TKW Asal Aceh di Malaysia Disiksa Majikan, Badan Penuh Luka

PERISTIWA | 27 Juli 2019 03:03 Reporter : Liputan6.com

Merdeka.com - Anisa (26) berasal dari Dusun Krueng Tuan, Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara. Pada November 2017 lalu dara ini merantau sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan menjadi pembantu rumah tangga di negeri jiran.

Niatnya untuk membiayai hidup adik-adiknya di kampung setelah sang ayah berpulang. Tiga bulan kemudian, ia sempat mengirimi uang Rp1,5 juta, setelah itu, keluarga tak pernah lagi mendengar kabarnya.

Pada Jumat (19/7) malam, sebuah nomor berkode negara Malaysia tersambung ke telepon genggam salah seorang keluarga di Aceh. Kabar tak sedap pun terbetik dari seberang telepon.

"Sebenarnya ditelepon setelah Jumat, namun tidak saya angkat. Malam baru saya lihat ada nomor seberang menelepon. Yang jawab orang yang tolong dia pertama kali," tutur kakak ipar Anisa, Jefri (35), kepada Liputan6.com, Rabu malam (24/7).

Anisa terisak, suaranya terdengar sengau. Dari seberang sana ia bertutur tentang penyiksaan yang tengah menimpanya sembari megap-megap.

Dalam sebuah video yang diperlihatkan ke tim Liputan6.com, tampak sekujur punggung Anisa berparut. Terdapat luka lepuh pada lengan dan kakinya, sementara di kepala penuh bercak dan lebam, serta beberapa gigi bagian atas tanggal.

Ia disiram dengan air panas, ditonjok, dan dipukul dengan kayu di bagian kepala. Semua dilakukan apabila majikannya itu tak berkenan atau kesal hati dengan hasil kerjaan Anisa.

Perlakuan tak manusiawi didapatnya hampir setiap hari. Ia juga mengaku kerap menjadi objek pelampiasan amarah kala kedua majikannya sedang bertengkar.

Komunikasinya dengan dunia luar pun terputus sama sekali. Sementara upahnya selama bekerja cuma diberi sekali saja.

"Tak bisa dihubungi karena teleponnya dirampas majikan. Makanya dia tak bisa beri kabar," ujar Jefri.

Suatu hari Anisa kabur. Ia bersembunyi dan tidur di atas pohon pada malam hari, lalu melanjutkan pelarian pada siang hari.

Malam itu dengan kondisi gelayaran dia meminta tolong kepada seseorang berkebangsaan India. Ia terpaksa turun dari persembunyian karena lapar dan kehausan.

Orang yang menolongnya berinisiatif membawa Anisa ke kantor polisi. Apa lacur, kedatangan mereka ke kantor polisi malah membawanya kembali ke tangan sang majikan.

"Dibawa ke situ, kembali lagi lah ke majikannya," ucap Jefri.

Anisa bekerja pada Puan Salmi Binti Ar-Rahman Puan Nizam di Kota Rawang, negara bagian Selangor Darul Ehsan, di utara Kuala Lumpur. Infonya, kedua majikan Anisa merupakan anggota dan petinggi Kepolisian setempat.

"Majikannya kepala polisi. Pas diantar lagi ke majikannya, lebih parah lagi lah ia disiksa," kata Jefri.

Lama berselang setelah itu, tiba-tiba majikannya menjanjikan akan memulangkan Anisa ke kampung halaman. Anisa diinapkan ke salah satu hotel kawasan Kajang melalui jasa seseorang yang dikenal sebagai 'datok', Kamis (18/7).

Anisa dibohongi. Dalih diinapkan di hotel kiranya hanya modus majikan durjana untuk membuangnya, karena ia tak kunjung dijemput hingga waktu yang telah dijanjikan.

"Waktu itu memang dibawa ke hotel. Dijanjikan dibawa pulang ke Aceh. Dibilang jam 5 dijemput. Dibayar sewa hotel cuma satu malam. Siang tidak dijemput sampai sore. Pihak hotel kan harus bayar, tidak mau tahu," katanya.

Di tengah kelinglungannya, Anisa bertemu dan tertolong oleh sesama buruh migran berkewarganegaraan Indonesia asal Pulau Jawa. Dari situlah penyiksaan yang dialami Anisa terbeberkan ke publik.

Beberapa warga Aceh yang berdomisili di Malaysia terlibat dalam mendorong kasus ini hingga terdengar ke telinga KBRI Kuala Lumpur (KL). Anisa kini menginap di rumah perlindungan di bawah otoritas kedutaan.

Menurut salah seorang warga Aceh yang ikut mendampingi, Mukhtar Abdullah, kasus ini mulai ditangani oleh KBRI KL sejak Senin (22/7). Anisa sebelumnya sempat menginap di rumah sepupunya di Ampang, Selangor.

"Anisa sewaktu berada di hotel diambil oleh perempuan Jawa dibawa balik ke rumah dia, kemudian di-upload ke Facebook di situlah saya tahu akhirnya saya pergi ke rumah kakak Jawa itu," kata Mukhtar kepada Liputan6.com, Rabu malam (24/7).

Kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh, Alhudri mengatakan, pemerintah Aceh terus melakukan komunikasi dengan KBRI KL. Termasuk mengurus hal-hal yang dibutuhkan Anisa dalam penanganan kasus ini.

"Kita sudah intens dengan orang KBRI. Berkomunikasi terus. Kemarin juga sudah kita WA-kan paspornya ke sana. Diminta dari sini," kata Alhudri.

Alhudri berharap keadilan ditegakkan. Pemberlakuan hukuman terhadap pelaku serta pemenuhan hak terhadap penyintas akan didorong pemerintah Aceh via KBRI KL.

"Kita dorong melalui ke KBRI. Karena enggak benar itu. Kita mana terima itu. Perkara umpamanya soal beliau (Anisa) itu masuknya ke sana, itu urusan lain," tegas Alhudri.

Perkara pemberlakuan hukuman ini juga digarisbawahi oleh Jefri. Ia ingin adik iparnya itu mendapat keadilan, seadil-adilnya.

"Bagaimana cara harus lepas dan segera pulang. Bagaimana ia pergi, sehat, pulang juga mesti sehat. Jangan sampai cacat seumur hidup, nanti sama orang saja jadi takut nanti ketemu. Apalagi dia perempuan," pintanya. (mdk/cob)

Baca juga:
Terpaksa Melahirkan di Malaysia, TKI asal Sumut Berharap Bantuan Pemerintah
Polisi Malaysia Tahan Anggota Dewan Terkait Kasus Dugaan Pemerkosaan TKI
TKI di Malaysia Diduga Diperkosa Anggota Dewan
400 Buruh Migran Asal Banten Terjebak di Timur Tengah
Bayar 135 Ringgit, 81 TKI Dideportasi Mandiri dari Malaysia
TKI di Malaysia Tewas Dimangsa Buaya

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.