Tiga jam beroperasi, pengemis di Sukabumi raup Rp 100 ribu

Tiga jam beroperasi, pengemis di Sukabumi raup Rp 100 ribu
Ilustrasi pengemis. ©shutterstock.com/Polryaz
PERISTIWA | 6 Juni 2014 03:00 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Menjelang Ramadhan, sekitar 20 gelandangan dan pengemis ditangkap saat razia gabungan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Tenaga kerja dan Transmigrasi dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Sukabumi. Razia itu guna menekan angka gelandangan yang membeludak jelang Lebaran.

"Ada 20 gelandangan dan pengemis yang kami tangkap, kegiatan ini rutin kami lakukan khususnya saat menjelang Ramadhan dan Lebaran karena jumlahnya akan membeludak saat mendekati bulan suci umat islam tersebut," kata Kepala Bidang Sosial Dinsosnakertrans Kota Sukabumi, Jumhur, seperti dilansir Antara, Kamis (6/5).

Pada razia rutin ini, gelandangan dan pengemis yang sedang mengemis di beberapa ruas pusat Kota Sukabumi langsung dijaring dan dimasukan ke dalam truk operasional Sat Pol PP dan dibawa ke Kantor Dinsosnakertrans setempat untuk didata. Ternyata mayoritas mereka yang terjaring operasi ini bukan asli warga Kota Sukabumi.

Menurut Jumhur, dari pendataan yang dilakukan oleh pihaknya, ada sekitar 100 gelandangan dan pengemis yang beroperasi di Kota Sukabumi. Sekitar 70 sampai 75 persennya berasal dari luar kota seperti dari Kabupaten Sukabumi dan Cianjur.

Mereka sengaja datang ke Kota Sukabumi, karena hasil dari mengemis cukup menggiurkan. Dari pengakuan beberapa pengemis, baru tiga jam beroperasi mereka sudah mendapatkan uang sekitar Rp 85.000 sampai Rp 100.000.

Bahkan dari banyaknya gelandangan dan pengemis yang ada di Kota Sukabumi, ada beberapa yang masih anak-anak dan balita yang dieksploitasi oleh orangtuanya untuk ikut mengemis. Mereka yang terjaring ini langsung diberikan pengarahan dan pembinaan agar tidak melakukan kegiatan serupa karena selain mengganggu keamanan, dengan banyak gelandangan dan pengemis ini membuat kumuh kota.

"Kami juga berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), agar anak-anak yang menjadi gelandangan atau pengemis bisa ditampung untuk mendapatkan haknya seperti bersekolah dan mereka yang berasal dari luar Kota Sukabumi akan dikembalikan ke daerahnya," tambahnya.

Sementara, salah seorang pengemis Sahudin mengatakan dirinya terpaksa mengemis karena kesulitan mendapatkan pekerjaan paska-amputasi kedua kakinya yang disebabkan kecelakaan lalu lintas. Dia yang merupakan warga Kecamatan Takokak, Cianjur ini mengakui usianya saat ini masih produktif yakni 45 tahun, tapi karena keterbatasannya tersebut Sahudin sulit mendapatkan pekerjaan sehingga terpaksa turun ke jalan untuk mencari nafkah. (mdk/did)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami