TNI AD Usulkan Pengadaan Helikopter Osprey, AW dan Black Hawk

TNI AD Usulkan Pengadaan Helikopter Osprey, AW dan Black Hawk
PERISTIWA | 26 November 2020 22:45 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakan telah mengusulkan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru yang dibutuhkan, termasuk helikopter serbu dan helikopter angkut.

"Bukan hanya helikopter Osprey saja. Dalam (daftar alutsista) yang kami sempat usulkan ada helikopter AW juga dan Black Hawk juga," kata Andika usai meninjau latihan tempur di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan dilansir Antara, Kamis (26/11).

Alutsista tersebut diyakini bisa menambah kekuatan TNI AD. Kendati demikian, TNI AD tak memaksakan untuk pembelian alutsista tersebut mengingat saat ini tengah pandemi COVID-19.

"Tapi, sekali lagi kami siap menerima keputusan apapun karena memang kita sedang berhadapan dengan pandemi," kata Andika.

Melihat karakteristik wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan, kata dia, dibutuhkan lebih banyak helikopter.

"Helikopter angkut tadi, seharusnya kami punya yang lebih besar. Helikopter serang misalnya Apache, kami seharusnya punya lebih banyak, tidak hanya delapan saja," tutur mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ini.

Saat ini, helikopter angkut yang dimiliki oleh TNI AD adalah MI-17. Meski kapasitas angkutnya sudah cukup besar, Andika menilai perlu ada helikopter angkut yang kapasitasnya lebih besar.

"Ada yang lebih besar lagi yang kami perlukan," katanya.

Tetapi, TNI AD menyerahkan keputusan kepada pemerintah dan akan menggunakan alutsista dengan sebaik mungkin. "Dengan yang kami punya. Kami sudah berusaha memaksimalkan dengan menggunakan teknologi terbaru," katanya.

Helikopter MV-22 Osprey menggabungkan keunggulan sebuah helikopter (rotary wing) dengan pesawat terbang (fixed wing). Desain seperti ini dianggap sesuai dengan karakteristik geografis di Indonesia, khususnya di wilayah pedalaman, yang tidak memiliki infrastruktur "runway" memadai untuk mendaratkan pesawat angkut. (mdk/ray)

Baca juga:
Marsekal Pertama Penny Radjendra Ingatkan Pentingnya Penguatan Industri Alutsista
Komisi I DPR Nilai Omnibus Law Membuka Celah Liberalisasi Industri Pertahanan
DPR: Kunker Prabowo ke AS Sangat Dibutuhkan Demi Kerja Sama Alutsista
Jokowi: Ubah Kebijakan Belanja Pertahanan Jadi Investasi
Terima Anggaran Kedua Terbesar di 2021, Kemenhan Diminta Tak Hanya Beli Alutsista

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami