Tan Khoen Swie, Penentang Kolonial dan Penyatu 3 Ajaran Agama di Kediri

PERISTIWA | 25 Januari 2020 09:04 Reporter : Imam Mubarok

Merdeka.com - Jika kita datang ke Kota Tahu (sebutan Kota Kediri), jangan lupa lewat di Jalan Yos Sudarso. Dahulu jalan ini bernama Jalan Klenteng di tahun 1970-an. Di sana merupakan kawasan Pecinan yang pasti dilewati jika dari arah Tulungagung menuju Surabaya.

Selain toko-toko yang menjual makanan khas Kediri yakni tahu taqwa dan getuk pisang hingga di ujung Jalan Yos Sudarso, pandangan mata pasti akan tertuju pada bangunan Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang letaknya di kelokan jalan.

Klenteng Tjoe Hwie Kiong ini dibangun sekitar tahun 1817-an. Klenteng ini tercatat dan terdaftar dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kemendikbud NO. INV. 374/KDR/2003 adalah situs cagar budaya.

Menyambut Imlek 2571, digelar ritual sembahyang akhir tahun, Jumat (24/1), pukul 19.30 WIB dan pada pukul 24.00 WIB.

©2020 Merdeka.com/Imam Mubarok

1 dari 2 halaman

"Tema Baru Imlek 2571 yakni 'Menjalankan Kebajikan untuk Menjaga Keharmonisan'. Undangan yang yang kita sebar untuk dua kegiatan ini kurang lebih 1.000 orang. Yakni untuk kegiatan doa akhir tahun dan awal tahun sebelum perayaan tahun baru Imlek ke-2571. Acara puncaknya Bazar Cap Go Meh tanggal 7-8 Februari 2020 terbuka untuk umum," kata Ketua Yayasan Tridarma Tjoe Hwie Kiong Kediri Prayitno kepada merdeka.com.

Dari penelusuran sejarah yang dilakukan merdeka.com, kenapa klenteng ini dinamakan Tri Darma, karena di klenteng ini juga untuk tiga penganut yakni penganut Tao, Buddha dan Konghucu. Keberadaan Klenteng Tri Darma ini tidak lepas dari tokoh penting di awal abad ke-19 Tan Khoen Swie.

Pria kelahiran 1833 di Wonogiri yang kemudian mendirikan penerbitan yang dikenal dengan Bhoekandel (penerbitan) Tan Khoen Swie (sebelum Balai Pustaka), adalah tokoh penentang Belanda sekaligus tokoh yang menyatukan ajaran Tri Darma untuk bersatu di Klenteng Tri Darma Tjoe Hwie Kiong.

Di awal abad 19 Tan Khoen Swie mendirikan perkumpulan Kioe Kok Thwan. Sebuah organisasi masyarakat Tionghoa di Kediri yang menentang Belanda.

Pada 1935 dia juga menjabat redaktur sekaligus pemimpin redaksi sebuah majalah bulanan di Kediri yang memuat paham kebatinan Konghucu, Tao, Buddha Tionghoa berbahasa Melayu.

2 dari 2 halaman

Dalam catatan sejarah perkembangan bangsa China masuk wilayah Kediri diperikirakan sejak abad 9. Orang-orang China setidaknya memberi warna bagi Kediri yang memiliki sejarah sejak zaman Mataram Hindu hingga era Raja Airlangga sekitar abad ke-10.

Hal ini dibuktikan dari sejarah Sungai Brantas era Mpu Sindok (penerus era Mataram Hindu) sebagai penguasa di Anjuk Ladang (Nganjuk). Mpu Sindok mempunyai laksamana penjaga Sungai Brantas yang lebih dikenal dengan Laksamana Sarwajala.

Laksamana Sarwajala adalah penjaga Sungai Brantas sekaligus pengatur lalu lintas perdagangan dari kaum pendatang yang didominasi dari orang-orang China dan Keling (India).

Bukti yang lain dari penelusuran merdeka.com, banyaknya ditemukan koin gobok era Dinasti Song, Liao dan Jin (960-1279) di sepanjang Sungai Brantas. Selain itu di tempat yang sama juga banyak ditemukan tombak China dengan ciri selongsong panjang sebagai tempat landean pusaka.

Tidak hanya di Sungai Brantas, di beberapa tempat bersejarah salah satunya Situs Semen yang ditemukan di Pagu Kediri juga banyak ditemukan gerabah China.

Bukti-bukti ini membuktikan militansi orang-orang China sebagai 'warga penguasa dunia' dan dinasti tertua di dunia yang memiliki peradaban terbagus sudah ada di Jawa sejak lama.

Dalam perkembangannya, orang-orang China yang sudah mendarah daging dan tinggal di Indonesia menganggap bahwa Indonesia dalam hal ini Tanah Jawa sebagai tumpah darahnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Menjaga Keberagaman Beragama di Jember Saat Tahun Baru Imlek
Klenteng TITD Pay Lien San, Potret Toleransi Umat Beragama di Jember
Narapidana di Bangka Belitung Penerima Remisi Imlek 2020 Terbanyak
Pedagang Burung Pipit dan Bunga Raup Untung Berlipat di Hari Imlek
Libur Tahun Baru Imlek, Penumpang PT KAI Naik 7 Persen

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.