Strategi DVI Polri Identifikasi Korban SJ-182 Tanpa Timbulkan Klaster Baru Covid-19

Strategi DVI Polri Identifikasi Korban SJ-182 Tanpa Timbulkan Klaster Baru Covid-19
Penyerahan jenazah Okky Bisma ke keluarga. ©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
PERISTIWA | 19 Januari 2021 15:39 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko mengatakan proses identifikasi jenazah kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 mengalami kendala di masa pandemi Covid-19. Hery menuturkan, ada penyesuaian kapasitas jenazah yang akan diperiksa dalam satu ruangan.

"Karena kita menghindari kerumunan jadi kemampuan kami melakukan pemeriksaan tidak kami laksanakan secara full," ucap Hery, Selasa (19/1).

Hery menjelaskan penyesuaian kapasitas autopsi yaitu, jika sebelum pandemi 1 ruangan berisi 20 meja untuk jenazah, maka saat ini hanya empat meja saja yang dipakai. Satu meja, kata Hery, terdiri dari lima orang yang akan mengautopsi.

Namun, ia menegaskan proses autopsi tetap dilakukan optimal meski ada penyesuaian kapasitas jenazah.

"Kami tidak mau ada klaster di kamar jenazah. Kami juga melaksanakan 3 M. Kemudian kami melaksanakan sistem shift, sehingga dengan sistem shift tersebut setiap hari personel yang melakukan pemeriksaan itu relatif berganti," jelasnya.

Menurut Hery, adanya shift kerja autopsi jenazah dengan jumlah banyak membantu konsentrasi para tim dokter dalam melaksanakan tugasnya.

"Pemeriksaan di kamar jenazah itu memerlukan waktu sehingga kami harus refreshing untuk timnya," tuturnya.

Sementara itu, di hari ke-11 proses identifikasi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengaku telah mengidentifikasi 34 korban. Sebanyak 23 korban telah diserahkan kepada pihak keluarga.

"Sampai hari ini kami sudah berhasil mengidentifikasi 34 korban dan 23 korban sudah diserahkan kepada keluarga," kata Hery.

Hery menerangkan saat ini pihaknya lebih mengutamakan pemeriksaan menggunakan DNA. Pasalnya menurut Hery seiring dengan berjalannya waktu pemeriksaan menggunakan sidik jari kurang efektif lantaran rusaknya jaringan tubuh korban.

"Pemeriksaan yang saat ini digunakan, kami lebih menitikberatkan pada pemeriksaan DNA forensik karena semakin lama semakin ada keterbatasan untuk pemeriksaan yang lain termasuk sidik jari," tutur dia. (mdk/rhm)

Baca juga:
Jenazah Pramugari Sriwijaya Air Dimakamkan di Bandung
Jasa Raharja Serahkan Santunan ke 30 Ahli Waris Korban Sriwijaya Air SJ-182
Viral Video Kapten Afwan Traktir Kru Bandara di Minimarket, Sikapnya Banjir Doa
Hari ke-11 Kecelakaan Sriwijaya Air, 34 Korban Sudah Teridentifikasi
Sri Mulyani Sebut Pemerintah Tambah Fasilitas Isolasi untuk Pasien Covid-19
Dua Kapal SAR Pencarian Pesawat Sriwijaya Air Berbenturan Akibat Cuaca Buruk

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami