Sofyan, Kades Termuda di Banyuwangi Berusia 27 Tahun

PERISTIWA » MALANG | 20 November 2019 13:36 Reporter : Muhammad Ulil Albab

Merdeka.com - Ahmad Sofyanto (27) menjadi kepala desa termuda di Kabupaten Banyuwangi. Bersama istri dan anaknya, Sofyanto datang ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi untuk mengikuti prosesi sumpah dan pelantikan sebagai Kepala Desa Kenjo, Kecamatan Glagah. Sofyanto menjadi yang termuda dari 130 kepala desa terpilih, dalam kontestasi Pilkades serentak Oktober 2019.

Mulanya, Sofyanto tidak memiliki niat untuk maju dalam kontestasi Pilkades serentak. Dia merupakan sosok pemuda yang jarang dikenal di Desa Kenjo. Namun akhirnya Sofyanto berani mendaftarkan diri karena didorong oleh sesama pemuda yang ada di desanya.

"Kendala enggak karena tidak berdasarkan ambisi, jadi siap saja. Kalah diterima, kalau menang ya rezeki, karena untuk nyalon tidak diprediksi warga, jadi ini atas dorongan pemuda-pemuda, teman teman pemuda minta, nyalon saja, pas saya pulang liburan kuliah," kata Sofyanto di Pendopo, Rabu (20/11).

Saat itu, Sofyanto akhirnya memutuskan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Kenjo di akhir masa pendaftaran. Sosoknya yang jarang dikenal membuat tiga calon kepala desa yang lain tidak menyangka akan ada pesaing tambahan. Dari total empat pasangan calon kepala desa, satu diantaranya merupakan petahana.

"Saya lengkapi dokumen dan dikumpulkan, pas hari terakhir, jadi calon lain tidak menyangka. Dan itu pengumuman saya mau nyalon tidak jauh dari tanggal pencalonan," ujarnya.

Sofyanto jadi sosok yang kurang dikenal di desanya karena sejak duduk di bangku SMA 1 Banyuwangi, dia sudah ngekos atau menyewa tempat tinggal. Namun profil pendidikannya yang bisa melanjutkan di Universitas Brawijaya, Malang dan Southeast University, China, membantu dirinya meraih suara terbanyak. Selain itu Sofyanto juga menjadi salah satu pemuda yang pernah umrah ke tanah suci Mekkah.

"Tantangan paling kenceng saya sosoknya kurang dikenal, sejak SMA kos di SoBo, SMA 1 Banyuwangi. Kemudian kuliah di Malang Brawijaya, teknik pertanian 2011 dan Kuliah di Cina tahun 2015," paparnya.

Meski belum lulus di dua kampus, status Sofyanto saat mencalonkan diri sebagai kepala desa merupakan mahasiswa. Dia berencana untuk melanjutkan pendidikannya dengan sistem terminal, melanjutkan semester pendidikannya di kampus Universitas Airlangga (Unair) yang ada di Banyuwangi.

"Sampai sekarang belum lulus, rencana bakal, Nanti sambil menjabat saya akan kuliah lagi, di Unair," terangnya.

Sofyanto mengambil jurusan Teknik Pertanian di Brawijaya hingga semester 6, kemudian dia mendapat rekomendasi dari dosennya untuk lanjut kuliah di China. Sofyanto akhirnya lolos seleksi mendapat beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS) dari pemerintah China. Di Kampus Southeast University China, Sofyanto mengambil jurusan arsitektur.

"Kemarin pulang untuk umroh, setelah umroh saya didorong oleh pemuda di desa untuk mendaftar calon kepala desa," terangnya.

Ke depannya, Sofyanto berkomitmen untuk menjaga kepercayaan publik sesuai dengan janji-janjinya. Apalagi, Desa Kenjo yang terkenal stigma santet, bakal diubah menjadi desa yang maju dan percaya diri.

"Serupa dengan gagasan Bupati Banyuwangi yang terus mengubah Banyuwangi dari kota santet ke kota sunrise," jelasnya.

Sesai semangat pemerintah daerah, Sofyanto juga ingin merubah wajah Desa Kenjo menjadi lebih dikenal positif.

"Bagi saya ini tantangannya berat, ini tanggung jawab baru dan tidak mudah. Kita lihat dulu datanya, apakah jadi wisata. Renaca saya akan usung konsep wisata pertanian, saya punya dasar arsitek dan pertanian, mencari sisi hal baru yang belum ada," terang bapak satu anak inI.

(mdk/paw)

TOPIK TERKAIT