Terbukti Lakukan Ujaran Kebencian, Dosen USU Dihukum 2 Tahun Percobaan

PERISTIWA | 23 Mei 2019 14:05 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Dosen Universitas Sumatera Utara (USU), Himma Dewiyana Lubis (45), dinyatakan terbukti melakukan ujaran kebencian di halaman Facebooknya. Dia dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan dan denda Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan.

Hukuman terhadap Himma dijatuhkan majelis hakim yang diketuai Riana Pohan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (23/5). Majelis menyatakan Himma terbukti melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia telah sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

"Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan selama 2 tahun dan denda Rp 10 juta. Apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan 3 bulan kurungan," kata Riana.

Hukuman yang dijatuhkan majelis hakim hampir sama dengan tuntutan. Hanya hakim memutuskan tidak menahan dan memberi hukuman percobaan kepada dosen Fakultas Ilmu Budaya USU itu.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tiorida Juliana Hutagaol juga meminta agar Himma dijatuhi pidana 1 tahun penjara dan denda Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan.

Ketua tim penasihat hukum Himma, Rina Melati Sitompul, mengapresiasi putusan majelis hakim. Meskipun majelis tidak sependapat dengan penasihat hukum soal landasan yuridis. "Tapi kita sepaham dalam landasan psikologis," ucap pengacara dari Bantuan Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan.

Rina mengatakan, pihaknya masih mempelajari vonis yang dijatuhkan hakim. "Dengan vonis 2 tahun kita pertimbangkan dulu, kita cooling down dulu. Kita masih pikir-pikir dulu," ucap Rina.

Perkara ujaran kebencian ini terjadi tak lama setelah peristiwa bom Surabaya pada 2018. Dalam dakwaan disebutkan, Himma ditangkap setelah menulis kalimat "Skenario pengalihan yang sempurna #2019GantiPresiden" dan "Ini dia pemicunya Sodara, Kitab Al-Quran dibuang" di laman Facebook-nya. Status itu ditulis di rumahnya, di Kompleks Johor Permai, Gedung Johor, Medan Johor, Medan.

Himma membuat status itu karena merasa kesal, jengkel dan sakit hati atas kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia, karena harga sembako, tarif listrik, dan semua keperluan/kebutuhan sehari–hari pada naik atau mahal.

Padahal Himma sebelumnya sangat mengagung-agungkan Jokowi sebelum menjadi Presiden RI. Dia pun menuliskan "Di mana Janji-janji Bapak Jokowi pada saat kampanye pemilihan Presiden RI tahun 2014."

Postingan Himma menjadi viral di media sosial dan akhirnya sampai ke personel Subdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Sumut pada Kamis (17/5/2018). Penyelidikan dilakukan, Himma pun diamankan dan sempat ditahan. Dia kemudian diadili.

Baca juga:
Polisi Tangkap Pelaku Penyebar Undangan Pengeboman Bareskrim dengan Target Kapolri
Sebarkan Video Provokasi, Koordinator Relawan Prabowo di Aceh Jadi Tersangka
Posting Status Provokatif, Seorang Pria di Sidoarjo Diamankan Polisi
Tersangka Pengancam Penggal Kepala Jokowi Kirim Surat Minta Maaf dan Menyesal
AS Mengaku Sebar Teror Bom Massal di Jakarta karena Handphone Error
Kasus Eggi, Lieus & Hermawan Ditangani Polda Metro, Kivlan dan Haikal di Bareskrim

(mdk/bal)

TOPIK TERKAIT