Tengah Malam, Polres Jember Lepas 2 Mahasiswa yang Diciduk Sebelum Demo Omnibus Law

Tengah Malam, Polres Jember Lepas 2 Mahasiswa yang Diciduk Sebelum Demo Omnibus Law
mahasiswa Jember dilepas polisi. ©2020 Merdeka.com/Muhammad Permana
NEWS | 23 Oktober 2020 09:40 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Isu adanya mahasiswa yang diamankan sebelum demonstrasi, sempat memicu ketegangan dalam unjuk rasa menuntut pembatalan UU Cipta Kerja di Jember pada Kamis (22/10) kemarin. Isu itu sempat dibantah Polres Jember, namun pada malam harinya, dua orang mahasiswa yang sempat diamankan polisi akhirnya dilepas.

Semula, demonstrasi yang digelar Aliansi Jember Menggugat (AJM) pada sore hari itu berlangsung damai. Namun, menjelang pukul 17:00 WIB yang merupakan batas waktu penyampaian unjuk rasa, aksi mulai memanas.

Melalui pengeras suara dari atas mobil komando, seorang orator menyampaikan kepada ribuan peserta demo bahwa polisi telah mengamankan empat orang peserta demo.

"Kami menuntut polisi untuk membebaskan mereka. Karena mereka diamankan sebelum mengikuti aksi. Kami tidak memusuhi bapak-bapak polisi," ujar salah seorang orator dari pengeras suara.

Melewati batas waktu unjuk rasa, polisi melalui pengeras suara meminta massa untuk membubarkan diri. Saat itu aksi telah berlangsung anarkis. Namun jumlah massa demonstran telah berkurang drastis, hingga sekitar 100-an orang. Situasi makin memanas karena mobil komando dari AJM yang digunakan untuk mengendalikan massa mulai menghilang.

"Kami melihat sendiri, ada banyak penyusup yang terus memprovokasi massa sampai merusak pengeras suara di mobil komando kita. Para penyusup ini juga yang membuat aksi ini menjadi anarkis," tutur M. Yayan, koordinator lapangan AJM saat dikonfirmasi Merdeka.com perihal penyebab kericuhan, usai aksi bubar.

Para koordinator AJM, lanjut Yayan, telah berupaya mencegah adanya penyusup dengan simbol khusus. Para peserta aksi dari 30 elemen yang tergabung dalam AJM, diharuskan memakai pita warna putih dari kain kafan, yang dipasang di lengan kanan.

"Sedangkan para penyusup tadi, sama sekali tidak memakai tanda pengenal. Ini memang susah sekali mencegah penyusup masuk. Tetapi ini akan menjadi bahan evaluasi kami terutama tim keamanan untuk lebih memperketat masuknya penyusup dan provokator," ujar Yayan yang juga mahasiswa di salah satu kampus di Jember ini.

Sejumlah anggota DPRD Jember sempat berupaya memediasi massa yang tersisa hingga malam hari agar membubarkan diri. Sebab, lokasi demonstrasi berada di pusat kota Jember yang merupakan jalur padat sekaligus tempat usaha beberapa warga.

Melewati pukul 20.00 WIB, massa yang tersisa akhirnya membubarkan diri. Mereka memutuskan untuk membubarkan diri untuk mencegah bentrokan dengan kelompok lain. "Tadi ada dua ormas yang mendatangi kami sampai dua kali. Mereka meminta kami bubar. Jumlah massa sebenarnya masih lebih besar kami, tetapi kami antisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan sehingga kami membubarkan diri," papar Yayan.

Merdeka.com sempat berupaya mengkonfirmasi kepada Kapolres Jember, AKPB Aris Supriyadi yang berada di lokasi perihal isu adanya mahasiswa yang diamankan. Namun dia menolak memberikan komentar. Bantahan datang dari Wakapolres Jember, Kompol Windy Syafutra.

"Saya bingung juga informasi dari mana itu. (Sejak pagi hingga malam) tidak ada satupun yang diamankan. Rekan-rekan kan bisa melihat sendiri, tidak ada kita lakukan upaya paksa. Kita hanya persuasif menjaga adik-adik mahasiswa menyampaikan aspirasinya sesuai UU," ujar Kompol Windy.

Namun keterangan polisi itu dibantah oleh AJM. "Terkonfirmasi ada empat orang yang ditangkap polisi. Mereka bahkan diamankan sebelum ikut aksi. Yang terkonfirmasi adalah 2 orang dari mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije). Saat ini tim advokasi kami sedang berada di Mapolres Jember untuk koordinasi," ujar Yayan.

Baca Selanjutnya: Beberapa jam kemudian kabar adanya...

Halaman

(mdk/bal)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami