Teladani Nilai-Nilai Pancasila untuk Merekatkan Perbedaan Antar-Anak Bangsa

Teladani Nilai-Nilai Pancasila untuk Merekatkan Perbedaan Antar-Anak Bangsa
Warna-warni mural di Kampung Pancasila. ©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
NEWS | 29 September 2021 19:12 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober memiliki makna luhur yaitu patriotisme dan nasionalisme. Nilai-nilai terkandung dalam Pancasila merupakan cermin untuk melindungi anak bangsa dari perbedaan dan melindunginya dari beragam tantangan merongrong kedaulatan.

Ketua Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah, Mahmudi Affan Rangkuti memandang segenap lapisan bangsa perlu lebih menghayati dan meneladani nilai-nilai Pancasila. Dimana generasi senior atau baby boomers juga perlu ikut berperan menelurkan nilai Pancasila kepada generasi penerusnya saat ini.

"Bagaimanapun, lahirnya Pancasila bukan hal tiba-tiba, namun buah hasil pemikiran Founding Fathers bangsa saat itu tahu persis bahwa bangsa ini terdiri dari banyak perbedaan suku, ras, dan agama, yang harus terkumpul dalam satu wadah," ujar Mahmudi dalam keterangannya, Rabu (29/9).

Affan mengungkapkan, generasi muda harus tahu bahwa makna sakti di dalam Pancasila memiliki arti kuat, tangguh dan mampu melawan segala ancaman. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila yang sakti tersebut harus diturunkan oleh para senior kepada para milenial untuk diamalkan.

Ia menjelaskan, sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa adalah napas bagi sila-sila berikutnya yang maknanya bahwa dalam hidup harus memiliki ketaqwaan kepada Tuhan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Pengalaman Pancasila itu harus terus diberikan sehingga niscaya kepribadian Pancasila akan tertanam pada diri individu-individu bangsa.

"Sependek yang saya tahu, alih pengetahuan terhadap komunikasi, informasi, edukasi mengenai nilai-nilai Pancasila ini saya rasa masih kurang masif untuk dilakukan. Kita perlu melakukan doktrin-doktrin dalam penguatan nilai Pancasila," katanya.

Dia melanjutkan, dengan doktrin-doktrin dan perkataan serta perbuatan yang terus-menurus diulangi kepada para generasi muda, maka lama kelamaan akan terbangun sebuah perisai. Sebaliknya, bila hal itu tidak dilakukan, maka akan mengakibatkan melemahnya pemahaman generasi muda terhadap Pancasila.

"Kaum milenial bisa lupa akan sejarah komunisme jika tidak disampaikan secara keberlanjutan. Dan sejarah ini haruslah diturunkan oleh generasi senior yang pernah melihat peristiwa tersebut dengan lebih masif. Keyword-nya adalah menyampaikan dengan masif," jelasnya.

Ia menilai kalau dewasa ini banyak sekali generasi muda sudah lupa akan lagu kebangsaan Indonesia Raya, itu miris dan pertanda kurang masifnya pola komunikasi, informasi dan edukasi mengenai nilai luhur bangsa termasuk dalam kurikulum pendidikan.

"Jadi artinya apa? Lembaga pendidikan butuh yang namanya Pendidikan Moral Pancasila. Pancasila harus menjadi satu kurikulum tersendiri, dan para pemangku kebijakan saya harap dapat membentuk satu mata ajar kurikulum yang bermateri Pancasila," tutur Wakil Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) ini.

Tidak hanya itu, Affan juga memandang perlu peran para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menelurkan bahwa Pancasila merupakan ideologi yang ampuh dan sakti dalam menangkal berbagai tantangan kepada para pengikutnya. Itu bisa dilakukan dengan diinovasikan sedemikian rupa mengikuti era digitalisasi saat ini.

"Bagi saya adalah sebuah kewajiban untuk disampaikan. Jadi hukumnya wajib untuk disampaikan oleh para tokoh, baik itu tokoh agama, tokoh masyarakat dan juga tokoh adat kepada para anak didik atau kepada kelompoknya agar itu terus berjalan. Karena ini adalah sebuah warisan dari leluhur yang tidak pernah usang," tandasnya.

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami