kan bilang 'saya mau istirahat', kita belum berbicara seperti itu, nanti (menteri) BUMN yang baru yang akan memproses pembentukan," ucap dia.

Sebelum divonis bebas, dalam kasus ini, Sofyan dituntut JPU pada KPK lima tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan. Mantan Direktur Utama BRI itu dianggap turut membantu terjadinya tindak pidana korupsi berupa suap terkait proyek PLTU Riau-1.

Jaksa penuntut umum pada KPK membacakan tuntutan Sofyan Basir pada Senin, 7 Oktober 2019 kemarin.

Saat mendengar tuntutan jaksa, Sofyan Basir menilai, ada kreativitas yang luar biasa yang diperlihatkan KPK. Menurut Sofyan, ada hal yang tak wajar sejak dirinya dijerat sebagai tersangka dalam perkara ini.

Dirinya mengaku tak menerima sepersen pun dari proyek senilai USD 900 juta itu. Dia bahkan menuduh tim lembaga antirasuah telah mengkriminalisasinya.

Meski demikian, tuntutan 5 tahun dari jaksa KPK terhadap Sofyan Basir bukan tanpa alasan. Sofyan Basir dinilai terbukti turut memfasilitasi pertemuan antara anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, politikus Partai Golkar Idrus Marham, dan pengusaha, Johannes Budisutrisno Kotjo dalam pembahasan PLTU Riau-1.

Tak hanya itu, Sofyan Basir juga dianggap mengetahui bahwa Eni Saragih dan Idrus Marham akan mendapatkan fee dari Johanes Kotjo jika perusahaan Johanes, Blackgold Natural Resources Limited diberikan kesempatan menggarap PLTU Riau-1.

Sofyan Basir juga disebut beberapa kali melakukan pertemuan dengan Eni Saragih dan Kotjo membahas proyek ini. Sofyan menyerahkan ke anak buahnya, Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan Santoso untuk mengurus proposal yang diajukan Kotjo.

Atas bantuan Sofyan Basir, perusahaan Johanes Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1. Eni dan Idrus menerima imbalan dari Kotjo sebesar Rp 4,7 miliar.

Tindakan lainnya yang dinilai turut membantu terjadinya suap adalah penandatanganan surat persetujuan. Padahal, sebelum surat itu ditandatangani, materi harus dirapatkan dengan jajaran direksi lain di PLN.

Sementara dalam kasus ini Sofyan melangkahi prosedur tersebut. Sofyan terlebih dahulu melakukan penandatanganan surat persetujuan proyek tersebut meski materi dari surat itu belum dibahas lebih lanjut dengan jajaran direksi lainnya di PLN. (mdk/lia)

Baca juga:
Sofyan Basir Bebas, Ma'ruf Amin Minta Hormati Keputusan Pengadilan
VIDEO: Wapres Ma'ruf Amin Minta Masyarakat Hormati Vonis Bebas Sofyan Basir
Sofyan Basir Bebas, Bakal Kembali Pimpin PLN?
Keluar Rutan KPK, Sofyan Basir Tebar Senyuman
Divonis Bebas, Sofyan Basir Sumringah Keluar Penjara KPK
Fakta-Fakta Bebasnya Sofyan Basir dari Jeratan Kasus Suap PLTU Riau-1
Arteria Dahlan: KPK Harus Pulihkan Martabat dan Kehormatan Sofyan Basir

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.