Susu Kambing Etawa Antarkan Pelajar SMP di Kudus Raih Medali Emas Tingkat ASEAN

Susu Kambing Etawa Antarkan Pelajar SMP di Kudus Raih Medali Emas Tingkat ASEAN
Pelajar peneliti kefir dari susu kambing etawa. Antara
PERISTIWA | 4 Maret 2021 10:55 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Dua pelajar SMP 1 Kudus, Jawa Tengah yang meneliti tentang pemanfaatan kefir dari susu kambing etawa untuk bioterapi pemulihan operasi divertikulitis duodenum, berhasil menyabet medali emas di ajang ASEAN Innovative Science and Enterpreneurship Fair (AISEF) 2021.

"Pelajar yang terlibat dalam perlombaan tersebut yakni Mirza Tsabita Wafa'ana dan Muhammad Fariz Kautsar siswa kelas IX. Hanya saja, medalinya belum kami terima karena masih menunggu," kata Guru Pembimbing SMP 1 Kudus Sri Winarni didampingi kedua siswa berprestasi tersebut di Kudus, Kamis (4/3). Dikutip dari Antara.

Peserta ajang AISEF yang digelar 18 Februari 2021 tersebut berjumlah 505 tim dari 20 negara. Pelaksanaan lomba berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom pada Kamis (18/2).

Meskipun berlangsung secara virtual, namun kedua pelajar tidak boleh didampingi guru maupun orang tua sehingga keduanya benar-benar mempresentasikan penelitiannya itu sendiri serta menunjukkan bukti hasil penelitiannya berupa video proses pembuatan kefir.

Mirza Tsabita Wafa'ana mengungkapkan inovasi pemanfaatan kefir susu kambing etawa untuk bioterapi pemulihan operasi divertikulitis duodenum atau peradangan yang terjadi pada kantung-kantung yang terbentuk di sepanjang saluran percernaan, berawal dari keluhan teman ibunya yang mengalami gejala tersebut belum sembuh meskipun sudah melakukan pengobatan.

"Dari informasi awal bisa disembuhkan dengan bahan-bahan alami. Kemudian saya bersama Muhammad Fariz mencoba membuat inovasi tersebut untuk terapi secara alami tanpa menggunakan obat kimia," ujarnya.

Lantas muncul ide untuk membuat kefir dengan menggunakan bahan-bahan yang cukup sederhana, mulai dari susu kambing etawa, susu sapi dan susu kedelai dengan komposisi tertentu.

Meskipun terlihat sederhana, ternyata untuk proses fermentasinya membutuhkan waktu hingga sepekan hingga menjadi kefir yang siap digunakan untuk terapi.

Sebelum mendapatkan medali emas di ajang AISEF, kedua pelajar tersebut juga pernah ikut di ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) yang berlangsung 18-23 Desember 2020 secara virtual.

Hasil dari ajang I2ASPO tersebut, keduanya hanya mampu menyabet medali perak, sedangkan di ajang yang sama di tingkat nasional, yakni National Applied Science Project Olympiad 2020 menyabet medali perunggu. Sedangkan di ajang yang lebih tinggi, yakni AISEF justru menyabet medali emas dengan penelitian yang sama. (mdk/cob)

Baca juga:
Viral Video Pelajar Tak Malu Pamerkan Rumahnya dari Kayu, Ada yang Sudah Keropos
Deretan Prestasi Gemilang Juana Gita Medinna Janis, Eks Paskibraka Jadi Perwira Polri
Kelakuan Pelajar 'Nikah' di Kelas, Reaksi Gurunya Pas Tahu Tak Terduga
Alami Kebutaan Total, Kisah Pemuda yang Sukses Tembus PTN Ini Bikin Haru
8 Potret Nadhira Afifa, WNI Pembaca Pidato Wisuda Online Harvard University
3 Fakta 'Hansalim', Produk Pencuci Tangan Ciptaan Siswa di Sidoarjo

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami