Tim KIPI Solo Sebut Efek Samping Vaksin Covid-19, Nyeri hingga Pegal-Pegal

Tim KIPI Solo Sebut Efek Samping Vaksin Covid-19, Nyeri hingga Pegal-Pegal
PERISTIWA | 13 Januari 2021 21:05 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Program vaksinasi Covid-19 di Kota Solo dimulai secara serentak Kamis (14/1) besok. Guna mengantisipasi kemungkinan efek samping yang ditimbulkan, Tim Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) Kota Solo menyiapkan langkah penanganan.

"Itu sebenarnya umum didapatkan pada semua vaksin. Jadi vaksin apapun bisa menimbulkan efek samping. Tetapi efek sampingnya mayoritas efek minimal, minimal sekali. Ini kan vaksinnya jenis vaksin mati. Kalau mati itu, tidak seberat efek samping yang vaksin hidup," ujar Ketua Tim KIPI Dinas Kesehatan Solo, Agus Joko Susanto, Rabu (13/1).

Menurut Agus, untuk vaksin mati biasanya reaksi yang muncul bersifat lokal. Seperti rasa nyeri, kemerahan dan pegal-pegal. Efek samping tersebut, dikatakannya, bisa hilang dalam kurun waktu 1-2 hari setelah penyuntikan.

"Jadi minimum sekali untuk vaksin yang mati. Vaksin Covid ini kan termasuk vaksin yang mati," jelasnya.

Terkait observasi, menurutnya, akan dilakukan selama 30 menit usai pemberian vaksin. Pada proses pemberian vaksin, lanjut dia, ada empat meja yang disiapkan yaitu di meja pertama untuk mengetahui apakah orang tersebut masuk pada daftar.

Kemudian meja dua untuk proses screening. Yakni untuk memastikan apakah calon penerima termasuk kontraindikasi atau tidak. Tahap ini, jelas dia, juga untuk memastikan apakah calon penerima pernah terpapar Covid-19 atau belum.

"Kalau sudah pernah kena Covid-19 itu seharusnya tidak dapat vaksin, karena sudah punya antibodi sendiri. Meja tiga divaksin, kemudian beranjak ke meja empat yaitu pendataan, baru kemudian ke observasi, adakah KIPI-nya," katanya.

Jika sampai terjadi KIPI ringan, kata dia, cukup ke faskes terdekat. Namun jika ada reaksi berat langsung ke RSUD dr Moewardi.

"Kalau tidak ada apa-apa langsung pulang, tetapi kalau ada apa-apa dan bisa mengancam nyawa maka langsung dipondokkan (dibawa ke RS)," jelasnya.

Ia meminta masyarakat jika sudah menerima vaksin agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Pemberian vaksin, menurut dia adalah salah satu upaya untuk mengeliminasi agar Covid-19 hilang.

"Kalau hanya vaksin 'enggak' bisa, protokol kesehatan tetap harus. Pakai masker, menghindari kerumunan, serta meningkatkan imunitas kita. Jangan hanya divaksin terus sudah," tandasnya.

Ia menambahkan, penerapan protokol kesehatan dilakukan hingga ada pembuktian dari sisi epidemiologi terutama dari WHO bahwa Covid-19 sudah tidak mengancam.

"Seperti 100 tahun lalu ada flu melanda Eropa, jutaan orang meninggal. Butuh 2-3 tahun baru bisa dieliminasi, perkiraan saya Covid-19 juga 2-3 tahun," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Besok, Seluruh Kepala Daerah di Banten Disuntik Vaksin Sinovac
2.800 Dokter di Kaltim Mendaftar untuk Vaksinasi Covid-19
Jokowi Anggap Wajar Tangan Dokter Kepresidenan Gemetar Saat Vaksinasi
Alasan Dinkes Sleman Ajak Dr Tirta Vaksinasi Corona, Pernah Viral dan Kontroversial
Jokowi Usai Divaksinasi: Ndak Terasa Waktu Suntik, Setelah 2 Jam Agak Pegal
Jokowi Harap Seluruh Masyarakat Mau Divaksinasi Covid-19

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami