Sumsel Masuk Musim Hujan, BMKG Peringatkan Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Sumsel Masuk Musim Hujan, BMKG Peringatkan Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Ilustrasi banjir. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 13 September 2021 16:43 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Sumatera Selatan akan memasuki musim hujan mulai pertengahan bulan ini. Pemerintah dan warga diimbau waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang Wandayantolis mengungkapkan, September dan Oktober 2021 adalah awal musim hujan tahun ini atau lebih cepat sepuluh hari dari sebelumnya. Sedangkan puncak musim hujan akan terjadi pada Februari-Maret 2022 dengan intensitas hujan berkisar 200 mm-400 mm per dasarian.

Saat ini, Sumsel sedang mengalami peralihan dari musim kemarau ke musim hujan ditandai dengan perubahan cuaca secara tiba-tiba dan cenderung ekstrem. Seperti hujan deras, hujan es, dan puting beliung.

"Wilayah Sumsel akan memasuki musim hujan. Kami prakirakan puncaknya Februari dan Maret tahun depan," ungkap Wandayantolis, Senin (13/9).

Pada musim hujan nanti patut diwaspadai terjadinya bencana alam yang kerap terjadi di provinsi itu. Banjir dan longsor menjadi langganan terjadi di sejumlah daerah di Sumsel.

"Bencana hidrometeorologi bisa diminimalisir dengan mitigasi oleh pihak terkait," kata dia.

Sementara itu, Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori menjelaskan, daerah termasuk rawan longsor berada di dataran tinggi, seperti Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Musi Rawas, Musi Rawas Utara,

Penukal Abab Lematang Ilir, Pagar Alam, dan Lahat. Sedangkan daerah rawan banjir yakni Palembang, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Banyuasin, Musi Banyuasin Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu timur, Penukal Abab Lematang Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Ilir.

"Semua daerah hampir merata terjadi rawan banjir dan longsor," ujarnya.

Untuk menekan dampak bencana yang ditimbulkan, pihaknya sudah mulai melakukan berbagai program. Di antaranya sosialisasi daerah rawan bencana, penyiapan sarana prasarana jika terjadi bencana, dan perbaikan infrastruktur.

"Kami juga akan bentuk satgas khusus ubtuk menangani bencana banjir dan longsor," kata dia. (mdk/ray)

Baca juga:
2.021 Jiwa Terdampak Banjir di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan
Ratusan Rumah di Kota Sorong Papua Barat Terendam Banjir
800 Kepala Keluarga di Bolaang Mongondow Terdampak Banjir
Banjir Melanda Kabupaten Ketapang, 8.132 Jiwa Terdampak
76 Rumah Terendam Banjir di Kabupaten Boalemo

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami