Timbulkan trauma, tes keperawanan masuk TNI harus dihapus

PERISTIWA | 17 Mei 2015 13:12 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Diberlakukannya tes keperawanan bagi kandidat TNI Wanita menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak. Mereka menuntut dihilangkannya tes tersebut sebagai salah satu persyaratan kemiliteran karena dianggap melanggar hak setiap wanita.

Peneliti Indonesia dari Human Rights Watch, Andreas Harsaono mengatakan uji dua jari berarti dokter memasukkan jari-jarinya ke dalam vagina dan anus untuk menentukan apakah selaput daranya masih utuh.

"Pendekatan ilmiah ini mengatakan jika selaput dara berada antara jam 11 dan jam 1, itu berarti disebabkan karena kecelakaan. Tapi jika selaput dara berada di jam 6, berarti dimungkinkan hilang karena tindakan seks," jelas Andreas.

Di sisi lain, Direktur Advokasi Hak Perempuan Human Rights Watch, Nisha Varia mengatakan tes keperawanan yang berbahaya dan memalukan tersebut tidak mempengaruhi kekuatan pengamanan nasional. Oleh karena itu, mereka pun mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk menghapus tes ini.

Sebab, bagaimanapun tes ini dianggap menyiksa, memalukan, dan menimbulkan trauma bagi semua wanita. Tentunya, yang paling penting, tes ini sudah melanggar hak semua wanita di Indonesia maupun di dunia.

"Presiden Joko Widodo harus meluruskan militer dan segera menghapuskan persyaratan itu, dan mencegah semua rumah sakit militer untuk melakukan tes itu," ujar Nisha.

Baca juga:

Pengakuan petugas militer wanita jalani tes keperawanan

Tes keperawanan masuk TNI pakai dua jari menuai kecaman

Rencana tes keperawanan di Indonesia bikin heboh dunia

Eko Patrio: Keperawanan area pribadi, tak usah jadi syarat lulus SMA

Wacana tes keperawanan yang pernah bikin geger

Kontroversi tes keperawanan jadi syarat lulus siswi SMA di Jember

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT