Tersangka Korupsi Impor Baja Pakai HP, Kejagung: Kontak Keluarga & Bukan di Dalam Sel

Tersangka Korupsi Impor Baja Pakai HP, Kejagung: Kontak Keluarga & Bukan di Dalam Sel
Tersangka Korupsi Impor Baja Tahan Banurea. ©2022 Antara
NEWS | 22 Mei 2022 17:31 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) angkat suara terkait beredarnya foto yang menampilkan tersangka Analis Muda Perdagangan Impor, Dirjen Daglu Kemendag, Tahan Banurea yang tengah memegang telepon genggam di dalam mobil tahanan.

Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung) Ketut Sumedana menjelaskan, Banurea diberi kesempatan untuk menghubungi pihak keluarga atas penetapan tersangka dalam kasus korupsi impor besi atau baja tahun 2016-2021.

"Karena begitu itu handphone sebenarnya sudah disita pada saat mereka mau dibawa ke lapas Mereka itu menghubungi keluarganya," kata Ketut saat dikonfirmasi, merdeka.com (22/5).

Menurutnya, komunikasi yang dilakukan Banurea kala itu dilakukan untuk meminta kepada pihak keluarga menyiapkan keperluannya selama berada di tahanan.

"Menyampaikan, bahwa yang bersangkutan akan dilakukan penahanan, sehingga memang mereka menghubungi keluarga untuk dibawakan pakaian, peralatan selama berada di tahanan," jelasnya.

Ketut mengatakan pemakaian telepon genggam yang dilakukan Banurea itu tidak melanggar aturan. Karena dipakai bukan saat dirinya berada di dalam tahanan.

"Hal yang biasa itu. Kecuali mereka ditemukan di sel itu baru tidak bener ya. Iya bukan (di sel), di itu mobil. Mau dibawa ke tahanan," katanya.

"Dan langsung diambil dan disita. Jadi pemberitahuan kepada keluarga itu wajar kalau orang mau dikenakan upaya penahanan, penangkapan itu harus dihubungi keluarganya dalam waktu 1x24 jam," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Kedapatan Gunakan Telepon Genggam

Sebelumnya, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Supardi memastikan bakal menyita ponsel milik Tahan Banurea, tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi impor besi atau baja tahun 2016-2021.

Tahan Banurea merupakan Analis Muda Perdagangan Impor di Direktorat Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Dirjen Daglu Kemendag), yang ditetapkan sebagai tersangka pertama, Kamis, 19 Mei 2022 malam.

"Jadi gini, ponselnya disita," kata Supardi di Gedung Bundar, Jakarta, Kamis malam.

Tersangka Banurea keluar dari Gedung Bundar sekitar pukul 22.54 WIB, langsung dibawa masuk ke dalam mobil tahanan Kejaksaan Agung.

Saat itu, sebelum mobil tahanan melaju ke Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, tersangka kedapatan sedang berbicara melalui sambungan telepon menggunakan ponsel. Tersangka juga tidak diborgol.

Menurut Supardi, tersangka menggunakan ponsel dalam rangka menghubungi pihak keluarganya karena harus menjalani penahanan.

"Ketika dia (Banurea) disini dia ingin menghubungi keluarganya kan. Itu bisa dipersilahkan dulu, bisa dipakai sebentar lalu diambil lagi. Jadi dalam rangka menghubungi keluarga," kata Supardi.

3 dari 3 halaman

Penetapan Tersangka

Tersangka Banurea berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) aktif di Kementerian Perdagangan. Saat ini, dia menjabat sebagai Analis Muda Perdagangan Impor Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag.

Sebelumnya, dia juga pernah menjabat dalam struktural di Kementerian Perdagangan sebagai Kepala Seksi (Kasi) Barang Aneka Industri di Dirjen Perdagangan Luar Negeri.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Ketut Sumedana dalam keterangannya mengatakan peran tersangka dalam perkara ini, yakni saat menjabat sebagai Kasubag TU di Direktorat Impor Dirjen Daglu Kemendag (2017-2018) melakukan urusan kepegawaian, administrasi keuangan, persuratan, kearsipan, dokumen dan rumah tangga direktorat.

Dia juga meregistrasi surat masuk dan keluar dari Direktorat Impor termasuk pemberian nomor surat keluar persetujuan impor (PI) dan surat penjelasan (Sujel) periode 2017.

"Tersangka menerima sejumlah uang Rp50 juta dari Taufiq sebagai imbalan pengurusan Sujel,” kata Ketut.

Saat menjabat menjabat Kasi Barang Aneka Industri Dit Impor Dirjen Daglu Kemendag periode 2018-2020, tersangka Banurea berperan memproses draf persetujuan impor besi baja, baja paduan, dan turunannya yang diajukan pelaku usaha importir.

Setelah ada disposisi Kasubdit Barang Aneka Industri dan Bahan Baku Industri, kemudian Banurea selaku Kasi melakukan pengecekan terhadap permohonan yang masuk serta menyiapkan draf jawaban.

Kasi memberikan paraf pada draf Sujel dan melakukan pengecekan secara berjenjang sampai dengan Direktur kemudian diajukan ke Dirjen Daglu untuk dilakukan pengesahan/tanda tangan, selanjutnya dikirim kepada pelaku usaha/importir.

Tersangka pernah diajak oleh Kasubdit Barang Aneka Industri bernama Moh A untuk mengetik konsep Sujel yang disampaikan secara langsung/lisan oleh Dirjen Daglu Indrasari Wisnu Wardhana (tersangka korupsi ekspor CPO) perihal penjelasan pengeluaran barang.

"Tersangka mengenal dan pernah bertemu dengan BHL karena dikenalkan oleh Almarhum Chandra di Lobby Kemendag tahun 2018," kata Ketut.

Tahan Banurea ditetapkan tersangka berdasarkan Surat Penetapan Tersangka Nomor : TAP – 23 / F.2 / Fd.2 / 05 / 2022 Tanggal 19 Mei 2022.

Penyidik menetapkan tersangka terhadap Tahan Banurea dengan Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP, Subsider Pasal 3 Jo. Pasal 18 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Atau kedua, Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Ketiga Pasal 11 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(mdk/noe)

Baca juga:
Kejagung Sita Ponsel Tersangka Kasus Korupsi Impor Baja Kemendag
Begini Peran Tersangka Kasus Korupsi Impor Baja di Kemendag
Kejagung Tetapkan Eks Pejabat Kemendag Tersangka Korupsi Impor Baja
Kasus Korupsi Impor Baja, Kejagung Periksa Enam Orang Saksi
Kasus Korupsi Ekspor Baja, Kejagung Periksa Eks Kasubag TU Ditjen PLN Kemendag
Kasus Korupsi Impor Baja, Kejagung Periksa Kasubdit Penindakan Ditjen Bea Cukai

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami