Sopir Terdakwa Meikarta Akui Ada Transaksi Uang di Puncak Bogor
PERISTIWA | 11 Februari 2019 19:14 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Sopir dari salah seorang terdakwa kasus Meikarta mengungkap modus perpindahan dan kode uang diduga suap terkait proses perizinan proyek di kawasan Bekasi tersebut. Selain itu, dia mengetahui bahwa petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah melakukan pengintaian.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus suap proyek Meikarta di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL.RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (11/2).

Achmad Bahrul Alam yang merupakan sopir pribadi Henry Jasmen dihadirkan sebagai saksi. Henry Jasmen dalam kasus ini ditetapkan sebagai terdakwa bersama Billy Sindoro, Taryudi dan Fitradjaja Purnama.

Bahrul mengatakan dia diberitahu Fitradjaja bahwa ada tiga mobil KPK saat mereka pergi ke kantor Pemkab Bekasi di bulan puasa pada pertengahan tahun 2018. Bahkan, Fitradjaja mencatat pelat nomor ketiga mobil KPK.

"Pak Fitradjaja Purnama yang memberi tahu bahwa kami dibuntuti. Bahkan Pak Fitradjadja mencatat semua pelat nomor tiga kendaraan yang membuntuti kami karena mereka mengikuti kami terus," kata Bahrul.

Dalam kesaksiannya, ia mengaku kerap mengantarkan Henry Jasmen dan kawan-kawannya ke beberapa tempat. Seperti ke Puncak, Bogor untuk mengambil paket 'Indomie' yang belakang diketahui bahwa itu kode uang.

Saat disuruh Henry ke Bandung, ia pernah memindahkan dus berisi air mineral kepada seseorang. Saat itu ia mengaku tidak tahu isi dari dus tersebut adalah uang.

Keterangan Bahrul pun sesuai dengan BAP yang dibacakan Jaksa KPK. Sebelum mengambil paket 'Indomie', Bahrul mendapat telepon dari Henry Jasmen untuk menemani menyetir Taryudi.

Sementara itu, terkait peristiwa di Puncak, Bahrul dan Taryudi bertemu dengan Henry Jasmen. Taryudi membawa kardus berisi uang untuk THR agar urusan perizinan Meikarta lancar. Di hari yang sama pukul 19.00 WIB setelah berbuka puasa, Taryudi meminta kepada Achmad untuk mengantar lagi. Achmad mengantarkan Taryudi untuk bertemu dengan seseorang di SPBU dekat pintu tol Bekasi Barat. Saat itu, kata jaksa, ada plastik hitam yang diduga uang dan kardus air mineral.

Selain di SPBU, dalam BAP yang dibacakan jaksa, Bahrul di hari yang sama mengantar Taryudi ke sebuah tempat dekat Pemda bekasi. Belakangan diketahui bahwa orang yang ditemuinya adalah Neneng Rahmi dari dinas PUPR Pemkab Bekasi.

Sedangkan di Bandung, masih dalam BAP, Bahrul mengaku pernah mengantar Henry Jasmen ke Hotel Grand Tebu di Bandung dengan membawa sebuah kardus berisi uang.

Usai sidang, Jaksa KPK, Yadyn mengatakan bahwa dalam aksinya, para terdakwa sangat berhati-hati dalam membagikan uang. Indikatornya, mereka mengetahui ada mobil KPK yang sempat membuntuti.

"Dari Bachrul Ulum sudah bisa dilihat pada proses penyelidikannya, ada kontra intelijen sendiri dari mereka yang mengamati tiga mobil petugas KPK pada proses pengembangan dan pengamatan terhadap mereka," ujar Yadyn.

Baca juga:
Pejabat Meikarta Atur Pertemuan James Riady dengan Bupati Bekasi Neneng
Berkas Dilimpahkan, Bupati Bekasi Segera Disidang Kasus Meikarta
Sidang Meikarta, Hakim Ancam Pidana Para Saksi Jika Beri Kesaksian Palsu
James Riyadi Akui Pernah ke Rumah Bupati Bekasi, Tapi Tak Bahas Meikarta
Sidang Suap Meikarta, DPRD Bekasi Akui Terima Duit Rp 3 Miliar
Sidang Proyek Meikarta, Keterangan Saksi Akan Dikonfrontir

(mdk/cob)