Teror Sperma di Tasikmalaya Merupakan Fenomena Baru

PERISTIWA | 20 November 2019 11:31 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Rikha Surtika Dewi menyebut bahwa ada fenomena baru saat menelisik kasus pelemparan sperma oleh tersangka SN (25). Hal tersebut dikarenakan tersangka melakukan onani secara langsung dan kemudian menyipratkan spermanya kepada korban.

Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan SN merupakan diluar kebiasaan normal dan terjadi karena masalah yang cukup kompleks.

"Banyak faktor penyebab yang melatarbelakangi perilaku itu. Pertama mungkin karena yang bersangkutan tak memiliki keterampilan interaksi sosial yang cukup baik, sehingga tak bisa membangun relasi pertemanan dengan seusianya," ujarnya, Rabu (20/11).

Namun meski demikian, Rikha mengatakan bahwa dipastikan ada influence negative dari media sosial yang kaitannya dengan konten pornografi. Hal tersebut kemudian menjadikan ia ketika melihat teman sebaya yang memiliki pasangan bahkan menikah, dengan kesenangannya memupuk imajinasi dan menyalurkan hasrat seksualnya dengan hal yang menyimpang.

Dia mengartikan bahwa terjadi hal yang salah dengan kondisi interaksi sosial pelaku SN dengan teman-teman sebayanya. Namun Rikha menyebut bahwa apa yang dilakukan SN adalah fenomena baru karena berani menyelesaikan onani dan melemparkan spermanya kepada para korban.

Rikha menjelaskan bahwa pada eksibisionis biasanya hanya memamerkan alat kelaminnya untuk memancing libido seksualnya. "Reaksi yang diharapkan adalah korban menjerit sehingga pelakunya merasa puas. Namun dalam kasus ini berani sampai selesai," jelasnya.

1 dari 2 halaman

Pelaku Tidak Bisa Menahan Hasrat

Menurut Rikha, kemungkinan besar bahwa pelaku sudah tidak bisa menahan hasrat seksualnya sehingga SN sudah merencanakan tindakannya sejak awal, atau ketika mulai keluar rumah.

"Bisa saja ketika keluar rumah sudah merencanakan mencari mangsa dan menyalurkan hasratnya dengan caranya seperti itu. Namun jika saya perhatikan kategorinya masih eksibisionis, namun dugaan penyimpangan perilaku seksualnya ada," jelasnya.

Ia menyebut bahwa perilaku tersebut tidaklah muncul tiba-tiba, namun ia memerkirakan bahwa SN sudah memelajarinya melalui media sosial. Yang dipelajari sendiri adalah konten-konten yang sifatnya negatif dan di luar kebiasaan umum lainnya.

2 dari 2 halaman

Perilaku SN Bisa Disembuhkan

Walau perilaku SN menjadi fenomena baru dalam eksibisionis, Rikha menyebut bahwa hal tersebut dapat disembuhkan. Apalagi dari informasi yang diterimanya SN masih normal secara kasar mata, atau berarti omongannya tidak melantur.

"Yang terjadi kemungkinan hanya ada kesalahan pola belajar dan mengidentifikasi dirinya dengan lingkungan sosialnya," ungkapnya.

Agar perilakunya kembali normal, dia menyebut bahwa SN harus diperiksa terlebih dahulu kesehatan mental dari sisi kepribadian dan orientasi seksualnya. Dan Rikha menyebut bahwa ada beberapa unsur penting yang akan memengaruhi proses penyembuhan hal tersebut.

"Pertama adalah adanya kemauan diri sendiri untuk berubah, kedua penerimaan dari keluarga, dan ketiga penerimaan lingkungan," sebutnya.

Untuk persoalan keluarga dan lingkungan, ia menyebut bahwa kedua hal tersebut memang harus memberikan motivasi sehingga SN berubah, bukan malah mengucilkannya. Menurutnya, setelah kasus ini muncul, dipastikan ada dampak negatif kepada SN.

"Dari keluarga dan lingkungan pasti menjauhi, dan itu justru akan membuat psikologis pelaku semakin parah. Karena itu penerimaan dari keluarga dan lingkungan akan sangat menentukan. Semoga keluarga dan lingkungan bisa memberikan ruang kepada pelaku untuk memperbaiki diri," tutupnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Polisi Tetapkan Pelaku Pelemparan Sperma Tersangka Pelecehan Seksual
Tiga Kali Beraksi, Pelaku Pelempar Sperma di Tasikmalaya Mengaku Bercanda
Teror Pelemparan Sperma di Tasikmalaya
Ditangkap, Pelaku Penyemprotan Sperma Sempat Akan Diamuk Warga
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelemparan Sperma di Tasikmalaya
Pengakuan Perempuan Korban Pelemparan Sperma di Tasikmalaya

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.