Syukuran 70 tahun Gus Mus diisi pemutaran film biografinya

PERISTIWA | 7 September 2014 03:32 Reporter : Parwito

Merdeka.com - Sebelum melewati acara testimoni dari 20 tokoh dan para pejabat dari gubernur sampai menteri, di acara 'Selamatan Gus Mus 1944-2014 yang ke 70 Tahun: 'Kemanusiaan, Kebangsaan dan Pluralisme' yang digelar di Gedung Pertemuan Balairung Universitas PGRI Semarang, di Jalan Lontar, Kota Semarang, Jawa Tengah Sabtu (7/9) juga dilakukan pemutaran film.

Film yang diputar diproduseri oleh Haryanto Halim, pengusaha Jawa Tengah dan disutradarai oleh Timur Sinar Supraba ini berisi tentang perjalanan dan riwayat Gus Mus mulai dari lahir, remaja dan karier sebagai ulama dan budayawan hingga sampai saat ini sebagai pengasuh Pondok Radhlatul Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Ada kejadian menarik, saat adegan film di mana Gus Mus pascaremaja menjalin hubungan asmara dengan sang istri Siti Satma yang dikaruniai sebanyak 7 orang anak. Begitu muncul adegan film yang diputar di tiga layar lebar di belakang panggung, adegan Gus Mus duduk mesra berdua bersama istrinya, sorak sorai langsung memecah keheningan dan konsentrasi para tamu. Bahkan, beberapa tamu terutama yang ada di deretan belakang dan balkon atas gedung bersiul.

"Lha! Ihirrr...suit! suit!" suara penonton pun memecah keheningan konsentrasi pemutaran film dalam kondisi gelap.

Selain adegan mesra bersama sang istri tercinta, pemutaran film Perjalanan 70 Tahun Gus Mus yang diputar sekitar pukul 20.37 WIB itu pada awal adegan Gus Mus becerita tentang sejarah dirinya dalam mengembangkan Ponpes Raudhlatul Talibin, Leteh, Rembang yang didirikan sang ayah sejak tahun 1940-an. Yang sempat diwariskan ke sang kakak Cholil Bisri dan saat ini dipimpinya.

Selain itu juga cerita Gus Mus saat menjalani pendidikan sebagai santri di Ponpes Lirboyo, Jatim selama 2 tahun. Kemudian juga menjadi santri KH Ali Makhsun di Ponpes Krapyak Yogya selama 3 tahun. Gus Mus juga sempat berguru melukis di sanggar Sang Maestro pelukis ternama Indonesia Affandi di Yogyakarta. Juga diceritakan bahwa pada tahun 1964 Gus Mus juga sempat berada di Arab Saudi belajar islam bersama almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Seni suara, seni rupa bermuara pada kekaguman akan besarnya ciptaan Allah Subhanahuwata'alla," ucap Gus Mus dalam testimoni di adegan film itu.

Kemudian ada juga adegan rekaman testimoni novelis terkenal Lian Gouw yang menyatakan kekagumannya terhadap sepak terjang dan karya-karya budayawan Gus Mus. Kemudian testimoni beberapa anak-anaknya di antaranya; testimoni Wahyu Salvana (menantu Gus Mus), Rizal Wijaya (menantu Gus Mus) serta rangkaian kata-kata yang meninggalkan kesan bagi penonton film itu adalah; 'Pluralisme Indonesia'- yang bukan Indonesia.

Film itu kemudian sekitar 45 menit kemudian diakhiri dengan raut wajah Gus Mus dengan menunjuk ke depan dan disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan.

Baca juga:

4 Menteri hadiri syukuran 70 tahun Gus Mus di Semarang

Dua menteri bacakan puisi untuk Gus Mus

(mdk/ren)

TOPIK TERKAIT