Teknologi tinggi sampai bertekuk lutut hadapi kabut asap

PERISTIWA | 21 Oktober 2015 05:34 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo

Merdeka.com - Kebakaran hutan dan lahan di sebagian Indonesia hingga kini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Perkembangan pun tak menentu saban hari. Kadang asap hilang di pagi hari, tapi semakin tebal jelang siang, atau sebaliknya.

Kebakaran lahan sebagian besar karena ulah manusia. Yakni membuka lahan saat musim kemarau dengan cara dibakar. Metode murah meriah, tetapi dampaknya sangat buruk.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, karhutla terjadi lantaran sengaja dibakar oleh pihak ingin memperluas lahan. Selama ini, lanjut dia, Indonesia mengandalkan satelit buat melakukan pemetaan dan deteksi titik api (hot spot).

Menurut Sutopo, secara keseluruhan, titik api akibat karhutla di sejumlah daerah di Indonesia dipantau satelit Terra Aqua, mendeteksi ada 1.545 hotspot. Namun ternyata, jumlah itu meleset atau tidak akurat lantaran satelit terhalang asap tebal.

"Jumlah sebenarnya sesungguhnya lebih banyak, karena satelit tidak mampu menembus pekatnya asap di Sumatera dan Kalimantan," kata Sutopo.

Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran. Bila jumlah titik api tak menentu, maka proses pemadaman tidak bisa maksimal. Bahkan teknologi tinggi dari satelit sudah tidak mampu menembus pekatnya kabut asap.

(mdk/ary)