Tenaga Ahli KSP Nilai Masyarakat Salah Memahami Makna New Normal

Tenaga Ahli KSP Nilai Masyarakat Salah Memahami Makna New Normal
PERISTIWA | 11 Juli 2020 14:32 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Kasus positif Covid-19 terus saja bertambah. Bahkan dua hari lalu, temuan kasus baru mencapai dua ribu lebih.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sri Prihastuti, menilai kondisi tersebut karena masyarakat tidak memahami dengan baik makna tatanan hidup baru atau new normal yang sebenarnya. Sehingga masyarakat kembali melakukan aktivitas seperti saat kondisi belum terdeteksinya corona di Tanah Air.

"Pemahaman menggunakan new normal tidak mudah dipahami, karena ada unsur bahasa asingnya. Orang-orang cuma baca kata normalnya saja, bukan new normal. Jadi new-nya tidak dibaca. Orang-orang langsung mengira sudah normal," kata Brian dalam diskusi virtual MNC Trijaya dengan tema 'Covid-19 dan Ketidaknormalan Baru", Sabtu (11/7).

Padahal, lanjut Brian, new normal adalah pola hidup baru di tengah pandemi di mana masyarakat harus beradaptasi dengan cara-cara hidup yang baru. Harapannya tak lain agar terhindar dari virus corona misalnya dengan jaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

"Seharusnya yang ditonjolkan itu perilaku-perilaku yang bisa menghindari transmisi virus corona itu seperti menjaga jarak, pakai masker dan cuci tangan," ujarnya.

Dalam diskusi yang sama, anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengakui bahwa penggunaan diksi 'new normal' memang kurang tepat. Ia mengatakan bila komisi IX sudah pernah menyampaikan ke pemerintah, tentang pemilihan diksi 'new normal' yang dinilai akan menimbulkan kesalahpahaman publik.

Ia melihat masyarakat akan mengira bila situasi sudah normal kembali, sehingga kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan pun akan berkurang. Ia berharap pemerintah, DPR, ahli dan semua elemen lainnya bisa bersama-sama mengedukasi masyarakat, jangan sampai memberikan pernyataan yang membuat kegaduhan di masyarakat.

"Kita sudah sampaikan ke pemerintah soal diksi new normal. Rakyat cenderung langsung menganggap kondisi sudah normal, jadi kurang disiplin. Kita harusnya mengedukasi masyarakat, jangan buat statement yang bikin gaduh," kata Rahmad.

Sebelumnya, pada 10 Juli lalu, Achmad Yurianto mengatakan istilah new normal yang selama ini digunakan adalah diksi yang salah karena masyarakat tidak bisa memahami kata new normal dengan benar. Yuri mengatakan bila sebaiknya kata new normal diganti dengan kebiasaan baru.

"New normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru. yang dikedepankan masyarakat bukan kata new, tapi hanya kata normalnya saja," kata Yuri dalam peluncuran buku "Menghadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemi" karya Saleh Daulay secara virtual, Jumat (10/7). (mdk/lia)

Baca juga:
Kasus Positif Corona Meningkat Akibat Masyarakat Tak Patuh Protokol Kesehatan
Jumlah Penumpang Meningkat, Bandara Adi Soemarmo Perketat Protokol Kesehatan
Keuskupan Agung Semarang Izinkan Kembali Misa Gereja, Protokol Kesehatan Diterapkan
Cirebon Izinkan Seniman Beraktivitas dengan Syarat Patuhi Protokol Kesehatan
Kronologi Lonjakan Kasus COVID-19 di Semarang, 300 Orang Berasal dari Sektor Industri
6 Potret Liburan Baim Wong dan Keluarga Saat New Normal, Piknik Pertama Kiano

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami